Unggah Gambar AI Tancapkan Bendera AS di Greenland, Ancaman Caplok Wilayah Kian Nyata
January 21, 2026 03:30 AM

TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memicu kontroversi setelah membagikan gambar hasil kecerdasan buatan (AI) yang menampilkan dirinya menancapkan bendera Amerika Serikat di Greenland.

Melalui akun Truth Social, Trump mengunggah gambar AI yang memperlihatkan dirinya bersama Wakil Presiden JD Vance dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio berpose di Greenland dengan bendera Amerika Serikat berkibar.

Dalam gambar itu, terlihat papan bertuliskan “Greenland – wilayah AS didirikan tahun 2026”.

Aksi simbolik itu dilakukan di tengah meningkatnya ketegangan diplomatik antara Washington, Denmark, dan negara-negara Eropa terkait ambisi Trump untuk mengambil alih wilayah otonom Denmark tersebut.

Sejumlah analis menilai unggahan gambar AI dan tekanan ekonomi Trump sebagai bentuk eskalasi strategi politik yang menggabungkan simbolisme digital, ancaman ekonomi, dan retorika keamanan.

Dengan memanfaatkan teknologi AI dan narasi nasionalisme ekstrem, Trump dinilai tengah menguji batas diplomasi internasional.

Sekaligus mengirim sinyal bahwa ambisinya terhadap Greenland bukan sekadar wacana, melainkan bagian dari strategi geopolitik jangka panjang Amerika Serikat.

Tak berhenti di situ, Trump juga membagikan gambar AI lain yang menunjukkan dirinya berada di Ruang Oval bersama sejumlah pemimpin Eropa, sembari memperlihatkan peta dunia di mana Greenland, Kanada, dan Venezuela tampak tertutup bendera Amerika Serikat.

Dalam gambar tersebut terlihat sosok Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni, Presiden Prancis Emmanuel Macron, serta Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen.

Langkah Trump dipandang sebagai bentuk provokasi terbuka di tengah upaya agresifnya mendorong penguasaan Greenland.

Baca juga: Gagal Raih Nobel, Trump Buka-bukaan soal Ambisi Caplok Greenland

Trump Makin Agresif

Presiden AS itu berulang kali menyatakan bahwa Amerika Serikat harus mengambil alih Greenland demi alasan keamanan nasional, dengan dalih mencegah Rusia atau China memperluas pengaruh mereka di kawasan Arktik yang strategis dan kaya sumber daya.

Bahkan untuk merealisasikan ambisinya Trump tak segan mengancam akan mengenakan tarif tinggi terhadap Denmark, Inggris, dan negara-negara Eropa lain jika tidak menyetujui rencananya.

Ia mengumumkan rencana tarif 10 persen atas seluruh barang Eropa yang masuk ke AS mulai 1 Februari, yang akan meningkat menjadi 25 persen mulai 1 Juni apabila tidak tercapai kesepakatan terkait Greenland.

Trump: Rencana Caplok Greenland Tak Akan Dapat Perlawanan

Meski tindakan Trump menuai kontroversi, namun Presiden Amerika Serikat itu menyatakan keyakinannya bahwa rencana untuk mengambil alih Greenland tidak akan menghadapi perlawanan kuat dari Eropa.

Dalam pernyataannya kepada wartawan, Trump mengklaim para pemimpin Eropa “tidak akan banyak menentang” langkah tersebut karena, menurutnya, Greenland merupakan kepentingan strategis vital bagi keamanan nasional Amerika Serikat.

Trump berulang kali menegaskan bahwa Washington membutuhkan kendali atas Greenland, terutama untuk mencegah pengaruh Rusia dan China di kawasan Arktik yang semakin strategis.

Ia juga kembali meragukan kemampuan Denmark dalam melindungi wilayah otonom tersebut.

“Denmark tidak dapat melindungi Greenland,” ujar Trump, seraya menambahkan bahwa pejabat Denmark jarang hadir langsung di pulau itu.

Pernyataan tersebut langsung menuai bantahan keras dari pemerintah Denmark dan otoritas Greenland.

Kopenhagen menegaskan bahwa Greenland adalah bagian sah dari Kerajaan Denmark dan status tersebut dilindungi oleh hukum internasional.

Pemerintah Denmark juga menolak klaim Trump bahwa negaranya tidak mampu menjaga keamanan wilayah Arktik, serta menekankan komitmennya bersama NATO untuk menjaga stabilitas kawasan.

Sikap serupa disampaikan pemerintah lokal Greenland. Para pejabat di wilayah otonom itu kembali menegaskan bahwa Greenland tidak untuk dijual dan menuntut agar Amerika Serikat menghormati kedaulatan serta integritas teritorial mereka.

Pemerintah Greenland menilai pernyataan Trump mencederai prinsip penentuan nasib sendiri dan berpotensi memperkeruh hubungan diplomatik di kawasan.

Ketegangan ini memperpanjang daftar polemik terkait ambisi Trump terhadap Greenland, di tengah meningkatnya persaingan geopolitik global di wilayah Arktik.

Sejumlah pengamat menilai keyakinan Trump bahwa rencananya tidak akan ditentang justru berisiko memicu respons diplomatik dan keamanan yang lebih keras dari Eropa, sekaligus menguji soliditas hubungan Amerika Serikat dengan sekutu-sekutunya.

(Tribunnews.com / Namira)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.