Ternyata Pesawat ATR 42-500 Belok Memotong Jalur, Dugaan Penyebab Pesawat Jatuh hingga Keluhan Mesin
January 22, 2026 06:27 AM

 

TRIBUN-MEDAN.COM - Apa penyebap kecelakaan/jatuhnya Pesawat ATR 42-500?

Pesawat hilang kontak dan jatuh dalam penerbangan dari Bandara Adisutjipto Yogyakarta menuju Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (17/1/2026).

Terungkap dugaan penyebab pesawat ATR 42-500 mengalami kecelakaan.

Keluar Jalur

Ternyata pesawat ATR 42-500 kebablasan sampai keluar jalur saat hendak mendarat (landing) di Bandara Sultan Hasanuddin, Maros, Sulawesi Selatan, lalu menabrak gunung. 

Sebab, pesawat ATR 42-500 diarahkan untuk mendarat via runway 21, tapi tidak terbang sesuai dengan jalur yang ditetapkan.

Hal tersebut diungkapkan Kepala Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto Tjahjono dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (20/1/2026).

"Ini yang putih adalah rute pesawat ketika terjadi kecelakaan tersebut. Rute yang kuning tadi yang disampaikan Direktur AirNav bahwa STAR atau Standard Terminal Arrival Route yang untuk runway 21 itu harus dimulai dari Araja, titik Araja," ujar Soerjanto.

Soerjanto memaparkan, prosedur approach pendaratan di runway 21 dimulai dari poin bernama Araja. 

Dari Araja, pesawat harus terbang menuju ke poin Openg, dan terakhir Kabip. 

Namun, ternyata, pesawat ATR 42-500 itu tidak terbang ke poin Araja, atau keluar dari jalur. 

Ketika diminta langsung memotong jalur ke poin Openg pun, pesawat tetap bablas. 

Soerjanto pun mengaku masih belum mengetahui alasannya.

"Jadi, di sini pesawat harusnya tadi ke poin Araja tapi dia terlewat. Diminta untuk menuju poin Openg, ternyata juga pesawatnya tidak menuju ke poin Openg. Kami juga belum bisa menyampaikan kenapa alasannya," tuturnya.

Lalu, karena poin Openg sudah terlewat juga, pesawat ATR diminta untuk menuju ke poin terakhir, yakni Kabip supaya bisa intercept localizer untuk automatic landing system-nya. 

Lagi-lagi pesawat tetap terus terbang keluar jalur.

Yang terjadi selanjutnya adalah pesawat ATR masuk ke kawasan pegunungan Bulusaraung, dan akhirnya crash di sana.

"Terus terakhir pesawat berbelok ke kanan. Nah, terakhir komunikasinya bahwa ATC menanyakan apakah dia berbelok ke kanan dengan heading 245. Diharapkan dia heading 245 itu bisa memotong ILS itu sehingga alat pandu pendaratan otomatisnya bisa bekerja," jelas Soerjanto.

"Nah, tapi di situ keburu pesawatnya sudah crash (menabrak gunung -red),"pungkasnya.

Meski demikian, pihak KNKT belum mau terburu-buru menyimpulkan penyebab pasti tragedi ini.

Status resmi penyebab kecelakaan baru akan dikeluarkan setelah bukti fisik dan data dari kotak hitam (black box) berhasil dianalisis secara mendalam.

“Kami baru bisa menyimpulkan penyebab pastinya setelah seluruh data dan bukti fisik terkumpul,” tegasnya.


Secara khusus, Soerjanto menitipkan pesan penting kepada tim SAR gabungan di lapangan.

Mengingat kondisi ekor pesawat ditemukan dalam keadaan hancur, pencarian kotak hitam menjadi prioritas utama untuk mengungkap misteri jatuhnya pesawat ini.

KORBAN DITEMUKAN: Satu dari 10 korban penumpang pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT)   ditemukan Tim SAR gabungan, Minggu (18/1/2026).
KORBAN DITEMUKAN: Satu dari 10 korban penumpang pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) ditemukan Tim SAR gabungan, Minggu (18/1/2026). (TRIBUN MEDAN/BASARNAS)

"Black box tempatnya ada di ekor pesawat. Sementara ekor pesawat yang ditemukan dalam kondisi hancur. Makanya, saya menitipkan secara khusus kepada tim di lapangan untuk mencari benda tersebut," pungkasnya.

