TRIBUNTRENDS.COM - Di bawah terik matahari siang, ratusan pasang mata menatap jalanan di kawasan MTQ Bandar Serai, Pekanbaru.
Di sanalah, suara-suara yang lama terpendam akhirnya keluar ke permukaan. Senin (19/1/2026) menjadi hari di mana seratusan warga Rohingya yang menetap di Pekanbaru memilih turun ke ruang publik, menyuarakan kegelisahan hidup yang kian menyesakkan.
Aksi ini bukan sekadar unjuk rasa biasa. Ia lahir dari keterbatasan bantuan, berkurangnya perhatian, serta tekanan kebutuhan hidup yang tak lagi bisa mereka bendung.
Baca juga: Imigran Rohingya Minta Tolong, Kapal yang Ditumpangi Terbalik di Perairan Aceh, 50 Orang Meninggal
Aksi tersebut digelar tepat di samping kantor International Organization for Migration (IOM) di Jalan M Jamil.
Lokasinya strategis, bersebelahan langsung dengan kawasan MTQ Bandar Serai, sehingga mudah terlihat oleh pengguna jalan.
Dari pantauan di lokasi, sekitar seratusan warga Rohingya tampak berkumpul di satu titik.
Mereka adalah keluarga-keluarga imigran yang saat ini bertahan hidup di Pekanbaru.
Tak hanya orang dewasa, anak-anak pun ikut hadir, berbaur di tengah kerumunan, menggenggam tangan orang tua mereka.
Di sisi kiri massa, pagar kantor IOM menjadi pembatas. Sementara di hadapan mereka, jalan raya menjadi saksi bisu tuntutan yang dibentangkan dengan penuh harap.
Para pengunjuk rasa membentangkan spanduk-spanduk berisi tuntutan utama. Spanduk itu sengaja diarahkan ke jalan, seolah ingin memastikan setiap mata yang melintas membaca isi jeritan mereka.
Berikut tuntutan yang tertulis jelas di atas spanduk-spanduk tersebut:
Salah satu spanduk menegaskan tuntutan mereka dengan kalimat tegas:
“Kami membutuhkan bantuan dan dukungan untuk pelayanan yang bermartabat”
Kalimat itu dipegang erat dan dibentangkan menghadap ke jalan, menjadi simbol tuntutan paling mendasar: hidup dengan martabat.
Baca juga: Bawa 147 Pengungsi Rohingya, Nahkoda Kapal Ini Pilih Kabur Usai Mendarat di Deli Serdang, Parah!
Menurut para peserta aksi, kondisi mereka mulai memburuk sejak tahun 2023.
Sejak saat itu, bantuan kemanusiaan dari IOM disebut terus mengalami pengurangan.
Tak hanya jumlah bantuan yang menyusut, sejumlah fasilitas vital pun tak lagi difasilitasi.
Akses rumah sakit dan kebutuhan tempat tinggal, yang sebelumnya ditanggung, kini harus mereka upayakan sendiri.
Tekanan inilah yang akhirnya mendorong mereka turun ke jalan. Aksi ini menjadi cara terakhir untuk menyuarakan aspirasi, dengan harapan dunia internasional mendengar melalui IOM sebagai lembaga yang menaungi mereka.
Di tengah aksi, suasana tiba-tiba berubah. Keramaian sejenak terhenti ketika seorang perempuan Rohingya maju ke depan.
Sambil menggendong bayinya, ia mencurahkan isi hatinya.
Tangisnya pecah, memecah keheningan. Suaranya lantang, penuh emosi. Di balik cadar yang menutup wajahnya, air mata tampak jelas mengalir. Bayi dalam gendongannya ikut menangis, seolah menjadi gambaran paling nyata dari penderitaan yang mereka alami.
Dalam bahasa Rohingya, perempuan itu terus menyuarakan harapan mereka, berdiri di bawah terik matahari siang, tanpa perlindungan selain tekad.
Muhammad Shobi, salah seorang warga Rohingya, mengungkapkan kondisi sulit yang mereka hadapi saat ini.
"Bagaimana kami hidup. Kebutuhan makan, susu anak sampai kesehatan di rumah sakit tidak lagi mencukupi uang yang diberikan," ungkap Muhammad Shobi salah seorang warga Rohingya kepada Tribunpekanbaru.com.
Ia menjelaskan, IOM kini tidak lagi memfasilitasi tempat tinggal yang layak. Akibatnya, bantuan yang diterima harus dialihkan untuk membayar biaya kontrakan.
"Kontrak rumah saja sudah Rp 800 sampai 900 ribu per bulan.
Belum lagi untuk biaya kesehatan dan susu anak. Sementara bantuan yang diberikan hanya Rp 2.350.000 rupiah. Itu sama sekali tidak memadai," ujarnya.
Keluhan serupa disampaikan Nuramin, warga Rohingya yang telah menetap di Pekanbaru sejak tahun 2020. Dengan bahasa Indonesia yang fasih, ia menyampaikan keresahannya.
"Kami datang untuk menuntuk hidup kehidupan yang layak. Saat ini bantuan dari IOM sudah tidak layak," ungkapnya kepada Tribunpekanbaru.com.
Menurut Nuramin, sejak 2023 bantuan terus dikurangi. Biaya tempat tinggal dan rumah sakit yang sebelumnya ditanggung kini tidak lagi diberikan.
Ia merinci bantuan yang diterima warga Rohingya saat ini: Rp 1.050.000 untuk individu, Rp 1.700.000 untuk keluarga, dan Rp 2.300.000 untuk keluarga dengan satu anak.
"Dengan uang segitu kami tidak tidak bisa mencukupi kebutuhan. Karena habis untuk kontrakan, biaya kesehatan dan biaya lainnya," ungkapnya.
Baca juga: Perbandingan Bantuan untuk Korban Banjir dan Imigran Rohingya, Bak Langit dan Bumi: Mie, Ayam Goreng
Dalam kondisi yang kian sulit, Nuramin berharap bantuan bagi warga Rohingya kembali mendapat perhatian serius.
Ia juga menyebut adanya perbedaan perlakuan yang dirasakan jika dibandingkan dengan warga dari negara lain.
Melalui aksi ini, ratusan warga Rohingya berharap desakan kebutuhan hidup yang mereka alami di Pekanbaru tidak lagi diabaikan.
Mereka menanti satu hal sederhana namun mendasar: kesempatan untuk hidup layak dan bermartabat.
***