TRIBUN-MEDAN.COM - Terungkap penyebab pesawat ATR 42-500 mengalami kecelakaan pada Sabtu (17/1/2026) siang lalu.
Ternyata pesawat ATR 42-500 kebablasan sampai keluar jalur saat hendak mendarat (landing) di Bandara Sultan Hasanuddin, Maros, Sulawesi Selatan, lalu menabrak gunung.
Sebab, pesawat ATR 42-500 diarahkan untuk mendarat via runway 21, tapi tidak terbang sesuai dengan jalur yang ditetapkan.
Hal tersebut diungkapkan Kepala Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto Tjahjono dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (20/1/2026).
"Ini yang putih adalah rute pesawat ketika terjadi kecelakaan tersebut. Rute yang kuning tadi yang disampaikan Direktur AirNav bahwa STAR atau Standard Terminal Arrival Route yang untuk runway 21 itu harus dimulai dari Araja, titik Araja," ujar Soerjanto.
Soerjanto memaparkan, prosedur approach pendaratan di runway 21 dimulai dari poin bernama Araja.
Dari Araja, pesawat harus terbang menuju ke poin Openg, dan terakhir Kabip.
Namun, ternyata, pesawat ATR 42-500 itu tidak terbang ke poin Araja, atau keluar dari jalur.
Ketika diminta langsung memotong jalur ke poin Openg pun, pesawat tetap bablas.
Soerjanto pun mengaku masih belum mengetahui alasannya.
"Jadi, di sini pesawat harusnya tadi ke poin Araja tapi dia terlewat. Diminta untuk menuju poin Openg, ternyata juga pesawatnya tidak menuju ke poin Openg. Kami juga belum bisa menyampaikan kenapa alasannya," tuturnya.
Lalu, karena poin Openg sudah terlewat juga, pesawat ATR diminta untuk menuju ke poin terakhir, yakni Kabip supaya bisa intercept localizer untuk automatic landing system-nya.
Lagi-lagi pesawat tetap terus terbang keluar jalur.
Yang terjadi selanjutnya adalah pesawat ATR masuk ke kawasan pegunungan Bulusaraung, dan akhirnya crash di sana.
"Terus terakhir pesawat berbelok ke kanan. Nah, terakhir komunikasinya bahwa ATC menanyakan apakah dia berbelok ke kanan dengan heading 245. Diharapkan dia heading 245 itu bisa memotong ILS itu sehingga alat pandu pendaratan otomatisnya bisa bekerja," jelas Soerjanto.
"Nah, tapi di situ keburu pesawatnya sudah crash (menabrak gunung -red),"pungkasnya.
Ada Keluhan soal Mesin Pesawat ATR 42-500 3 Hari Sebelum Jatuh, Tapi Didiamkan Pilot
Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono juga mengungkapkan, bahwa pesawat ATR 42-500 yang jatuh di Maros, Sulawesi Selatan, mengalami masalah mesin 3 hari sebelum kecelakaan terjadi, Sabtu (17/1/2026).
Namun, kata Soerjanto, awak kabin tidak menyampaikan keluhan terkait kondisi pesawat ketika pesawat hendak terbang dari Yogyakarta menuju Makassar.
"Pada tanggal 17 Januari 2026, pesawat ATR registrasi PK-THT pukul 08.08 WIB terbang dari Bandara Adisutjipto, Yogyakarta menuju Bandara Udara Sultan Hasanuddin," ujar Soerjanto.
"Perlu saya sampaikan di sini bahwa penerbangan dari Jakarta ke Yogyakarta, kami sudah mewawancarai teman-teman dari IAT bahwa pesawat dalam kondisi baik, tidak ada keluhan. Termasuk keluhan masalah engine yang sebelumnya ada 3 hari sebelumnya ada keluhan masalah engine. Ketika penerbangan terakhir tidak ada keluhan," imbuh dia.
Soerjanto mengatakan, ketika pesawat sudah mendekati Bandara Sultan Hasanuddin, pilot pesawat ATR telah diberikan izin oleh ATC untuk melakukan approach menggunakan Instrument Landing System (ILS) runway 21.
Namun, Soerjanto belum bisa menjawab kenapa runway 21 yang dipakai, bukan runway lain.
"Kami sedang melakukan pengumpulan data, jadi memang prosedur untuk runway in use itu ada SOP-nya khusus, mempertimbangkan arah angin dan segala macam sehingga kenapa dipilih saat itu runway 21 kami belum bisa menjawab," kata Soerjanto.
Menurut Soerjanto, sesuai prosedur standar, pesawat yang akan mendarat di runway 21 seharusnya memulai pendekatan dari titik Araja.
Maka dari itu, kata Soerjanto, pesawat datang dari arah barat, lalu bergerak ke utara untuk menuju titik tersebut.
"Jadi prosedur pendaratan untuk runway 21 dengan ILS itu melalui poin Araja, terus masuk ke poin Openg, terus lanjut ke Kabib dan masuk ke panduan automatic untuk landing system (ILS)," kata dia.
Sejauh ini, tim SAR baru berhasil menemukan dua korban tewas kecelakaan pesawat di Sulsel itu.
Kedua jenazah berkelamin laki-laki dan perempuan.
Medan terjal dan licin disebut menjadi penghambat tim penyelamat dalam melakukan evakuasi.
(*/Tribun-medan.com)
Baca juga: KRONOLOGI Terungkapnya Identitas Jenazah Perempuan Korban Jatuhnya Pesawat ATR: Florencia Lolita
Baca juga: Detik-detik Penemuan Jasad Florencia, Sang Pramugari Sempat Posting Ini Sebelum Pesawat Jatuh
Baca juga: Pilu Kondisi Florencia Pramugari Pesawat Jatuh, Ditemukan Pakai Seragam Tersangkut di Pohon