TRIBUNNEWSSULTRA.COM - Sosok artis senior Diah Permatasari mengaku pernah bertemu dengan karakter Bobby dalam dunia nyata.
Bobby digambarkan Aurelie Moeremans dalam buku Broken Strings yang ditulisnya dan dirilis pada 10 Oktober 2025 lalu.
Buku tersebut ramai diperbincangkan karena berisi kisah nyata Aurelie yang mengalami child grooming.
Diah Permatasari secara tak langsung menjadi saksi bagaimana awal karier Aurelie dengan sinetron Magic.
Magic merupakan sinetron yang tayang sekitar tahun 2013 lalu di saluran televisi.
Pada era tersebut, Aurelie comeback dalam industri hiburan namun telah dipersunting Bobby.
Meski pernikahan keduanya sudah dibantah oleh Aurelie, karena tidak sah.
Saat mengambil pekerjaan lagi, Aurelie pun berperan dengan sejumlah bintang tanah air.
Termasuk Diah Permatasari. Dari pengakuan Diah, ia sempat bertemu dengan Bobby.
Baca juga: Aurelie Moeremans Cari Keadilan usai 16 Tahun Lalu Alami Child Grooming, Sudah Siapkan Pengacara
Bahkan Bobby langsung memperkenalkan dirinya dan menyebut ia telah menikah dengan Aurelie.
Hal tersebut sontak membuat Diah Permatasari kaget.
Karena mengingat, Aurelie yang masih sangat muda.
Diah menceritakan momen pertemuannya dengan Bobby kala hadir sebagai bintang tamu di acara Rumpi No Secret Trans TV episode Senin (19/1/2026).
Selama syuting, Diah mengaku tak menyadari peristiwa kelam yang menimpa Aurelie, sebagaimana yang terungkap dalam Broken Strings. Menurutnya, Aurelie adalah sosok anak muda yang pendiam.
Sementara itu, Diah dikenalkan dengan Aurelie melalui sosok pria yang diduga adalah Roby Tremonti.
Sosok Roby inilah yang dikait-kaitkan dengan karakter Bobby dala, buku Broken String.
Roby juga merupakan aktor senior yang diduga pelaku child grooming.
“Waktu itu sih yang cowoknya yang memperkenalkan diri ke saya, waktu itu kita lagi break makan siang,” ucap Diah Permatasari/
Diah sempat kaget, karena melihat Aurelie yang masih sangat remaja namun dipersunting pria yang lebih tua.
“Saya lihat Aurelie-nya masih kecil banget, masih kecil banget, masih polos, polos banget. Syutingnya pakai seragam SMA kan.”
“Saya terkejut sama pengakuan si laki-laki tersebut (pengakuan sudah menikah dengan Aurelie).”
Namun, Diah tak mengulik jauh persoalan tersebut.
“Saya hanya jawab Oh.. Oh yang panjang gitu. Saya pikir memang begitu, memang sudah menikah,” tutur Diah menceritakan momen tersebut.
Kala itu, Diah hanya melihat Aurelie dan lelaki tersebut layaknya pasangan pada umumnya.
Dia tak merasakan adanya kekerasan yang dialami Aurelie.
Setelah membaca sebagian isi buku Broken Strings, Diah baru dihadapkan dengan kenyataan. Dia baru memahami alasan sikap Aurelie yang selalu tertutup.
“Ya setelah kejadian ada buku ini saya baru bener-bener notice. Saya sempat membahas sama suami juga ternyata ada yang seperti ini,” ujar Diah.
Kejadian inipun membukakan mata Diah Permatasari. Sebagai ibu, dia kerapkali mengingatkan anak-anaknya tentang bahaya manipulasi.
“Itu dia, jadi ini semua itu jadi suatu pembelajaran. Saya punya anak cowok 2, saya jadi lebih aware. Karena anak saya kan laki-laki, saya selalu menekankan ‘jangan pernah memperlakukan pacar kamu seperti ini, jangan memanipulasi’,” kata Diah.
Menurutnya, edukasi tentang child grooming ataupun hubungan dengan manipulasi bukan hanya untuk anak perempuan. Diah berharap anak-anak lelakinya bisa bersikap baik ketika menjalin hubungan dengan siapapun.
“Ini bener-bener, saya harus sering mengingatkan sama anak-anak saya. Seorang lelaki itu kan harus gentle man, kamu harus memperlakukan perempuan itu sebaik mungkin jangan sampai ada kekerasan.”
“Kalau kamu sudah ga cocok, ga suka itu disampaikan baik-baik. Kata-kata itu kan bisa menyakitkan ya, ya jangan sampai melakukan itu.”
“Kita sebagai ibu, kita ga punya anak perempuan tapi sebetulnya sama saja loh. Kadang-kadang kita harus mengikuti insting kita loh,” papar Diah Permatasari. (*)
Aurelie Moeremans Siap Ungkap Kembali Kasus Child Grooming Dialaminya 16 Tahun Lalu
Broken String bukan sekedar buku, namun juga penuh makna mendalam dari kisah seorang Aurelie kecil.
Kala usianya masih 15 tahun, ia harus menelan pil pahit bertemu dengan pria dewasa yang membawanya ke jurang kehidupan.
Aurelie diduga mengalami child grooming kala itu. Di usianya yang sangat belia, dirinya tak mengerti apa yang sedang dialaminya.
Barulah belasan tahun berlalu, Aurelie menyadari bahwa hal tersebut tak sepatutnya dialaminya.
Kini, Aurelie memiliki kesempatan besar untuk mencari keadilan hukum di Indonesia.
Buku tersebut tak hanya mendapat perhatian publik, namun juga Anggota DPR RI, Rieke Diah Pitaloka.
