Chat Terakhir Esther Aprilita Pramugari Pesawat ATR 42-500, Kabari Ortu, Ibu Pilu: Berharap Mukjizat
January 20, 2026 05:44 AM

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Esther Aprilita Sianipar diketahui sebagai salah satu pramugari yang bertugas di Pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT).

Pesawat tersebut mengalami kecelakaan dan dilaporkan jatuh di kawasan Pegunungan Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, pada Sabtu, 17 Januari 2026.

Peristiwa nahas itu menyisakan duka mendalam bagi keluarga korban, termasuk keluarga Esther.

Esther Aprilita Sianipar berasal dari Bogor, Jawa Barat, dan dikenal sebagai pribadi yang berdedikasi dalam pekerjaannya.

Hingga saat ini, Esther belum ditemukan sejak Pesawat ATR 42-500 dinyatakan hilang kontak sebelum akhirnya diketahui jatuh.

Ayah Esther, Adi Saputra, telah berada di Makassar untuk mengikuti perkembangan pencarian putrinya.

Ia tiba di kota tersebut sebagai bagian dari proses identifikasi korban.

Pada malam sebelumnya, Adi Saputra telah menjalani pengambilan sampel DNA di RS Bhayangkara Makassar.

Langkah tersebut dilakukan untuk memudahkan proses identifikasi apabila korban ditemukan.

Sementara itu, ibunda Esther, J Siburian, mengungkapkan bahwa ia masih sempat berkomunikasi dengan putrinya sehari sebelum kejadian.

Ia mengaku masih berkirim pesan atau chat dengan Esther pada Jumat, 16 Januari 2026.

Dalam komunikasi tersebut, Esther mengabarkan bahwa dirinya sedang berada di Yogyakarta untuk menjalankan tugas penerbangan.

"Chat terakhir hari Jumat malam. Kami masih chatting. Dia bilang dia di Jogja. Biasanya kalau seperti itu komunikasinya aku sudah di sini mah, di sini mah," ujar J Siburian.

Baca juga: Firasat Pilu Ayah Esther Aprilita Pramugari Pesawat ATR: Tiba-tiba Minta Maaf Sebelum Terbang!

PESAWAT JATUH - Pramugari Esther Aprilita Sianipar. Esther merupakan korban pesawat pesawat ATR 42-500 yang diduga jatuh di Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, Sabtu (17/1/2026).
PESAWAT JATUH - Pramugari Esther Aprilita Sianipar. Esther merupakan korban pesawat pesawat ATR 42-500 yang diduga jatuh di Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, Sabtu (17/1/2026). (Tribun Timur)

Namun, keesokan harinya, Esther tidak lagi memberikan kabar kepada keluarganya.

Adi Sianipar, ayah Esther, juga mengaku tidak mendapat balasan pesan dari putrinya satu hari setelah komunikasi terakhir.

"Terakhir komunikasi kemarin saya jam 12 WA (WhatsApp) dia karena saya lagi ke Jakarta. Dia kan kos di Jakarta jadi saya mau jemput dia kalau dia mau pulang. Ternyata jam 12 itu enggak ada balasan dari dia, HP-nya udah enggak aktif," pungkas Adi.

Kekhawatiran keluarga semakin besar setelah tidak ada tanda-tanda komunikasi dari Esther.

Hingga akhirnya pada Sabtu sore, Adi menerima kabar resmi dari perusahaan tempat putrinya bekerja.

Pihak Indonesia Air Transport menyampaikan bahwa pesawat yang ditumpangi Esther dilaporkan hilang kontak.

"Kami berharap masih ada mukjizat karena sampai jam sekarang [Minggu (18/1/2026) pagi] kan belum ditemukan. Kami berharap mereka semua ditemukan dalam keadaan selamat," jelas Adi.

Keluarga Korban Datangi RS Bhayangkara

Tim Disaster Victim Identification (DVI) Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes) Polda Sulawesi Selatan (Sulsel) mulai melakukan pemeriksaan DNA terhadap keluarga korban pesawat ATR 42-500.

Proses ini dilakukan untuk memastikan identitas korban secara akurat melalui prosedur antemortem.

Pantauan Tribun Timur, Senin (19/1/2026) pukul 11.42 WITA, beberapa keluarga korban telah mendatangi pos ante mortem yang disiapkan di Biddokkes Polda Sulsel, Jalan Kumala, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar.

Setiap keluarga terlihat menjalani prosedur pengambilan sampel DNA dengan pendampingan penuh oleh tim DVI.

Posko tersebut dioperasikan oleh 12 personel Tim DVI dan berada di bawah komando langsung Kabid Dokkes Polda Sulsel, Kombes Pol dr Muhammad Haris, Mars, QHIA. 

