Kisah Warga Mangkang Wetan Semarang, Jembatan Hanyut Kini Tiap Hari Menyeberang Pakai Getek
January 21, 2026 06:12 PM

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Pemandangan tak biasa tampak di aliran Sungai Bringin, kawasan Kelurahan Mangkang Wetan, Kecamatan Tugu, Kota Semarang, Rabu (21/1/2026).

Puluhan kendaraan terparkir rapi di sebuah tenda tepi sungai, sementara aktivitas warga terlihat hilir mudik tanpa henti.

Mulai dari anak-anak sekolah hingga para pekerja dengan beragam usia, mereka menyeberangi sungai bergantian. Bukan menggunakan jembatan atau setidaknya perahu. Mereka melintasi sungai menggunakan getek rakit yang terbuat dari sisa-sisa kayu.

Sudah sekitar lima hari terakhir, getek hasil swadaya warga itu menjadi penghubung utama antara wilayah Mangunharjo dan Mangkang Wetan dengan Kampung Tambaksari.

Baca juga: Video Tanggul Sungai Bringin Semarang Jebol, Puluhan Rumah Warga Terendam Banjir

Terlihat seadanya, namun rakit kayu tersebut menjadi urat nadi aktivitas warga setelah jembatan darurat yang ada di wilayah Mangkang Wetan hanyut terbawa arus sungai Beringin pada Jumat pekan lalu.

Satu di antara warga, Sunipah (60) melintas dari Mangkang Wetan menuju Kampung Tambaksari.

Selama hampir sepekan terakhir, ia mengaku terpaksa menggunakan getek untuk menyeberangi sungai karena akses jembatan tidak bisa dilalui.

Perempuan paruh baya yang sehari-hari berdagang udang mentah di Pasar Karangayu itu berangkat ke pasar sejak pukul 01.00 dini hari WIB dan baru kembali ke rumah sekitar pukul 12.30 siang. 

"Jane wedi (sebenarnya takut). Nak pas rob gede ngono iku banyune kan banter, Mbak 'Ketika rob, air melimpas'," kata Sunipah ditemui tribunjateng.com.

Meski rasa takut kerap menghantui, ia tetap harus melintas demi mencari nafkah.

Menurutnya, saat rob datang pada malam hari, air sungai biasanya baru surut setelah tengah malam.

"Mau bengi banjir (rob) tekan kene' tadi malam banjir sampai sini (tepi sungai)'. Untungnya saya lewat pas sudah surut," ungkapnya.

Sunipah mengungkapkan, biasanya diantar anaknya melintasi jembatan menuju jalan raya Mangkang untuk naik angkutan umum atau langsung menuju pasar.

Namun, kondisi saat ini memaksanya menempuh jalur alternatif.

Setelah menyeberang sungai menggunakan getek, ia melanjutkan perjalanan dengan menaiki angkutan umum menuju Karangayu.

Untuk ongkos angkutan, Sunipah harus merogoh kocek sekitar Rp 6.000.

Sementara menyeberang dengan getek tidak dipatok tarif khusus dan hanya bersifat seikhlasnya.

"Sekarang berangkat-pulang tak bikin Rp10.000," bebernya.

Adanya kondisi tersebut, Sunipah berharap pemerintah segera mengupayakan akses penyeberangan yang lebih aman.

"Mugo-mugo 'semoga' jembatan diusahake 'diusahakan'," ungkapnya.

Warga lain yang turut memanfaatkan penyeberangan darurat tersebut adalah Muhammad Iqbal (23).

Pemuda itu mengaku menggunakan getek saat hendak pulang ke rumah usai bermain bersama teman-temannya.

Iqbal memilih melintasi Sungai Bringin karena jalur tersebut dinilai lebih dekat dibandingkan harus memutar lewat akses lain.

Ia mengatakan, sebelumnya warga biasa menggunakan jembatan yang kini sudah jebol.

"Baru ini, Mbak. Sejak jembatan yang lama rusak, akhirnya warga pakai jalur darurat," katanya.

