Kondisi Pramugari Florencia Usai Pesawat Jatuh, Ditemukan Seragam Tersangkut di Pohon Pegunungan
January 21, 2026 03:03 PM

TRIBUNJAMBI.COM – Setelah melalui proses pencarian yang penuh tantangan, satu lagi korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 yang jatuh di kawasan Pegunungan Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, akhirnya ditemukan oleh tim SAR gabungan.

Korban diketahui merupakan seorang pramugari bernama Florencia Lolita Wibisono. Perempuan berusia 32 tahun itu ditemukan dalam kondisi meninggal dunia dengan keadaan yang mengenaskan, tersangkut di dahan pohon di tepi jurang kawasan pegunungan.

Diketahui Florencia ditemukan pada Senin (19/1/2026), atau dua hari setelah pesawat naas tersebut mengalami kecelakaan pada Sabtu (17/1/2026). Lokasi penemuan berada di area yang sangat curam, dengan kedalaman sekitar 500 meter dari puncak Gunung Bulusaraung.

Anggota Tim Arai Sulawesi Selatan, Saipul, menjadi orang pertama yang menemukan jasad korban kedua dalam peristiwa jatuhnya pesawat ATR 42-500 tersebut. Saat itu, Saipul tengah melakukan penyisiran di sekitar lokasi puing-puing pesawat.

Jasad Florencia tampak tersangkut di sela-sela dahan pohon pada lereng yang terjal. Di tubuh korban masih melekat sebuah nametag, yang kemudian menjadi petunjuk awal identitasnya.

Baca juga: Bansos PKH dan BPNT Cair Januari 2026 Khusus Warga Jambi, Cek Penerimanya Cekbansos.kemensos.go.id

Baca juga: Bupati Pati dan Tim 8 Sempat Buat KPK Kesulitan untuk OTT, Sudewo Kini Borong Status 2 Tersangka

Jejak Jatuh dari Ketinggian

Proses pencarian korban dilakukan dalam kondisi medan yang sangat berat. Tim SAR harus berhadapan dengan kabut tebal, hujan, jalur licin, serta jarak pandang yang terbatas, sehingga pencarian dilakukan dengan sangat hati-hati.

Saipul menyusuri area sekitar puing pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT). Sekitar pukul 14.00 WITA, ia melihat sejumlah kejanggalan di lokasi yang berjarak sekitar 100 meter dari titik ditemukannya bagian kepala pesawat.

“Korban kedua ditemukan sekitar jam dua siang. Posisinya kurang lebih 100 meter sebelum titik kepala pesawat,” ujar Saipul, dikutip dari Kompas.com, Selasa (20/1/2026).

Kecurigaan Saipul muncul setelah ia melihat sejumlah pohon yang patah serta bebatuan yang berserakan di lereng. Kondisi tersebut mengisyaratkan adanya benda berat yang jatuh dari ketinggian.

Berdasarkan firasat tersebut, Saipul memperluas area pencarian ke sisi kanan jalur. Dugaan itu pun terbukti ketika ia menemukan sesosok jasad di jurang pegunungan Bulusaraung.

“Saya menduga masih ada korban, lalu saya menyisir ke lereng sebelah. Di situlah saya menemukannya,” jelasnya.

Kondisi Korban Saat Ditemukan

Dari jarak tertentu, jasad korban terlihat dalam posisi tengkurap dan tertahan di dahan pohon. Saipul tidak langsung mendekati lokasi dan memilih menunggu kedatangan personel SAR lainnya demi keamanan.

Setelah tim Basarnas dan relawan tiba di lokasi, mereka bersama-sama memastikan bahwa korban berjenis kelamin perempuan. Sebuah nametag yang masih terpasang dengan jelas pada pakaian korban menjadi petunjuk identitas awal.

“Nametag-nya masih utuh dan bisa terbaca,” ungkap Saipul. Ia menyebut nama yang tertulis adalah Florencia, meski saat itu belum dapat memastikan identitas secara resmi.

Menurut Saipul, kondisi korban menunjukkan tanda-tanda kuat akibat jatuh dari ketinggian. Tubuh korban tertahan di pohon pada lereng terjal, sementara kaki kanannya mengalami patah.

Saat ditemukan, Florencia masih mengenakan seragam hitam pramugari ATR 42-500, celana jins, serta sepatu kets berwarna hitam.

Proses Evakuasi yang Sulit

Untuk sementara waktu, jasad korban ditutup menggunakan plastik sambil menunggu kantong jenazah tiba di lokasi. Setelah itu, jenazah dimasukkan ke dalam kantong mayat sebelum dilakukan proses evakuasi.

Evakuasi dilakukan menggunakan sistem tali, dengan menarik jasad korban menuju jalur utama pendakian sebelum dibawa turun. Kondisi medan yang ekstrem dan kabut tebal membuat penggunaan helikopter tidak memungkinkan.

Jenazah korban sempat diamankan dengan cara digantung di pohon di lokasi tertentu sambil menunggu proses evakuasi lanjutan yang direncanakan dilakukan pada hari berikutnya.

Sebelumnya, pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport dilaporkan hilang kontak saat hendak melakukan pendaratan di Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar, pada Sabtu siang, 17 Januari 2026.

Pesawat tersebut diketahui membawa total 10 orang, terdiri dari tujuh kru pesawat dan tiga penumpang yang merupakan pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Hingga kini, dua jenazah telah berhasil ditemukan dan dievakuasi dari lokasi kejadian. Sementara itu, tim SAR gabungan masih terus melanjutkan proses pencarian dan evakuasi terhadap korban lainnya di kawasan pegunungan Bulusaraung.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.