Penyiagaan ini dilakukan sebagai langkah antisipasi guna mendukung proses identifikasi korban apabila diperlukan.

Muhammad Haris menegaskan harapan agar seluruh korban dapat ditemukan dalam kondisi selamat.

Sebagai antisipasi, Pos Ante Mortem tetap disiagakan guna mendukung proses identifikasi.

PESAWAT JATUH - Tim SAR Gabungan menunjukkan serpihak pesawat ATR 42-500 diisekitar lokasi kecelakaan jatuhnya pesawat naas tersebut di wilayah Taman Nasional Bantimurung-Bulsaraung Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Minggu (18/1/2026).
PESAWAT JATUH - Tim SAR Gabungan menunjukkan serpihak pesawat ATR 42-500 diisekitar lokasi kecelakaan jatuhnya pesawat naas tersebut di wilayah Taman Nasional Bantimurung-Bulsaraung Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Minggu (18/1/2026). (Dok./BPBD Makassar dan INDONESIA-AIR.COM)

Baca juga: Sosok 2 Pramugari Pesawat ATR 42-500, Esther Aprilita dan Florencia Lolita Masih Dievakuasi di Maros

“Semoga seluruh kru dan penumpang masih selamat. Namun jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, kami sudah menyiapkan posko di Biddokkes,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Pos Ante Mortem berfungsi untuk pengumpulan data diri korban.

Sementara Pos Post Mortem disiapkan untuk pemeriksaan jenazah. 

Seluruh proses identifikasi akan dilakukan sesuai prosedur DVI yang berlaku.

“Ante mortem untuk pendataan korban, sedangkan post mortem untuk pemeriksaan jenazah,” terangnya.

Ayah Dwi Murdiono Korban Pesawat ATR 42-500: Saya Nunggu di Makassar Sampai Anak Saya Ditemukan

Wajah lelah tak mampu disembunyikan Bambang Muchwanto. 

Ia memilih menetap sementara di Makassar demi menunggu kepastian nasib sang anak. 

Dwi Murdiono diketahui menjadi salah satu korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport.

Bambang, ayah Dwi Murdiono, menempuh perjalanan panjang dari Kota Malang bersama anak ketiganya, Tarmizi. 

Ia berangkat sejak siang hari setelah menerima kabar bahwa putranya tercatat sebagai salah satu korban pesawat.

Setibanya di Makassar sekitar pukul 20.00 WITA, Bambang langsung menjalani proses pengambilan sampel DNA di Pos Ante Mortem pada Minggu (18/1/2026) malam. 

Pos tersebut berlokasi di Dokkes Polda Sulsel, Jalan Kumala, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar.

Bambang juga menunggu perkembangan informasi kecelakaan pesawat di kawasan Gunung Bulusaraung.

“Saya berangkat dari rumah siang tadi, sampai di Makassar malam. Saya nunggu di sini dulu, sampai anak saya ditemukan,” ujar Bambang dengan suara lirih saat ditemui di Dokkes Polda Sulsel.

Kabar awal mengenai Dwi Murdiono ia terima dari seorang teman. 

Sekitar pukul dua siang, Sabtu (17/1/2026), seorang rekannya mengabarkan bahwa Dwi salah satu korban pesawat ATR.

Sejak saat itu, Bambang terus menunggu kabar baik.

Ia berharap sang anak dapat ditemukan dalam kondisi selamat.

“Setelah itu saya cuma bisa nunggu. Semoga anak saya selamat,” katanya.

Namun harapan itu dibayangi kecemasan ketika Bambang kembali mendapat informasi agar segera berangkat ke Makassar untuk keperluan identifikasi korban. 

Bambang tak sanggup meninggalkan Makassar meski telah menjalani proses pencocokan DNA. 

Ia memilih bertahan sambil menunggu kepastian nasib sang putra.

“Kita belum tahu apa-apa. Tapi maunya sampai anak saya ketemu. Percuma datang jauh-jauh kalau cuma ambil sampel DNA,” ucapnya.

Dwi Murdiono merupakan anak sulung dari empat bersaudara. 

Di antara keempat anaknya, hanya Dwi yang memilih mengikuti jejak sang ayah menekuni dunia penerbangan sebagai engineer pesawat. 

Bambang mengaku telah pensiun dari profesinya sejak pandemi Covid-19. 

Kini, ia hanya bisa memanjatkan doa agar tim SAR segera menemukan putranya dan memberi kepastian atas penantian panjang tersebut, apa pun hasilnya.

“Saya cuma ingin anak saya ditemukan,” ucapnya sembari mengenang sosok putranya.

(TribunNewsmaker.com/ TribunTimur)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.