Sosok Pilot Andy Dahananto di Mata Keluarga, Janji Pulang ke Rumah Mau Kulineran: Tanggal 4 Februari
January 20, 2026 05:44 AM

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Suasana duka mulai menyelimuti keluarga Capt Andy Dahananto ketika kabar mengejutkan datang di tengah langit berkabut wilayah Pangkep–Maros, Sulawesi Selatan.

Informasi tersebut diterima istri Capt Andy pada Sabtu (17/1/2026) sekitar pukul 01.30 Wita siang.

Seorang rekan kerja sang suami di Makassar tiba-tiba menghubungi dan menyampaikan kabar yang sama sekali tak pernah terlintas di benaknya.

Pesawat ATR 42-500 yang dipiloti Andy dikabarkan hilang kontak saat terbang dari Yogyakarta menuju Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar.

Kabar itu diterima saat sang istri sedang berada di tempat kerja.

Peristiwa tersebut kemudian diceritakan oleh anak tiri Andy, Zalsabilla Zahra Nadya Maharani.

"Teman papa di Bandara Hasanuddin nelfon ke mama, ngasih kabar kalau pesawat papa hilang dari radar. Mama posisinya lagi kerja saat itu," jelas Zalsabilla kepada Tribun-Timur.com, Minggu (18/1/2026) sekitar pukul 21.50 Wita malam.

Belakangan, pesawat yang membawa 10 orang tersebut diduga mengalami kecelakaan.

Lokasi dugaan insiden berada di kawasan Gunung Bulusaraung, yang terletak di perbatasan Kabupaten Pangkep dan Maros.

Informasi awal yang diterima sang ibu di Sorowako, Kabupaten Luwu Timur, segera diteruskan kepada Zalsabilla.

Saat menerima kabar itu, Zalsabilla mengaku dirinya tengah berada di rumah.

Baca juga: Sosok Farhan Gunawan, Co-Pilot Pesawat ATR 42-500 yang Jatuh di Maros-Pangkep, Rekam Jejaknya Moncer

PESAWAT JATUH - Foto terakhir Capt Andy Dahananto (kanan) bersama istri (tengah) dan anak tirinya Zalsabilla Zahra Nadya Maharani (kiri), sebelum insiden pesawat ATR 42-500 yang hilang kontak saat perjalanan dari Yogyakarta menuju Makassar, Sabtu (17/1/2026).
PESAWAT JATUH - Foto terakhir Capt Andy Dahananto (kanan) bersama istri (tengah) dan anak tirinya Zalsabilla Zahra Nadya Maharani (kiri), sebelum insiden pesawat ATR 42-500 yang hilang kontak saat perjalanan dari Yogyakarta menuju Makassar, Sabtu (17/1/2026). (Tribun Timur)

Masih diliputi rasa tidak percaya, sang ibu kemudian berupaya mencari kepastian.

Ia menghubungi pimpinan Indonesia Air Transport, maskapai tempat Capt Andy bekerja.

Langkah itu dilakukan untuk memastikan kebenaran informasi mengenai pesawat yang hilang kontak.

"Terus setelah itu, mama coba klarifikasi sama atasan papa, dan jawabannya memang benar pesawatnya hilang dari radar," ungkap Zalsabilla.

Setelah mendapat kepastian tersebut, sang ibu diminta segera menuju Bandara Internasional Sultan Hasanuddin dan sejak Minggu subuh sudah menunggu di sana bersama tante setelah berangkat berdua naik bus dari Sorowako.

Pertemuan Terakhir

Aktivitas kerja yang tinggi, membuat Andy jarang bertandang ke rumahnya di Sorowako.

Apalagi, menurut Zalsabilla, ayahnya dipercaya mengantar Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono saat sedang menjalankan tugas.

"Papa itu jarang pulang karena harus standby di Bandara Halim. Karena kalau Menteri Kelautan yang mau terbang, harus papa yang nyetir," bebernya.

