TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai peningkatan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di awal tahun 2026.
Curah hujan yang tinggi dikhawatirkan dapat meningkatkan populasi nyamuk Aedes aegypti sehingga risiko penularan DBD di berbagai wilayah ibu kota ikut meningkat.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Ani Ruspitawati, menyampaikan bahwa berdasarkan update data kasus DBD tahun 2026 hingga 19 Januari, tercatat sebanyak 143 kasus di Jakarta.
“Data tersebut menjadi perhatian Dinas Kesehatan DKI Jakarta, terutama di tengah kondisi musim hujan yang masih berlangsung dan berpotensi meningkatkan risiko penularan DBD,” ujarnya, Kamis (22/1/2026).
Ia menyampaikan, faktor risiko peningkatan kasus DBD saat musim hujan adalah sampah yang tidak dikelola, tanaman hias tertentu yang dapat menampung air hingga tingginya curah hujan.
“Kondisi tersebut dapat menjadi tempat berkembang biakan nyamuk Aedes aegypti,” kata Ani.
Pihaknya terus melakukan berbagai upaya untuk mencegah penyebaran DBD, di antaranya melakukan sosialisasi tentang pentingnya pelaksanaan PSN 3M, yaitu Pemberantasan Sarang Nyamuk dengan Menguras, Menutup, dan Mendaur Ulang tempat-tempat yang dapat menampung air.
Dikutip dari website Kementerian Kesehatan, gejala utama DBD adalah demam tinggi mendadak hingga 39°C yang berlangsung 2–7 hari, kemudian turun dengan cepat.
Baca juga: Flu hingga DBD Mengintai, Ketua IDAI Minta Sekolah Perketat Protokol Kesehatan
Gejala lain meliputi sakit kepala, lemas, nyeri di belakang mata, otot, dan tulang, serta ruam merah pada kulit. Penderita juga bisa mengalami mual, muntah, sulit menelan, mimisan, gusi berdarah, serta muncul bintik merah pada kulit.
Pada fase kritis, suhu tubuh turun dan penderita terasa dingin meski tampak membaik. Namun, kondisi ini berbahaya karena berisiko terjadi sindrom syok dengue yang mengancam nyawa.
Penanganan utama adalah cukup cairan (oral atau infus) dan istirahat total.
Kompres bisa membantu menurunkan demam. Obat penurun panas seperti parasetamol dan obat anti-mual dapat diberikan sesuai kebutuhan. Selalu konsultasikan dengan dokter untuk penanganan yang tepat. (*)