Apa Saja Gejala Awal Hipertensi? Simak Penjelasan dr. Marcellino Mettafortuna, S. Sp. PD, AIFO
January 22, 2026 09:44 PM

TRIBUNWOW.COM - Hipertensi sering kali disebut sebagai "silent killer" karena banyak penderitanya tidak merasakan gejala apa pun meski tekanan darah sudah berada di atas batas normal.

Tanpa disadari, kondisi ini dapat memicu kerusakan organ vital seperti jantung, otak, dan ginjal dalam jangka panjang.

Di tengah gaya hidup modern yang serba praktis, penuh stres, dan tinggi konsumsi makanan tidak sehat, risiko hipertensi bisa meningkat pada siapa saja, terutama yang memiliki faktor keturunan.

Baca juga: Bagaimana Fungsi Telinga dalam Proses Mendengar? Begini Penjelasan Dokter Spesialis THT

Pertanyaan:

Apakah hipertensi selalu menunjukkan gejala? Jika tidak bagaimana cara mengetahui seseorang terkena hipertensi?

Begini jawaban Dokter Spesialis Penyakit Dalam dr. Marcellino Mettafortuna, S. Sp. PD, AIFO (K) dalam podcast kesehatan "Healthy Talk" dalam kanal YouTube Tribunnews.com. 

Jawaban:

Fungsi skrining hipertensi sangat penting karena tekanan darah tinggi tidak selalu menimbulkan keluhan yang jelas.

Cara pertama adalah menyadari apakah kita memiliki faktor risiko, terutama yang tidak bisa diubah seperti usia dan jenis kelamin.

Di mana laki-laki umumnya memiliki risiko lebih tinggi dibanding perempuan.

Riwayat keluarga dengan hipertensi juga perlu diperhatikan, begitu pula keberadaan penyakit lain seperti diabetes, penyakit jantung, atau gangguan ginjal.​

Orang dengan faktor risiko tersebut dianjurkan lebih rutin memeriksakan tekanan darah.

Baik melalui medical check up maupun dengan alat tensi mandiri yang kini mudah dibeli dan digunakan di rumah.

Jika tekanan darah yang berulang kali tercatat di atas nilai normal, yaitu lebih dari 120/80 mmHg, sudah menjadi tanda untuk lebih waspada dan melakukan evaluasi lebih lanjut.

Setelah itu, perlu ditelusuri faktor gaya hidup, seperti kebiasaan minum kopi atau teh berlebihan, tingkat stres, pola kerja.

Serta pola makan tinggi lemak dan junk food yang dapat memicu kenaikan tekanan darah.​

Jika setelah mengelola gaya hidup tekanan darah tetap tinggi, maka langkah berikutnya adalah berkonsultasi ke dokter untuk pemeriksaan dan penentuan terapi yang tepat.

Dokter biasanya tidak langsung memberikan obat, tetapi lebih dulu mencari penyebab tekanan darah tinggi yang dialami pasien.

Setelah itu, dokter akan menyingkirkan kemungkinan penyakit lain yang mendasari seperti gangguan jantung, penyakit ginjal, atau diabetes yang dapat memperberat hipertensi.

Pemeriksaan tekanan darah dan kondisi kesehatan lain perlu dilakukan secara berkala agar hipertensi dapat dikendalikan dan komplikasi serius dapat dicegah sedini mungkin.​

(TribunWow.com/Peserta Magang dari Universitas Sebelas Maret/Alifazahra Avrilya Noorahma)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.