TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA - Wilayah Provinsi Bali dilanda angin kencang sejak dua hari terakhir bahkan sempat terjadi angin puting beliung.
“Masyarakat perlu mewaspadai angin kencang. Angin kencang dapat disebabkan oleh adanya pertumbuhan awan konvektif seperti Cumulonimbus (Cb),” ujar Prakirawan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar, Desak Made Pera Rosita Dewi, Selasa 20 Januari 2026.
Ia menambahkan saat ini di sekitar wilayah Bali terdapat belokan angin dan konvergensi yang dapat meningkatkan potensi pembentukan awan ini. Angin maksimum yang tercatat oleh Stasiun Meteorologi Ngurah Rai pada Senin 19 Januari 2026 kemarin, adalah 41 knots atau 76 kilometer per jam.
“Pada Senin (19 Januari 2026) kemarin, angin kencang paling intensif terjadi di wilayah selatan Bali mencapai 41 knots atau 76 kilometer per jam. Sementara, angin kencang masih berpotensi di sebagian besar wilayah Bali untuk tiga hari ke depan,” ungkapnya.
Baca juga: Cuaca Ekstrem, Dua Sepeda Motor Tertimpa Pohon Tumbang di Seraya Barat Karangasem
Di mana angin kencang ini dapat meningkatkan ketinggian gelombang laut di sekitar perairan Bali.
Masyarakat dan pegiat wisata bahari diharapkan mewaspadai tinggi gelombang laut mencapai 2 meter di perairan Utara Bali dan mecapai 4 meter di perairan Selatan Bali.
Cuaca hujan disertai angin kencang yang melanda wilayah Denpasar pada Selasa 20 Januari 2026, memicu insiden sebuah tiang lampu penerangan jalan berornamen hias tumbang di Jalan Bypass Ngurah Rai Kota Denpasar.
Peristiwa yang terjadi tepatnya di Median Asrama Prajaraksaka arah menuju Simpang Siur Dewa Ruci ini sempat melumpuhkan arus lalu lintas bagi kendaraan roda empat dan hanya bisa dilalui pengendara roda dua.
Tiang yang berukuran cukup besar tersebut melintang tepat di badan jalan, memaksa para pengendara mobil berhenti total, sementara pengendara sepeda motor harus mengantre panjang untuk melewati celah sempit di pinggir jalan.
Kasatlantas Polresta Denpasar, Kompol Yusuf Dwi Admodjo, menyampaikan bahwa pihaknya telah menerjunkan personel ke lokasi sesaat setelah menerima laporan kejadian.
Meski tiang tersebut menghalangi jalur utama, pihak kepolisian tidak bisa langsung mengevakuasi material secara sembarangan.
“Kami berkoordinasi dengan pihak PLN untuk mematikan aliran listriknya terlebih dahulu. Kami tidak ingin mengambil risiko karena sangat berbahaya, takutnya ada arus listrik yang masih mengalir (nyetrum),” ujar Kompol Yusuf saat dihubungi Tribun Bali.
Ia menjelaskan, proses evakuasi atau penggeseran tiang baru dilakukan setelah pihak PLN memastikan area tersebut aman dari risiko sengatan listrik.
Sementara itu, cuaca ekstrem melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Karangasem pada Selasa dini hari 20 Januari 2026.
Hujan lebat yang disertai angin kencang menyebabkan sebuah pohon berukuran besar tumbang, dan merusak kendaraan milik warga di Banjar Dinas Pesiatin Kaler, Desa Seraya Barat, Kecamatan Karangasem.
Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 02.00 Wita.
Pohon jenis santen dengan panjang sekitar 25 meter dan diameter kurang lebih 80 sentimeter roboh dan menimpa bangunan garasi warga.
Akibatnya, dua sepeda motor yang terparkir di dalam garasi mengalami kerusakan.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karangasem, Ida Bagus Ketut Arimbawa menyampaikan, satu unit sepeda motor berhasil dievakuasi dari lokasi kejadian, sementara satu unit lainnya sempat tertahan di bawah timbunan batang pohon.
Kendaraan yang berhasil diamankan yakni Honda Grand dengan nomor polisi DK 4124 FBU, sedangkan Yamaha Jupiter MX DK 4792 SL mengalami kerusakan cukup parah.
Petugas BPBD bersama unsur terkait baru dapat melakukan penanganan pada pagi hari sekitar pukul 10.30 Wita.
“Proses evakuasi melibatkan perangkat desa, kepala dusun setempat, pemilik kendaraan, serta unsur TNI dan Polri,” ungkap Arimbawa.
Tidak ada korban jiwa maupun luka dalam kejadian tersebut, namun kerugian material diperkirakan mencapai Rp 10 juta.
Selain di Desa Seraya Barat, kejadian serupa juga dilaporkan terjadi di Banjar Dinas Kangin, Desa Seraya Timur.
Pohon tumbang di lokasi tersebut sempat menutup badan jalan dan menghambat aktivitas warga. Setelah dilakukan pembersihan, akses jalan kembali dapat dilalui secara normal.
BPBD Karangasem mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan, khususnya saat hujan deras disertai angin kencang, mengingat potensi bencana hidrometeorologi masih cukup tinggi dalam beberapa waktu ke depan.
Sementara itu, dikonfirmasi secara terpisah mengenai fenomena ini, Prakirawan Cuaca Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah IIi Denpasar, Brian Eko Permadi menyampaikan, angin kencang yang melanda wilayah Penyaringan, Jembrana disebabkan oleh adanya belokan angin dan konvergensi.