Ia hendak membuka isu child grooming ini agar mendapat perhatian pemerintah.
Anggota Komisi XIII itu, secara tegas membawa dan menyoroti isu child grooming (pemikatan seksual pada anak) ke tingkat parlemen.
Hal ini karena, responnya terhadap pengakuan aktris Aurelie Moeremans dalam buku e-book "Broken Strings" pada Januari 2026.
Tak lama setelah sikapnya di parlemen membahas child grooming, ternyata Rieke Diah Pitaloka sudah melakukan komunikasi dengan Aurelie Moeremans.
"Kita membahas soal KUHP baru, dimana ada beberapa pasal yang bisa dikaitkan untuk penegakan hukum child grooming," jelas Rieke, dikutip dari YouTube Cumicumi, Senin (19/1/2026).
Ia pun terang-terangan memberikan dukungan atas perjuangan Aurelie, terkait kasus kekerasan yang pernah dialami pada 16 tahun silam.
Disampaikan Rieke, Aurelie sudah siap untuk mengambil langkah hukum atas peristiwa yang dialaminya 16 tahun laluo.
Ia dengan tegas menyatakan siap untuk melanjutkan kasus dan mengambil langkah tegas.
"AM (Aurelie Moeremans) sudah menghubungi saya secara pribadi, InsyaAllah kita akan sama-sama memperjuangkan. Saya tanya 'Nak apakah kamu siap untuk melanjutkan ini' beliau menjawab 'siap'."
"Dan 'apakah berani jika ada hal-hal lain yang dilakukan bersama?' AM mengatakan juga berani," jelas Rieke lagi.
Tak sekedar itu, Aurelie juga telah mempersiapkan kuasa hukum dari Indonesia.
Di mana nantinya, kuasa hukum Aurelie akan mengurusi soal perkara child grooming.
Pihak keluarga Aurelie pun sangat setuju dengan langkahnya.
Terlebih kedua orangtua Aurelie, yang setuju agar isu child grooming ini diperjuangkan.
Hal ini tak terlepas dari upaya menyelamatkan sejumlah korban-korban lainnya yang mengalami peristiwa serupa.
"Saya juga sudah diberi nomor kontak kuasa hukumnya yang di Indonesia dan keluarga sudah berkomunikasi. Mereka mengatakan meskipun ini peristiwa yang terjadi sekitar 16 tahun yang lalu bukan berarti perjuangan kami selesai, karena tidak ingin ada AM, AM yang lain," tutup Rieke lagi.
Saat tahun 2014, Aurelie Moeremens pun sudah berjuang untuk hidupnya yang mengalami child grooming.
Child grooming merupakan aksi manipulasi psikologis yang disengaja, di mana pelaku membangun kepercayaan, kedekatan emosional, dan ketergantungan pada anak, dengan tujuan mengeksploitasi emosional, psikologis hingga seksual.
Namun perjuangannya tersebut belum membuahkan hasil.
Sampai pada akhirnya, Aurelie memilih diam terlalu lama.
Ia lantas mengemban trauma berat atas insiden demi insiden yang dialaminya.
Namun kini, melalui buku yang ditulisnya berjudul Broken String, kesempatannya mendapat keadilan terbuka lebar.
Aurelie merilis buku tersebut pada 10 Oktober 2025.
Aktris yang kini menetap di Amerika ini, menulis kisah kelam masa lalunya itu dalam sebuah memoar Broken String.
E-book-nya pun dibagikan secara gratis dan viral.
Dampaknya kini isu child grooming turut menjadi sorotan anggota DPR RI Rieke Diah Pitaloka.
Anggota DPR yang dulunya berprofesi sebagai aktris ini, ingin mengangkat terkait penegakan hukum atas aksi child grooming.
Aurelie Moeremans Terima Banyak Aduan dari Korban Child Grooming
Istri dari Tyler Bigenho ini, mengaku menerima banyak pesan aduan dari para korban grooming.
Pesan itu ia terima dari direct message (DM) Instagram pribadinya, @aurelie.
Wanita 32 tahun itu, mengaku kaget karena pesan itu jumlahnya sangat banyak.
Hal itu ia sampaikan dalam channel Instagram pribadinya pada Sabtu (17/1/2026).
"Setiap aku buka DM, aku selalu kaget.
Ternyata benar ya, sebanyak ini orang yang pernah mengalami child grooming, dan selama ini mereka simpan sendiri," tulis Aurelie.
Lalu, ia menyebut, isu child grooming di Indonesia masih dinilai tabu.
Terlebih perjuangannya dulu bersuara setelah jadi korban grooming pada 2014 hingga 2020, nampaknya tidak pernah membuahkan hasil.
"Topik ini masih tabu di Indonesia.
Aku tau, karena aku pernah coba speak up.
2014, aku diserang.
2020, aku coba lagi, tipis-tipis, nothing.
Dan sekarang, 2026, walaupun niat awalnya cuma journaling, akhirnya didengar tanpa victim blaming yang masif," tegas Aurelie.
Wanita yang tengah mengandung anak pertamanya itu, mengungkap alasan kuat mem-publish buku Broken String.
Tidak lain untuk memberi dukungan pada para korban, seperti dirinya.
"Buku ini aku berani publish bukan karena aku paling kuat, tapi karena aku gak mau ada satu orang pun yang merasa sendirian, atau merasa semua ini salah mereka."
Di akhir, Aurelie juga berpesan untuk para korban child grooming yang sudah berani bersuara.
"Terima kasih sudah ada, sudah berani cerita, dan saling jaga.
Kadang aku pengen banget bisa meluk kalian satu-satu." tutupnya. (*)
(Tribunnews.com/Ayu)(TribunnewsSultra.com/Desi Triana)(Grid.id)