Hingga saat ini, tim SAR masih terus berjibaku di medan ekstrem Gunung Bulusaraung guna mengevakuasi korban dan mencari instrumen penting pesawat lainnya. 

Detik-detik Pesawat Jatuh

Pada Sabtu (17/1/2026), pesawat ATR 42-500 yang disewa Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dilaporkan jatuh di kawasan Pegunungan Sulawesi Selatan (Sulsel).

Menunjukkan berada di wilayah perbatasan Kabupaten Maros dan Pangkep, posisi terakhir pesawat dari data AirNav Indonesia.

Berada di kawasan pegunungan karst Gunung Bulusaraung, kawasan hilangnya pesawat yang dipiloti kapten senior, Andy Dahananto (53) tahun ini .

Dua pendaki yang saat itu berada di puncak gunung menjadi saksi mata insiden yang diperkirakan terjadi pukul 13.00 WITA.

Reski (20), salah satu pendaki menyaksikan ada pesawat yang terbang rendang sebelum akhirnya menghantam lereng gunung dan mengalami ledakan.

"Meledak dan ada api. Saya dapat serpihan yang berhamburan," ujar Reski, dikutip dari Tribun-Timur.com.

Ia pun segera mengambil ponselnya untuk merekam kejadian tersebut sebagai bukti awal.

"Cepat sekali (kejadiannya)," tuturnya.

Reski dan rekannya pun langsung memutuskan untuk turun gunung sambil membawa kabar duka

Masalah Mesin 3 Hari Sebelum Jatuh 

Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono juga mengungkapkan, bahwa pesawat ATR 42-500 yang jatuh di Maros, Sulawesi Selatan, mengalami masalah mesin 3 hari sebelum kecelakaan terjadi, Sabtu (17/1/2026).

Namun, kata Soerjanto, awak kabin tidak menyampaikan keluhan terkait kondisi pesawat ketika pesawat hendak terbang dari Yogyakarta menuju Makassar.

"Pada tanggal 17 Januari 2026, pesawat ATR registrasi PK-THT pukul 08.08 WIB terbang dari Bandara Adisutjipto, Yogyakarta menuju Bandara Udara Sultan Hasanuddin," ujar Soerjanto.

"Perlu saya sampaikan di sini bahwa penerbangan dari Jakarta ke Yogyakarta, kami sudah mewawancarai teman-teman dari IAT bahwa pesawat dalam kondisi baik, tidak ada keluhan. Termasuk keluhan masalah engine yang sebelumnya ada 3 hari sebelumnya ada keluhan masalah engine. Ketika penerbangan terakhir tidak ada keluhan," imbuh dia.

Soerjanto mengatakan, ketika pesawat sudah mendekati Bandara Sultan Hasanuddin, pilot pesawat ATR telah diberikan izin oleh ATC untuk melakukan approach menggunakan Instrument Landing System (ILS) runway 21.

Namun, Soerjanto belum bisa menjawab kenapa runway 21 yang dipakai, bukan runway lain.

"Kami sedang melakukan pengumpulan data, jadi memang prosedur untuk runway in use itu ada SOP-nya khusus, mempertimbangkan arah angin dan segala macam sehingga kenapa dipilih saat itu runway 21 kami belum bisa menjawab," kata Soerjanto.

Menurut Soerjanto, sesuai prosedur standar, pesawat yang akan mendarat di runway 21 seharusnya memulai pendekatan dari titik Araja.

Maka dari itu, kata Soerjanto, pesawat datang dari arah barat, lalu bergerak ke utara untuk menuju titik tersebut.

"Jadi prosedur pendaratan untuk runway 21 dengan ILS itu melalui poin Araja, terus masuk ke poin Openg, terus lanjut ke Kabib dan masuk ke panduan automatic untuk landing system (ILS)," kata dia.

Sejauh ini, tim SAR baru berhasil menemukan dua korban tewas kecelakaan pesawat di Sulsel itu.

Kedua jenazah berkelamin laki-laki dan perempuan.

Medan terjal dan licin disebut menjadi penghambat tim penyelamat dalam melakukan evakuasi. 

(*/Tribun-medan.com

Baca juga: Klasemen Terbaru Liga Italia, AS Roma ke Peringkat 4, Bologna 1-2 Fiorentina, AC Milan 1-0 Lecce

 (*/tribun-medan.com)

Sumber: Tribuntimur/ tribunnews.com

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.