“Hal tersebut meningkatkan potensi pembentukan awan konvektif di sekitar wilayah Bali. Angin kencang dan angin puting beliung biasanya timbul akibat adanya awan konventif seperti awan Cumulonimbus (Cb),” jelasnya, Selasa 20 Januari 2026.
Ia menambahkan selain itu, saat ini wilayah Bali sudah memasuki musim hujan yang juga meningkatkan potensi pertumbuhan awan-awan konvektif.
Dan mengenai hujan lebat disertai angin kencang yang melanda wilayah Denpasar dan sekitarnya pagi tadi juga disebabkan dua fenomena.
“Hujan dengan intensitas sedang-lebat disertai angin kencang yang terjadi pagi ini disebabkan juga oleh belokan angin dan konvergensi di wilayah Bali. Cuaca seperti ini masih akan terjadi hingga 3 hari ke depan,” ungkap Brian.
Masyarakat diminta untuk selalu waspada akan adanya perubahan cuaca signifikan dan selalu update informasi cuaca di kanal media BBMKG Wilayah III Denpasar.
Sementara itu, di wilayah Kabupaten Badung, juga dilanda cuaca ekstrem beberapa hari terakhir.
Namun Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Badung memastikan tidak ada gagal panen yang terjadi.
Mengingat saat ini untuk diwilayah Badung bayak petani yang sedang melakukan pengolahan tanah kembali untuk ditanami padi.
“Kita bersyukur saat cuaca yang tidak menentu ini, kita di Badung sudah mengakhiri masa panen. Sehingga saat ini petani sedang melakukan olah tanah yang membutuhkan air,” ujar Kadisperpa Badung I Wayan Wijana, Selasa 20 Januari 2026.
Pihaknya mengaku saat ini sejumlah petani di beberapa subak di Badung ada yang sudah menanam padi dan ada yang baru mengolah lahan.
Meski terjadi musim hujan namun dinilai belum mempengaruhi penanaman padi yang dilakukan.
Namun berkaca dari tahun 2025 lalu gagal panen malah terjadi karena hama tikus.
Bahkan pihaknya menyebutkan dari 9 ribu hektar lebih sawah yang ada di Badung, Disperpa mencatat sudah ada 49,57 hektare sawah yang diserang hama tikus.
Hal itu pun sesuai hasil pendataan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) serangan tikus menyebabkan gagal panen seluas 49,57 hektar yang tersebar dibeberapa wilayah di Badung.
Disebutkan di kecamatan Mengwi luas wilayah yang terserang hama tikus yakni 24 hektar, Abiansemal 12,4 hektar, dan Petang 13 hektare.
“Meski terjadi gagal panen, namun kita sudah melakukan beberapa upaya salah satunya mendorong subak untuk mengadakan gerakan pengendalian tikus, bantun pestisida racun tikus dan perlindungan asuransi,” bebernya.
Lebih lanjut pihak mengimbau petani untuk menjaga kebersihan saluran irigasi agar tidak menjadi sarang tikus.
Bahkan dalam pembersihan aliran sungai, pihaknya juga akan memberi bantuan subak mesin pemotong rumput.
“Jadi gagal panen kemarin mempengaruhi produksi gabah kering kita di Badung. Namun penurunan tidak signifikan. Bahkan masih bisa memenuhi kebutuhan masyarakat di Badung,” kata dia. (zae/mit/gus)
Pengempon Pura Gelar Upacara Pengulapan
Pengempon Pura Manik Tirtha di Desa Timuhun, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung, berencana menggelar upacara pengulapan sebagai rangkaian penyucian pascabencana tanah longsor yang melanda kawasan pura tersebut.
Bencana longsor terjadi pada Minggu 18 Januari 2026, setelah hujan deras mengguyur wilayah setempat sejak pagi hingga malam hari.
Kondisi pura baru diketahui keesokan harinya saat warga melakukan pengecekan.
Akibat kejadian itu, tiga pelinggih utama dilaporkan mengalami kerusakan berat dan tertimbun material tanah, yakni Pelinggih Sapta Patala, Pelinggih Angrurah Agung, dan Pelinggih Taman.
Kerugian material diperkirakan mencapai sekitar Rp 150 juta.
Sebagai langkah awal pemulihan, pengempon pura memprioritaskan pelaksanaan upacara Pengulapan sebelum dilakukan penataan dan perbaikan fisik bangunan.
Upacara tersebut direncanakan digelar menjelang pelaksanaan wali atau piodalan yang dijadwalkan pada 25 Maret 2026.
Sejalan dengan rencana tersebut, Tim Urusan Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Klungkung telah melakukan peninjauan ke lokasi pura untuk melihat langsung dampak kerusakan akibat longsor.
Hasil peninjauan menunjukkan, akses menuju pura tergolong cukup sulit karena berada di bawah tebing, sehingga menyulitkan penanganan menggunakan alat berat.
Perwakilan Tim Urusan Agama Hindu Kemenag Klungkung, Wayan Winda Kusuma, mengatakan pembersihan awal akan dilakukan secara gotong royong oleh masyarakat setempat sambil menunggu penanganan lanjutan dari instansi terkait.
“Proses pembersihan awal akan dilakukan melalui kegiatan gotong royong masyarakat setempat sambil menunggu penanganan lanjutan,” ujar perwakilan tim, Wayan Winda Kusuma usai peninjauan pada Selasa 20 Januari 2026.
Dari sisi dukungan, Kementerian Agama Kabupaten Klungkung juga berencana mengalokasikan bantuan awal sekitar Rp 50 juta guna mendukung proses pemulihan pura.
Bantuan tersebut akan diajukan melalui mekanisme proposal yang disiapkan oleh pihak pengempon. (mit)