PILOT PESAWAT - Capt Andy Dahananto (kanan), pilot pesawat ATR Indonesia Air Transport yang dilaporkan hilang kontak di wilayah Leang-Leang, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Sabtu (17/1/2026). Andy Dahananto diketahui menjabat sebagai Direktur Operasi Indonesia Air sejak Juni 2019 dan merupakan lulusan Juanda Flying School angkatan 1987. (Indonesia Air)

Baca juga: Sosok Andy Dahananto Pilot Pesawat ATR 42-500 yang Hilang Kontak di Maros, Puluhan Tahun Mengabdi

Kendati demikian, Zalsabilla tetap mengenal Andy sebagai sosok ayah yang sangat perhatian kepada setiap anaknya.

Ia masih ingat, kala melahirkan, ayahnya masih meluangkan waktu di sela-sela kerja, demi menanyakan proses persalinannya.

"Papa orangnya perhatian banget sama anaknya. Momen yang masih saya ingat, waktu aku melahirkan papa video call terus nanya kabar. Padahal dalam situasi lagi kerja," terangnya.

Menurutnya, sebelum insiden ini terjadi, ia sempat bertemu dengan ayahnya pekan lalu di Sorowako.

Saat itu, ayahnya berjanji untuk pulang ke rumah, Rabu 4 Februrari mendatang.

Zalsabilla menambahkan, setiap pulang ke rumah, ayahnya selalu mengajak keluarganya untuk makan di luar.

"Papa suka sekali kulineran jadi kalau pulang pasti ngajak makan di luar. Makanan favorit papa itu sop buntut," aku Zalsabilla.

Zalsabilla pun meminta doa kepada masyarakat, agar ayahnya ditemukan dalam kondisi selamat.

Sekaligus berterima kasih kepada tim SAR yang berjibaku mencari keberadaan ayahnya dengan crew dan penumpang lainnya.

Diketahui, Capt Andy Dahananto merupakan satu diantara tujuh crew yang terdata dalam manifest pesawat ATR 42-500.

Crew lain, diantaranya Co-Pilot Farhan Gunawan, FOO Hariadi, EOB Restu Adi P, EOB Dwi Murdiono, FA Florencia Lolita, dan FA Esther Aprilita S.

Sementara penumpang yang terdata ialah Deden, Ferry, dan Yoga.

Pos Ante Mortem

Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes) Polda Sulsel menyiagakan Pos Ante Mortem menyusul insiden pesawat ATR 42-500.

Pos Ante Mortem disiapkan di Dokkes Polda Sulsel, Jalan Kumala, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar.

Tim Disaster Victim Identification (DVI) terlihat bersiaga di lantai dua gedung tersebut dengan mengenakan rompi ungu sebagai identitas tim.

Posko dioperasikan oleh 12 personel Tim DVI di bawah komando Kabid Dokkes Polda Sulsel, Kombes Pol dr Muhammad Haris, Mars, QHIA.

Penyiagaan dilakukan sebagai langkah antisipasi untuk mendukung proses identifikasi korban apabila diperlukan.

Muhammad Haris berharap seluruh kru dan penumpang dapat ditemukan dalam kondisi selamat.

Namun demikian, Pos Ante Mortem tetap disiagakan sebagai bagian dari prosedur penanganan.

“Semoga seluruh kru dan penumpang masih selamat. Namun jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, kami telah menyiapkan posko di Biddokkes,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Pos Ante Mortem berfungsi untuk pengumpulan data diri korban, sementara Pos Post Mortem disiapkan untuk pemeriksaan jenazah.

Seluruh proses identifikasi dilakukan sesuai prosedur DVI yang berlaku.

“Ante mortem untuk pendataan korban, sedangkan post mortem untuk pemeriksaan jenazah,” jelasnya.

Selain menyiagakan pos dan personel, Biddokkes Polda Sulsel juga menyiapkan empat unit ambulans untuk mendukung operasi kemanusiaan.

Koordinasi terus dilakukan dengan tim SAR gabungan guna memperoleh perkembangan terbaru di lapangan.

(Tribunnewsmaker.com/ TribunTimur)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.