SURYA.CO.ID, KOTA MADIUN - Penangkapan Wali Kota Madiun, Maidi dalam operasi tangkap tangan (OTT) KPK, Senin (19/1/2026), menjadi kejutan di awal tahun 2026.
Penahanan Maidi diduga terkait dengan fee proyek dan dana CSR di wilayah Kota Madiun.
Tidak ada yang menduga sebelumnya bahwa Maidi menjadi salah satu yang diamankan KPK sebelum dibawa ke Jakarta.
Padahal selama ini rekam jejaknya terlihat mulus memimpin Kota Madiun, setelah meraih kemenangan besar pada Pilkada 2024 silam.
Pada Piwali waktu itu, Maidi menggandeng Politisi PSI, F Bagus Panuntun sebagai Wakil Wali Kota Madiun.
Pasangan calon dengan akronim 'Madiun' ini didukung 11 partai politik. Mulai PSI, NasDem, Demokrat, Gerindra, PKB, PKS, PAN, Prima, Gelora, PBB, dan PPP.
Saat mendaftar di KPU Kota Madiun, Rabu (28/8/2024), Maidi yang juga mantan Sekkota Madiun mengusung visi misi pembangunan SDM.
Tidak hanya itu, Maidi dan F Bagus Panuntun mendaftar dengan mengenakan baju warna merah muda, yang disebut sebagai bukti dan tanda cintanya kepada semua warga Kota Madiun.
Kemudian berdasarkan hasil rekapitulasi tingkat kota yang digelar oleh KPU di Hotel Aston Madiun, Rabu (4/12/2024), paslon Nomor Urut 2 itu keluar sebagai pemenang dengan total 65.583 suara.
Jumlah tersebut mengalahkan Bonie Laksmana-Bagus Rizki Dinarwan yang mendapatkan 45.923 suara, dan paslon Inda Raya-Aldi Dwi dengan 5.522 suara.
Dan buntut penangkapan Maidi itu, KPK juga memeriksa sejumlah pejabat di lingkup Pemkot Madiun, salah satunya Sekkota Madiun, Soeko Dwi Hardianto di ruang Unit Pidsus Satreskrim Polres Madiun.
Soeko terlihat mengenakan seragam coklat keluar dari ruangan setelah menjalani pemeriksaan. Saat dikerubungi awak media, Soeko tidak memberikan keterangan apa pun terkait materi pemeriksaan.
Soeko memilih langsung meninggalkan area Polres Madiun, tanpa menjawab pertanyaan mengenai keterkaitannya dengan OTT yang menjerat Wali Kota Madiun.
Sebelumnya Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo yang dihubungi melalui aplikasi pesan singkat membenarkan operasi senyap tersebut.
“Benar, hari ini Senin 19 Januari, tim ada kegiatan penyelidikan tertutup dengan mengamankan sejumlah 15 orang, di wilayah Madiun, Jawa Timur,” ujar Budi.
Ia menambahkan, 9 orang di antaranya dibawa ke Jakarta untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.
“Salah satunya Wali Kota Madiun. Selain itu tim mengamankan barang bukti dalam bentuk uang tunai senilai ratusan juta rupiah,” terangnya.
“Peristiwa tertangkap tangan ini diduga terkait dengan fee proyek dan dana CSR di wilayah Kota Madiun,” tutupnya.
Pantauan SURYA di Balai Kota Madiun, tidak ada aktivitas apa pun padahal Wali Kota Maidi bersama Wakil Wali Kota F Bagus Panuntun dijadwalkan mengikuti apel pagi pukul 07.00 WIB.
Sekadar diketahui, karier Maidi bermula sebagai seorang pendidik. Pria kelahiran 12 Mei 1961 ini mengawali karier profesionalnya sebagai guru Geografi di SMAN 1 Madiun pada periode 1989 hingga 2002.
Dedikasinya di dunia pendidikan membuatnyaa dipercaya menjadi Kepala SMAN 2 Madiun pada tahun 2002.
Namun di tahun yang sama, ia mulai beralih ke dunia birokrasi dengan diangkat sebagai Kepala Bagian Tata Usaha Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Madiun.
Kariernya melesat hingga ia menjabat sebagai Penjabat Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan setahun kemudian.
Keahlian Maidi dalam mengelola administrasi pemerintahan membuatnya dipercaya memegang berbagai posisi strategis di Pemkot Madiun.
Di antaranya Kepala Dinas Pendapatan Daerah pada tahun 2005, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (2006), Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Madiun (2009–2018).
Jabatan Sekda yang diembannya selama hampir 9 tahun menjadi batu loncatan bagi Maidi untuk maju dalam kontestasi Pilkada. Maidi tercatat menjabat sebagai Wali Kota Madiun untuk dua periode, yakni 2019–2024 dan 2025–2030.
Selama menjabat, Maidi dikenal dengan konsep pembangunan Pancakarya. Visi ini bertujuan mewujudkan Madiun sebagai Kota Pendekar (Pintar, mEelayani, membanguN, peDuli, tErbuka, dan KARismatik).
Di daerah yang hanya memiliki 3 kecamatan itu, Maidi membuat terobosan penting selama menjadi wali kota. Di antaranya membuka Pahlawan Religi Center (PRC), sebagai pengembangan infrastruktur ikonik di pusat kota.
Kemudian program Digitalisasi Pendidikan lewat pembagian laptop gratis untuk siswa dan guru, dan Peceland, yaitu pengembangan destinasi kuliner untuk memperkuat identitas daerah. Dan inovasi kesehatan dengan menginisiasi program Pendekar Obat dan Pendekar Waras saat pandemi Covid-19. *****