Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Di bawah rindang pepohonan Cigadung, Saraga Coffee menjadi tempat di mana waktu seolah berjalan lebih pelan.
Meja-meja kayu yang tersebar di area outdoor, bangunan bernuansa tradisional, serta aroma kopi yang menyatu dengan udara sejuk menjadikan kafe ini ruang santai bagi siapa pun yang ingin berhenti sejenak dari hiruk pikuk Kota Bandung.
Coffee shop yang berlokasi di Jalan Cigadung Raya Barat No. 2, Cigadung, Kecamatan Cibeunying ini bisa menjadi pilihan bagi Anda yang ingin menikmati kopi dengan suasana yang tenang.
Begitu memasuki area kafe, pengunjung langsung disambut hamparan area outdoor yang rindang.
Pepohonan besar menaungi meja-meja kayu sederhana, menghadirkan suasana sejuk dan natural.
Bangunan utama Saraga Coffee didominasi material kayu dengan sentuhan rumah tradisional, menciptakan kesan hangat sekaligus akrab.
Owner Saraga Coffee, Sandy Nugroho, mengatakan bahwa kafe ini lahir dari ide yang sederhana.
“Saraga mulai dibangun pada 2021, di tengah masa pandemi Covid-19, ketika pembatasan aktivitas mulai dilonggarkan. Awalnya Saraga itu konsepnya slow bar. Tidak muluk-muluk, cuma pengin bikin tempat orang datang ngopi, ngobrol, santai,” ujar Sandy, Kamis (22/1/2026).
Konsep slow bar pun tersebut terasa kuat hingga kini. Saraga bukan sekadar tempat ngopi, melainkan ruang untuk memperlambat ritme, berbincang, dan membangun kebersamaan.
Hal itu pula yang tercermin dari nama Saraga, yang diambil dari bahasa Sunda.
“Sa itu artinya satu, raga itu tubuh. Jadi Saraga itu satu raga, seawak. Filosofinya kebersamaan,” kata Sandy.
Keunikan Saraga Coffee juga tercermin dari penamaan menu makanan dan minumannya.
Beberapa menu andalan diberi nama Nuraga, Kopiraga, hingga Nuraga Rum, yang semuanya memiliki makna tersendiri.
Menu signature Saraga terbagi dalam dua kategori utama, yaitu kopi hitam dan kopi susu. Dari keduanya, kopi susu bernama Nuraga menjadi menu paling banyak dipesan.
“Nuraga itu artinya berbagi rasa. Itu kopi susu dan jadi best seller di sini,” ujar Sandy.
Sementara untuk penikmat kopi hitam, Saraga menghadirkan Kopiraga dengan karakter fruity.
Menu ini terinspirasi dari tren kopi dengan sentuhan rasa buah yang sempat populer, namun tetap diolah dengan karakter khas Saraga.
Selain itu, Saraga Coffee juga memperkuat sajian manual brewing dan single origin coffee bagi penikmat kopi yang ingin mengeksplorasi cita rasa lebih dalam.
Tak hanya menjadi tempat ngopi, Saraga Coffee juga tumbuh sebagai ruang berkumpul berbagai komunitas.
Mulai dari komunitas motor, sepeda, hingga komunitas outdoor menjadikan Saraga sebagai basecamp mereka.
Kalangan mahasiswa pun kerap memanfaatkan tempat ini untuk berkegiatan dan berdiskusi.
“Banyak komunitas yang akhirnya nongkrong dan jadi basecamp di sini. Mungkin karena konsepnya terbuka dan santai,” kata Sandy.
Untuk harga, Saraga Coffee tergolong ramah di kantong. Sajian kopi dibanderol mulai dari Rp20.000 hingga Rp30.000-an, menjadikannya pilihan menarik bagi mahasiswa maupun pekerja yang ingin menikmati kopi di suasana hijau.