Jakarta (ANTARA) - Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) menekankan pentingnya Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) yang menjadi nyawa dalam penyelenggaraan ibadah haji.

Siskohat memegang peran strategis dimana seluruh lini tugas penyelenggaraan haji, mulai dari akomodasi, transportasi, hingga kesehatan, bergantung sepenuhnya pada keakuratan data yang dikelola sistem ini.

"Tugas Siskohat ini bagian yang strategis perihal data. Data itu adalah bagian utama dari penyelenggaraan. Informasi harus akurat, terlaksana, dan benar-benar bisa digunakan dalam seluruh lini tugas,” ujar Fasilitator Layanan Siskohat, Fahmi di sela sesi pembekalan peserta pendidikan dan latihan (Diklat) calon Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi 1447 H/2026 M di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Jumat.

Fahmi menjelaskan bahwa inovasi teknologi terus dilakukan menyesuaikan dinamika di Arab Saudi. Salah satu pembaruan teknis adalah perubahan algoritma dan pembatasan penggunaan syarikah perusahaan penyedia layanan di Arab Saudi yang kini dibatasi maksimal dua entitas dalam sistem guna mengefektifkan pengawasan dan alur data.

Data yang diolah Siskohat mencakup spektrum yang luas, mulai dari data kloter, manifes jamaah, hingga data pergerakan jemaah, baik keberangkatan maupun kedatangan, di setiap Daerah Kerja (Daker). Kecepatan pengolahan data tersebut menjadi krusial mengingat mobilitas jamaah yang tinggi di Tanah Suci. Namun, teknologi canggih tidak akan efektif tanpa sumber daya manusia yang tangguh.

Fahmi menyoroti tantangan terbesar petugas Siskohat di lapangan adalah komunikasi dan daya tahan kerja. Mengingat sistem harus berjalan 24 jam non-stop, manajemen sumber daya manusia diatur secara ketat.

"Di setiap sektor harus ada minimal dua orang petugas Siskohat. Karena, mereka bekerja 24 jam, jadi dibagi dua shift masing-masing 12 jam. Sistemnya adalah komunikasi yang tidak boleh putus," ujar Fahmi yang berpengalaman bertugas di PPIH Daker Makkah.

Ia menekankan budaya kerja yang unik bagi petugas data, yaitu harus agresif dalam mencari informasi namun tetap berkepala dingin. Keterlambatan input data bisa berakibat fatal bagi pengambilan keputusan di level pimpinan.

"Saya bilang petugas harus bawel. Jangan baper kalau ditagih data atau harus menagih data ke divisi lain. Data itu harus cepat. Jangan sampai ada informasi yang belum didapatkan lalu petugas diam saja," ujar Fahmi.

Titik paling rawan dalam operasional Siskohat, menurut pemetaan yang dilakukan Kemenhaj adalah keterlambatan pembaruan data. Fahmi memberikan contoh kasus pada kedatangan jamaah.

Kondisi jamaah sangat beragam, ada yang sehat, ada yang sakit, bahkan masih dirawat di rumah sakit. Jika data kedatangan tidak segera diperbarui secara real-time, keberadaan dan kondisi jamaah tidak akan terpantau dengan akurat.

"Intinya kita fokus di data. Informasi harus update. Kalau data terlambat, itu bagian dari kerawanan," kata Fahmi.

Untuk mengamankan operasional haji 2026, Kemenhaj menurunkan tim yang berpengalaman. Saat ini tercatat sekitar 23 personel inti yang disiapkan, namun jumlah tersebut diproyeksikan akan bertambah untuk memenuhi kebutuhan pos-pos vital.

Sebagai gambaran, sektor Makkah yang memiliki 10 sektor membutuhkan setidaknya 20 petugas, sementara Madinah dengan lima sektor membutuhkan 10 petugas, belum termasuk tim di kantor Daker.

Mayoritas petugas yang diterjunkan adalah pemain lama dengan rekam jejak panjang dalam pengelolaan Siskohat, beberapa di antaranya telah mengabdi puluhan tahun sejak era Kementerian Agama hingga transisi ke Kementerian Haji saat ini.

Pengalaman mereka diharapkan menjadi jaminan kelancaran arus informasi yang menjadi tulang punggung suksesnya haji 2026.