Iqbal lebih lanjut menilai kondisi penyeberangan tersebut tidak sepenuhnya aman. Ia berharap pemerintah segera membangun kembali jembatan permanen agar akses warga kembali normal.

"Harapannya ya kalau bisa dibangun jembatan yang kayak dulu yang di sana, yang besar itu supaya akses masyarakat gampang," ujarnya.

Ngamuri (46), salah satu warga yang secara sukarela mengantarkan penyeberang, menyebut getek darurat di Sungai Bringin itu setiap hari dilalui ratusan orang. 

"Wah, ratusan orang. Anak kecil sampai dewasa. Kan per orang kadang naik sampai 10 kali, sampai 15 kali. Paling sedikit 5 kali bolak-balik," ujarnya.

Ia mengatakan, selama ini, warga Tambaksari memang bergantung pada akses menuju Mangunharjo untuk berbagai keperluan, mulai dari pendidikan, layanan kesehatan di puskesmas, hingga aktivitas kerja.

Penyeberangan darurat itu dibuat warga setelah jembatan yang biasa digunakan warga jebol akibat banjir pekan lalu.

Pembuatan getek dilakukan secara swadaya. Warga bergotong royong menyumbangkan bambu, tali tambang, hingga kayu.

Ngamuri memperkirakan biaya yang dikeluarkan mencapai sekitar Rp2 juta, meski tidak pernah dihitung secara rinci.

"Bantuannya seikhlasnya. Ada yang ngasih bambu, ada yang ngasih tambang. Tidak ada pungutan," katanya.

Hingga kini, tidak ada tarif resmi bagi warga yang menyeberang. Mereka yang melintas hanya memberi uang secara sukarela untuk keperluan perawatan, seperti membeli paku atau mengganti tali yang rusak. Jika tidak membawa uang, warga tetap diantarkan.

Ngamuri mengungkapkan, getek tersebut beroperasi selama 24 jam. Bahkan pada malam hari, warga tetap melintas, mulai dari pedagang yang berangkat ke pasar dini hari hingga buruh pabrik yang pulang menjelang tengah malam.

"Jam dua malam ada yang ke pasar, jam sebelas malam ada yang pulang kerja," ujarnya.

Ketiadaan jembatan permanen di kawasan tersebut ternyata bukan persoalan baru. Madruri (66), warga setempat turut menjelaskan, jembatan yang sebelumnya digunakan warga berada di atas lahan milik perorangan sehingga tidak dapat dibangun kembali.

"Jembatannya itu di tanah orang. Jadi mau dibuat lagi tidak boleh," kata Madruri.

Sebagai solusi sementara, warga sempat merencanakan pembangunan jembatan darurat dari bambu.

Namun keterbatasan biaya membuat rencana tersebut tidak berjalan maksimal. Akhirnya, warga memilih alternatif berupa rakit atau getek sederhana. Inisiatif itu murni berasal dari masyarakat sekitar.

Bahan-bahan yang digunakan seadanya, karena keterbatasan dana untuk membeli bambu berukuran besar yang lebih kuat.

"Kalau bambu besar-besar dibikin rakit kan lebih kuat, tapi karena enggak ada yang buat beli ya akhirnya ini pakai yang saat ini," ujarnya.

Madruri menyebut, getek tersebut berada di aliran Sungai Bringin. Ia menuturkan, jembatan lama di lokasi itu sebelumnya sudah dicabut sejak 2019, bersamaan dengan proyek pelebaran Sungai Bringin.

"Dulu ada jembatan di sini, dicabut tahun 2019. Setelah itu dibuatkan jembatan sementara di sana, tapi yang sementara itu akhirnya jebol," jelasnya.

Jembatan sementara tersebut sempat digunakan warga selama sekitar lima tahun sebelum akhirnya rusak. Sejak saat itu, hingga kini, belum ada pembangunan jembatan permanen sebagai pengganti.

Warga pun kembali berharap pemerintah dapat segera turun tangan. 

"Harapannya ya mohon dibikinkan jembatan lagi. Dulunya kan ada jembatan sini. Jadi orang-orang makanya beli tanah di sini karena ada mau dikasih jembatan ini," imbuhnya. (idy)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.