TRIBUNJOGJA.COM, KULON PROGO - Badan Gizi Nasional (BGN) mengambil langkah tegas menyusul dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Sentolo, Kabupaten Kulon Progo.
Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) Kaliagung resmi dihentikan sementara operasionalnya untuk keperluan evaluasi dan pengamanan penerima manfaat.
Koordinator Regional BGN DIY, Wirandita Gagat Widyatmoko, menegaskan penghentian ini merupakan bentuk tanggung jawab dan langkah preventif.
“BGN telah menghentikan sementara operasional SPPG Kaliagung sebagai bentuk tanggung jawab dan langkah preventif untuk memastikan keamanan serta keselamatan penerima manfaat,” kata Gagat, Rabu (21/1/2026).
BGN juga langsung berkoordinasi dengan BGN Pusat serta Pemerintah Kabupaten Kulon Progo melalui koordinator wilayah guna memastikan penanganan kejadian berjalan terpadu, cepat, dan sesuai kewenangan masing-masing.
Ia menegaskan, evaluasi menyeluruh akan dilakukan terhadap seluruh pelaksanaan Program MBG di SPPG Kaliagung.
“Kejadian seperti ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. SPPG pasti akan dievaluasi secara serius sesuai dengan ketentuan dan standar yang berlaku,” tegasnya.
Baca juga: Keracunan Diduga Akibat MBG Terjadi di Sentolo Kulon Progo
Evaluasi tersebut akan mencakup penerapan standar operasional prosedur, pengelolaan pangan, hingga sistem pengawasan. Hasil evaluasi menjadi dasar penentuan apakah SPPG Kaliagung dapat kembali beroperasi atau tidak.
“Kami mengimbau masyarakat tetap tenang dan mempercayakan penanganan kejadian ini kepada pihak berwenang. Keselamatan dan kesehatan penerima manfaat merupakan prioritas utama,” pungkas Gagat.
Kasus dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) terjadi di wilayah Kapanewon Sentolo, Kabupaten Kulon Progo, Selasa (20/1/2026).
Sekretaris Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kulon Progo, Nur Hadiyanto, menyebut laporan pertama masuk sekitar pukul 16.30 WIB.
“Hingga pukul 06.34 WIB Rabu pagi tercatat 87 orang mengalami gejala keracunan, baik pelajar maupun guru,” kata Nur Hadi.
Para korban berasal dari tujuh sekolah di Sentolo, terdiri dari 83 pelajar dan 4 guru. Sebanyak 18 orang sempat menjalani rawat inap, sementara sisanya menjalani perawatan jalan.
Korban dirawat di empat fasilitas kesehatan, yakni Puskesmas Sentolo I, Klinik Pengasih Husada, RSUD Nyi Ageng Serang Sentolo, dan RS Queen Latifa Sentolo.
Salah satu sekolah dengan jumlah korban terbanyak adalah SDN 2 Sentolo. Kepala SDN 2 Sentolo, Suryadi, menyebut 21 siswanya mengalami gejala keracunan.
“Sebanyak 13 anak masih izin masuk sekolah dan menjalani istirahat di rumah,” ujarnya.
Laporan pertama diterima sekolah sekitar pukul 17.15 WIB dari orang tua melalui grup WhatsApp. Para siswa dilaporkan mengalami muntah-muntah dan langsung dirujuk ke Puskesmas Sentolo I.
“Jumlah yang bergejala terus bertambah sampai pukul 21.00 WIB, kebanyakan sempat dirawat di Puskesmas,” jelas Suryadi. (*/maw/alx)