TRIBUNTRENDS.COM - Tewasnya pramugari Florencia Lolita Wibisono alias Olen dalam kecelakaan pesawat ATR 42-500 menyisakan kisah pilu bagi calon suaminya.
Ia menjadi orang pertama yang memberi kabar kepada keluarga setelah pesawat tersebut hilang kontak di Gunung Bulusaruang, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.
Kontak terakhir Olen dengan kakaknya, Natasya Wibisono, terjadi sehari sebelum kecelakaan, Jumat (16/1/2026), melalui video call saat Natasya berada di pesawat Wings Air yang mengalami keterlambatan.
Dalam percakapan itu, Olen sempat menanyakan keberadaan kru pesawat yang ditumpangi kakaknya karena pengalaman kerjanya sebelumnya di maskapai tersebut, dan itulah komunikasi terakhir mereka.
Keesokan harinya, Natasya menerima kabar dari calon suami Olen bahwa pesawat adiknya telah hilang kontak.
“Tiba-tiba aku dapat kabar dari calonnya adikku, katanya pesawat adikku sudah kurang lebih satu jam hilang kontak," ujar Natasya Wibisono dikutip dari KOMPAS.COM, Jumat (23/1/2026).
Ia segera memastikan kebenaran informasi tersebut melalui sejumlah temannya yang bekerja sebagai pilot dan di Direktorat Kelaikudaraan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU).
Setelah kepastian diterima, Natasya menyelesaikan tugasnya di Sibolga, Sumatera Utara, dan segera berangkat menuju Jakarta, kemudian ke Makassar, untuk bergabung dengan keluarga dan calon suami Olen.
Karena jadwal penerbangan dari Sibolga ke Medan tidak tersedia setiap hari, Natasya memilih jalur darat menggunakan travel, yang kebetulan tersisa dua kursi.
Sesampainya di Bandara Kualanamu, ia melanjutkan penerbangan ke Jakarta dan kemudian ke Makassar, menemui calon suami Olen, dan mereka berangkat bersama ke lokasi pencarian.
“Janjian juga sama Papa, juga calon suaminya adik saya.
Lalu kami berangkat sama-sama ke Makassar,” papar Natasya Wibisono.
Di Makassar, pencarian telah memasuki hari kedua, namun keluarga belum mendapatkan kepastian mengenai kondisi Olen.
Sebelumnya kerabat Florencia Lolita Wibisono, Juwita, mengungkapkan bahwa Olen sebenarnya telah merencanakan pernikahan dalam waktu dekat.
Rencana bahagia itu bahkan sudah dibicarakan di lingkungan keluarga besar.
Sosok pria yang menjadi calon suaminya diketahui berprofesi sebagai pilot dan berasal dari lingkungan kerja yang sama dengan Florencia Lolita Wibisono di dunia penerbangan.
Namun, tragedi jatuhnya pesawat ATR 42-500 mengakhiri semua rencana itu.
Baca juga: Profil Florencia Lolita Wibisono, Korban Kecelakaan Pesawat ATR 42-500 yang Pertama Dikenali
Pesawat ATR 42-500 dilaporkan hilang kontak saat menjalani penerbangan dari Yogyakarta menuju Makassar pada Sabtu, 17 Januari 2026.
Pesawat milik Indonesia Air Transport (IAT) dengan registrasi PK-THT tersebut lepas landas dari Bandara Adisutjipto pada pukul 08.08 WIB setelah dinyatakan memenuhi seluruh prosedur keamanan dan operasional penerbangan.
Dalam penerbangan itu, pesawat membawa tujuh kru dan tiga penumpang.
Termasuk di dalamnya pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Deden Maulana.
Saat mendekati Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, pesawat diketahui tidak berada pada jalur yang seharusnya.
Petugas pemandu lalu lintas udara sempat memberikan arahan koreksi posisi kepada awak pesawat.
Namun, komunikasi antara Air Traffic Controller atau Pengatur Lalu Lintas Udara (ATC) dan pesawat tiba-tiba terputus sekitar pukul 13.17 WITA.
Menindaklanjuti hilangnya kontak tersebut, ATC menetapkan status darurat penerbangan.
Berdasarkan data koordinat terakhir, posisi pesawat diperkirakan berada di wilayah Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.
Tim SAR gabungan segera dikerahkan untuk melakukan pencarian melalui jalur darat dan udara.
