Laporan wartawan TribunBanten.com Ade Feri Anggriawan
TRIBUNBANTEN.COM, TANGERANG - Anak dari pilot pesawat ATR 42-500 yang jatuh di wilayah Maros, Sulawesi Selatan, mengungkapkan kesaksian terkait komunikasi terakhir sang ayah sebelum penerbangan.
Ia mengaku tidak ada firasat apa pun yang dirasakan keluarga menjelang kejadian nahas tersebut, termasuk dari sang ayah yang tampak seperti biasa.
Pria bernama Bisma Aviantara (29) itu juga mengatakan, sebelum lepas landas, ayahnya sempat menghubungi sang ibu melalui sambungan telepon.
Percakapan singkat itu, kata dia, berisi kabar dan salam untuk keluarga, tanpa menunjukkan tanda-tanda kekhawatiran, hingga akhirnya menjadi komunikasi terakhir sebelum pesawat mengalami kecelakaan.
Baca juga: “Kami Hanya Bisa Menunggu”: Pengakuan Anak Pilot Korban Jatuhnya Pesawat ATR di Maros
"Biasanya bapak kalau sebelum berangkat dan setelah landing itu ya biasanya telepon ke ibu, untuk info saja kalau dia mau berangkat atau sudah landing di tempat tujuan," katanya saat ditemui di kediamannya di Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, Senin (19/1/2026).
"Dan di hari itu juga sama, seperti biasa saja. Tidak ada pesan-pesan tambahan atau sebagainya. Cuma ya bilang mau berangkat kerja," tambah Bisma.
Lebih lanjut dirinya mengungkapkan bahwa setelah mendapat telepon dari sang ayah tersebut, pihak keluarga tidak merasakan firasat apa pun.
Sampai pada akhirnya, keluarga mendapat panggilan dari pihak maskapai bahwa pesawat yang diterbangkan sang ayah telah hilang kontak.
"Jadi setelah telepon (pamit berangkat) itu, ibu saya ya hanya menunggu kabar saat bapak landing saja. Cuma waktu ditunggu memang kok tidak landing-landing," katanya.
"Sampai akhirnya sekitar jam 15.00 WIB dari Indonesia Air Transport bilang kalau pesawat bapak hilang kontak," jelas Bisma.
Mendengar kabar tersebut, lanjut dia, keluarga masih berupaya untuk berpikir positif bahwa tidak terjadi apa-apa pada ayahnya.
Namun lanjut dia, sesaat setelah informasi tersebut, keluarga mendapatkan informasi lanjutan dari televisi yang menyatakan bahwa pesawat telah jatuh.
"Waktu nonton di TV itu kita cukup terkejut, kaget. Cuma ya kita berharap tinggi saat itu mungkin ada kesalahan teknis atau apa, dan juga ada pendaratan darurat dan sebagainya," kata Bisma.
"Setelah itu kita update terus perkembangan informasinya, dan ternyata memang pesawat yang diterbangkan bapak itu jatuh," jelasnya.
Terlebih lanjut dia, dua hari setelahnya pihak keluarga kembali mendapatkan kabar bahwa ada beberapa jenazah yang diduga korban kecelakaan pesawat itu berhasil ditemukan.
"Maka tadi pagi ibu dan kakak saya berangkat ke Makassar untuk melakukan pencocokan DNA dengan jenazah yang ditemukan," ucap Bisma.
Hingga kini, dirinya mengaku belum mendapatkan informasi terbaru perihal hasil pencocokan DNA yang dilakukan oleh ibu dan kakaknya.
"Sampai sekarang belum ada informasi terbaru, kami masih coba update terus juga," kata dia.
Diketahui sebelumnya, pesawat ATR 42-500 milik maskapai Indonesia Air Transport dikabarkan jatuh saat sedang melintas di wilayah Maros, Sulawesi Selatan, pada Sabtu (17/1/2026).
Pesawat tersebut diterbangkan oleh seorang pilot bernama Kapten Andy Dahananto, yang merupakan warga Tigaraksa, Kabupaten Tangerang.
Tercatat sebanyak 10 orang menjadi korban dalam kecelakaan tersebut, yang terdiri atas tujuh awak pesawat dan tiga penumpang dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, yang diketahui sedang dalam misi pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan melalui udara.
Hingga kini, proses pencarian dan identifikasi korban masih terus dilakukan oleh tim SAR gabungan, TNI-Polri, serta tim DVI, meski menghadapi tantangan berat berupa medan terjal dan cuaca yang berubah-ubah.