Curhat Pedagang Pasar Rakyat Jajan 'PRJ' Kota Gorontalo yang Kini tak Dilirik Pembeli
January 19, 2026 10:47 PM

 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo — Begitu gigih perjuangan para pedagang Pasar Rakyat Jajan (PRJ) Kota Gorontalo. Meski tak dilirik pembeli, pedagang di pasar ini, memilih tetap bertahan. 

Alasannya sederhana, mereka tak punya tempat jualan. Sementara berdagang jadi satu-satunya keahlian yang mereka miliki.

Saat didatangi TribunGorontalo.com siang tadi, Senin (19/1/2026), para pedagang ini setia menggelar lapak. 

PRJ berada di kawasan Kota Tua Gorontalo. Secara administratif lokasinya di Kelurahan Biawao, Kecamatan Kota Selatan, Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo. 

Mayoritas pedagang mengeluhkan omzet yang merosot tajam dalam beberapa tahun belakangan. 

Bahkan, kata mereka ada yang hanya membawa pulang belasan ribu rupiah dalam sehari, sementara biaya sewa ruko dengan harga tinggi. 

Pantauan TribunGorontalo.com, Senin (19/1/2026), lorong pasar terlihat lengang sejak sore hari itu. 

Baca juga: Susi Air Buka Lowongan Kerja Januari 2026: Terbuka untuk Lulusan SMA atau SMK

Kursi plastik warna hijau dan oranye tersusun rapi di depan kios, tetapi hampir semuanya kosong. 

Dari sisi kiri pintu masuk, tiang bangunan bercat hijau muda menopang atap seng dengan cat yang mulai kusam dan mengelupas di beberapa bagian. 

Lantai keramik terlihat retak di sudut-sudut lorong, sebagian warnanya memudar karena jarang terinjak pengunjung.

Di sisi kanan, meja panjang berlapis plastik merah berjajar tanpa pembeli. Beberapa kios tampak gelap dengan rolling door setengah tertutup. 

Di depan salah satu kios, termos air panas masih mengepul tipis, tetapi pemilik warung hanya duduk menunggu sambil sesekali menatap pintu masuk pasar.

Lorong tengah pasar nyaris tanpa suara tawar-menawar. Yang terdengar hanya langkah pedagang yang mondar-mandir, serta bunyi kendaraan dari jalan utama yang melintas di luar kawasan Kota Tua.

Apalagi sangat ironis di bagian belakang sama sekali tak ada pembeli hanya pedagang yang menunggu dalam ketidak pastian.

Beberapa lapak pun nampak kosong ditinggal pedagang karena mencari penghidupan di tempat lain. 

Salah satu pedagang, Iin Idi (43), menceritakan kondisi yang ia alami selama beberapa tahun terakhir. 

Ia sudah berjualan di kawasan Kota Tua ini sejak 2014. “Sekarang ini pendapatan sudah jauh sekali turun. Kadang cuma dapat Rp15 ribu, kadang juga tidak dapat apa-apa sama sekali. Pernah buka dari pagi sampai sore, tidak ada satu pun yang beli,” kata Iin lirih. 

Ia awalnya menjual barang kebutuhan harian. Namun karena makin sepi, ia beralih menjual makanan ringan dan gorengan agar bisa bertahan.

“Dulu saya jual barang harian, tapi makin lama makin tidak laku. Orang jarang masuk ke pasar. Jadi saya pindah jual makanan, harapannya bisa lebih cepat laku. Tapi ternyata sama saja, tetap sepi,” ujarnya.

Iin mengatakan biaya sewa ruko di Pasar Jajan Kota Tua mencapai Rp120 ribu per bulan. Angka itu menurutnya berat jika dibandingkan dengan pendapatan saat ini.

“Kalau sepi begini, mau tutup juga bingung, karena sudah terlanjur di sini. Tapi kalau buka juga, sering tekor. Kadang uang hasil jualan tidak cukup untuk bayar sewa, hanya cukup untuk sehari-hari, ” katanya.

Ia mengaku sempat berharap pasar akan ramai setelah dilakukan perbaikan dan penataan.

“Waktu pasar ini diperbaiki, kami semua senang. Pikir kami, mungkin setelah ini banyak orang datang. Tapi sampai sekarang, yang datang tetap sedikit. Banyak orang cuma lewat saja,” ujarnya.

Di kios tak jauh dari tempat Iin berjualan, tepatnya di bagian belakang, ada lapak milik Agus Mohammad yang sudah kosong. 

Pria ini sebelumnya menjual es dan minuman dingin.

“Saya sudah tutup beberapa bulan lalu. Tidak kuat lagi,” kata Agus saat ditemui kembali di kawasan itu.

Menurut Agus, ia sempat mencoba bertahan setelah pandemi, namun jumlah pembeli terus menurun.

“Setiap hari buka, tapi paling cuma dapat beberapa gelas. Kadang tidak cukup untuk beli bahan lagi. Lama-lama rugi terus, jadi saya putuskan berhenti,” katanya.