Kondisi cuaca saat kejadian dilaporkan berawan, dengan jarak pandang yang masih memungkinkan penerbangan.
Dalam proses pencarian, masyarakat setempat melaporkan adanya suara ledakan dan munculnya titik api di kawasan pegunungan.
Wilayah yang dimaksud berada di sekitar Gunung Bulusaraung dan Gunung Bawakaraeng.
Medan yang berupa pegunungan karst dengan hutan lebat serta tebing terjal menjadi tantangan utama bagi tim di lapangan.
Upaya pencarian juga terkendala kabut tebal, hujan, dan angin kencang.
Pada Minggu pagi, 18 Januari 2026, patroli udara mendeteksi serpihan berwarna putih di lereng Gunung Bulusaraung.
Temuan tersebut dikonfirmasi sebagai bagian dari pesawat ATR 42-500.
Meski medan pencarian sangat berat, namun tim berhasil menemukan beberapa bagian besar pesawat seperti jendela, ekor, dan badan pesawat, serta banyak serpihan kecil tersebar di berbagai titik.
Serpihan-serpihan tersebut menjadi petunjuk penting dalam pencarian, dengan lokasi berada di perbatasan Kabupaten Maros dan Pangkep, sekitar 26,49 kilometer dari Bandara Sultan Hasanuddin.
Operasi pencarian intensif membuahkan hasil ketika tim SAR gabungan menemukan satu korban berjenis kelamin laki-laki beserta sejumlah barang pribadi penumpang.
Korban ditemukan di jurang dengan kedalaman sekitar 200 meter, tidak jauh dari lokasi serpihan pesawat.
Satu korban berjenis kelamin perempuan juga ditemukan pada Senin (19/1/2026).
Korban perempuan tersebut ditemukan di jurang dengan kedalaman sekitar 500 meter dari puncak Gunung Bulusaraung.
Setelah dilakukan pemeriksaan oleh tim Disaster Victim Identification (DVI), jenazah perempuan itu diketahui adalah pramugari Florencia Lolita Wibisono.
Jenazah Florencia Lolita Wibisono berhasil dievakuasi dan dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Makassar pada Selasa malam, 19 Januari 2026.
Evakuasi dilakukan melalui jalur posko AJU Tompo Bulu, Kabupaten Pangkep, dengan mobil ambulans milik TNI.
Setibanya di rumah sakit, jenazah langsung ditangani tim DVI Bidokkes Polda Sulsel.
Kemudian diketahui bahwa jenazah pertama yang ditemukan adalah Deden Maulana yang merupakan pegawai KKP.
Identitas jenazah terungkap saat keluarga menerima peti jenazah korban di Biddokkes Polda Sulsel, Rabu (21/1/2026) malam.
Pemerintah mengerahkan Basarnas, TNI, Polri, Kementerian Perhubungan, AirNav Indonesia, BMKG, dan pemerintah daerah untuk mempercepat pencarian dan evakuasi.
Kecelakaan pesawat ATR 42-500 terjadi saat menabrak lereng Gunung Bulusaraung sehingga pecah menjadi serpihan, menurut Kepala KNKT Soerjanto Tjahjono.
Insiden ini dikategorikan sebagai Controlled Flight Into Terrain (CFIT), yang berarti pesawat masih bisa dikendalikan pilot, namun benturan dengan lereng gunung tidak bisa dihindari.
Serpihan pesawat yang ditemukan tim SAR menjadi bukti benturan keras tersebut.
KNKT masih melakukan penyelidikan lebih lanjut dan belum berspekulasi mengenai kemungkinan kelalaian.
10 korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 akhirnya berhasil ditemukan oleh tim SAR gabungan pada Jumat (23/1/2026).
Asisten Operasi Kodam XIV/Hasanuddin Kolonel Inf Dody Priyo Hadi menyampaikan bahwa selama tujuh hari pencarian, seluruh korban dan properti penting pesawat ATR 42-500 berhasil ditemukan.
“Alhamdulillah hari ke-7 kita bisa temukan seluruhnya, baik benda penting yang di pesawat maupun seluruh korban dan tepat dengan sandi hari ini kita gunakan sandi sapu bersih, Allah meridohi sandi tersebut,” ujarnya.
Baca juga: 5 Fakta Florencia Lolita Wibisono, Pramugari Korban Pesawat ATR 42-500
Daftar Kru Pesawat:
Daftar Penumpang:
(TribunTrends/ Amr)