TRIBUN-SULBAR.COM, PASANGKAYU – Erosi parah akibat perubahan aliran sungai pascapembangunan bendungan di Dusun Harapan Baru, Desa Kaluku Nangka, Kecamatan Bambaira, Kabupaten Pasangkayu, berdampak ke Tempat Pemakaman Umum (TPU).
Dalam kurun waktu lebih dari satu tahun terakhir, puluhan kuburan warga dilaporkan hilang terbawa longsoran tanah akibat erosi menggerus bantaran sungai.
Kondisi ini menimbulkan duka mendalam sekaligus keresahan bagi masyarakat setempat, terutama keluarga yang memiliki anggota dimakamkan di lokasi tersebut.
Baca juga: Kades Bambu Tersangka Kasus Proyek Fiktif, Dinas PMD Mamuju Siapkan Plt
Baca juga: Kades Kaluku Nangka Pasangkayu Emosi, Bendungan Rp6 M Picu Erosi Setahun Daratan Hilang 10 Meter
Pantauan Tribun-Sulbar.com di lokasi, Senin (19/1/2026), menunjukkan kondisi TPU sangat memprihatinkan.
Sejumlah makam tampak berada tepat di bibir tebing sungai dengan jarak hanya beberapa puluh sentimeter dari longsoran.
Beberapa nisan terlihat miring, sementara sebagian lainnya sudah retak dan hampir roboh akibat pergerakan tanah di bawahnya.
Di bagian bawah tebing, bekas longsoran terlihat jelas membentuk dinding tanah yang curam.
Lapisan tanah yang sebelumnya menopang area pemakaman telah tergerus hingga ke dasar sungai.
Akar pepohonan yang ikut terangkat tampak menggantung di udara, menandakan tanah penyangga sudah tidak lagi stabil.
Kepala Desa Kaluku Nangka, Nurdin, mengatakan ancaman terhadap TPU telah berlangsung cukup lama dan semakin parah dalam setahun terakhir seiring meningkatnya intensitas erosi.
“Dalam lebih dari setahun ini, sudah sekitar puluhan kuburan warga yang hanyut bersama longsoran tanah. Ada yang terbawa arus, ada juga yang runtuh ke sungai saat tanah di bawahnya amblas,” ujar Nurdin kepada Tribun-Sulbar.com.
Ia menyebutkan, sebagian tulang-belulang dari kuburan yang hanyut sempat ditemukan warga di sepanjang aliran sungai.
Baca juga: Akibat Bendungan, Erosi Parah di Desa Kaluku Nangka Pasangkayu Gerus Kebun Warga
Kondisi tersebut sangat memukul perasaan keluarga almarhum sekaligus menjadi bukti nyata betapa parahnya kerusakan yang terjadi.
“Warga pernah menemukan tulang-belulang di sungai. Itu diduga kuat berasal dari kuburan yang longsor. Kami sangat prihatin karena ini menyangkut penghormatan terakhir terhadap orang-orang yang telah meninggal,” katanya.
Selain kuburan yang sudah hanyut, masih banyak makam lain yang kini berada dalam kondisi sangat rawan.
Beberapa makam bahkan terlihat berada tepat di atas tebing tanpa penyangga tanah yang memadai.
Jika terjadi hujan deras atau kenaikan debit air sungai, dikhawatirkan longsoran susulan akan kembali terjadi dan menyeret makam-makam tersebut.
Salah satu warga Desa Kaluku Nangka, Irma, yang ditemui Tribun-Sulbar.com pada Selasa (20/1/2026), mengaku hanya bisa pasrah saat mengetahui kuburan keluarganya ikut hanyut akibat longsor.
“Kuburan keluarga saya sudah hanyut. Mau bagaimana lagi, kami hanya bisa pasrah. Setiap hujan, kami selalu cemas, takut kuburan yang lain menyusul,” ungkap Irma dengan nada sedih.
Ia berharap pemerintah segera memberikan perhatian serius terhadap kondisi tersebut agar tidak semakin banyak makam warga yang hilang dan menambah penderitaan masyarakat.
Menurut warga, sebelum pembangunan bendungan, area TPU tersebut relatif aman dan tidak pernah mengalami longsor parah.
Namun, sejak aliran sungai berubah, erosi terus menggerus daratan secara perlahan hingga akhirnya mengancam area pemakaman.
Pemerintah desa mengaku belum mampu melakukan penanganan secara maksimal karena keterbatasan anggaran.
Oleh karena itu, Kepala Desa Kaluku Nangka berharap pemerintah daerah hingga pemerintah provinsi segera turun tangan melakukan penanganan darurat, termasuk penguatan tebing sungai dan evaluasi menyeluruh terhadap pembangunan bendungan.
Langkah cepat dinilai sangat mendesak untuk mencegah hilangnya lebih banyak kuburan serta menjaga keselamatan dan ketenangan batin warga yang terdampak.(*)
Laporan wartawan Tribun-Sulbar.com, Taufan