Ia mengatakan banyak pedagang lain mengalami hal serupa.

“Ada juga yang tutup diam-diam. Awalnya buka, lalu sepi, akhirnya tidak buka lagi. Tinggal kios kosong,” ujarnya.

Pedagang makanan lainnya, Teti Abdullah, sudah berjualan sejak 2015. Di sela-sela menunggu pembeli,  Ia mengatakan kondisi pasar memang terlihat lebih rapi setelah perbaikan, tetapi tidak berdampak besar pada jumlah pengunjung.

“Kalau soal bangunan, memang sudah diperbaiki. Tapi ukuran kios kecil-kecil. Tidak semua orang nyaman duduk lama di sini,” ujarnya.

Menurut Teti, orang yang datang ke kawasan Kota Tua kebanyakan hanya ingin lewat atau hanya sopir yang menunggu penumpang ke Bome Pantai Bone Bolango. 

“Mereka jarang singgah makan. Paling beli satu dua, lalu pergi. Tidak seperti di tempat lain yang ada tempat nongkrong, orang bisa duduk lama,” katanya.

Ia menilai lokasi pasar kurang strategis untuk menarik keramaian.

“Di kota sekarang banyak tempat yang lebih estetik. Orang lebih pilih ke sana. Kalau di sini, suasananya sepi, malam juga cepat habis,” ujarnya.

Seorang pedagang lain menceritakan bahwa sebelum pandemi, kondisi pasar jauh berbeda.

“Dulu kalau lagi ramai, saya bisa dapat sampai Rp2 juta sehari. Sekarang kalau dapat Rp500 ribu saja sudah bagus sekali,” katanya.

Ia mengatakan penurunan terjadi perlahan. Dari mulai corona, banjir bandang hingga perbaikan pasar. 

“Awalnya masih lumayan. Tapi lama-lama makin turun. Sekarang hari biasa paling cuma puluhan ribu sampai seratus ribuan,” ujarnya.

Hasni Abdullah, pedagang makanan dan barang harian lebih miris. Dia mengaku tetap membuka warung setiap hari meski pengunjung sedikit.

“Kadang ada orang mampir, tapi paling satu dua. Tidak menentu,” katanya.

Menurut Hasni, jam ramai hampir tidak ada lagi. Bahkan yang laku hanya rokok tiga batang. 

“Kalau dulu masih ada jam ramai, sekarang tidak jelas. Kadang pagi sepi, siang sepi, sore juga sepi,” ujarnya.

Ia mengatakan beberapa pengunjung datang hanya karena menunggu penumpang kendaraan.

“Mereka datang tunggu mobil, beli minum sedikit, habis itu pergi,” katanya.

Hasni mengaku tetap bertahan karena tidak punya pilihan lain.

“Kalau tutup, mau kerja apa lagi? Jadi kami tetap buka saja, walaupun hasil sedikit,” ujarnya.

Beberapa pedagang juga mengeluhkan kebijakan pemindahan kios saat penataan dilakukan.

Seorang pedagang perempuan menceritakan bahwa sebelumnya ia berada di depan pasar, namun setelah penataan dipindahkan ke belakang semakin sepi. 

“Kami dipindahkan ke bagian belakang. Katanya supaya rapi. Tapi ternyata di belakang lebih sepi lagi,” katanya.

Ia mengatakan penjualan langsung turun drastis setelah pindah.

“Barang dagangan lama habis. Ada yang sampai dua bulan tidak laku. Modal habis, usaha tidak berkembang,” ujarnya.

Menurutnya, banyak pelanggan malas masuk ke bagian belakang pasar.

“Mereka tidak mau naik ke atas atau masuk ke dalam. Jadi lebih banyak yang lewat di depan saja,” katanya.

Harapan Pedagang

Para pedagang berharap pemerintah tidak hanya membangun fisik pasar, tetapi juga menghidupkan aktivitas.

Mereka menyarankan agar pemerintah membuat coffee street seperti di Pasar Sentral untuk menarik pelanggan. 

Amat di lapangan juga terlihat bangunan Pasar Jajan Kota Tua didominasi warna kuning, hijau muda, dan hijau tua. 

Beberapa kios memiliki atap seng dengan rangka besi hitam. 

Di beberapa sudut, cat mulai mengelupas, memperlihatkan lapisan semen di bawahnya.

Di depan kios, ember plastik, termos, dan etalase kecil tertata rapi, namun tidak banyak hasil jualan yang berkurang hingga sore hari.

Di sisi luar pasar, bangunan tua berdinding tebal dengan jendela tinggi masih berdiri, menjadi penanda kawasan bersejarah Kota Tua.

Namun di dalam pasar, suasana terasa kontras, warna cerah bangunan tidak sejalan dengan aktivitas yang minim.

Para pedagang mengaku tidak menuntut banyak, hanya ingin pasar kembali hidup seperti dulu. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.