TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Ketua Umum Asosiasi Lembaga Keuangan Mikro (LKM) dan LKM Syariah (LKMS) Indonesia (Aslindo), Burhan menyampaikan, industri perlu mewaspadai sejumlah faktor yang dapat memengaruhi kinerja pada 2026.
Menurut dia, LKM perlu mewaspadai banyaknya pinjaman online (pinjol) ilegal dan judi online (judol) yang makin marak, risiko terjadinya fraud, serta lemahnya pengawasan internal.
"LKM juga perlu mewaspadai tata kelola dan kompetensi sumber daya manusia (SDM) yang lemah," katanya kepada Kontan, Jumat (16/1).
Burhan menekankan, seluruh LKM harus bisa membaca tantangan, ancaman, dan kendala di wilayah masing-masing.
Dalam menumbuhkembangkan industri LKM, dia menambahkan, Aslindo selalu aktif dalam menyampaikan informasi-informasi yang sangat dibutuhkan LKM/LKMS untuk penguatan bisnis.
Ia menyebut, perlu adanya sejumlah upaya dari LKM untuk mendorong kinerja pada 2026. Hal itu antara lain bisa dilakukan LKM dengan menempatkan SDM yang bisa mengerjakan operasional LKM dengan baik.
Selain itu, Burhan juga berharap seluruh LKM bisa bergabung dengan Aslindo dan bersedia didorong untuk belajar tentang tata kelola yang baik.
"Aslindo juga berupaya untuk melakukan komunikasi kepada para LKM, serta siap mendorong mereka untuk bisa maju dan mengembangkan bisnis," bebernya.
Berdasarkan data industri, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, penyaluran pinjaman LKM per September 2025 sebesar Rp 950 miliar. Jika ditelaah, angka itu terkontraksi 8,65 persen dibandingkan dengan posisi akhir 2024 mencapai Rp 1,04 triliun.
OJK juga mencatat nilai aset LKM per September 2025 sebesar Rp 1,44 triliun. Sejalan dengan kinerja pinjaman, aset LKM pada periode laporan itu juga mengalami kontraksi sebesar 14,8 persen dibandingkan dengan posisi per Desember 2024 mencapai Rp 1,69 triliun. (Kontan/Ferry Saputra)