Honor Rp400 Ribu, Guru Honorer di Nganjuk Mengabdi dengan Sepatu Rusak, Tak Mampu Beli yang Baru
January 23, 2026 01:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, NGANJUK – Di tengah upaya pemerintah meningkatkan kualitas layanan pendidikan melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan anggaran fantastis, ironi masih membayangi dunia pendidikan.

Banyak guru honorer di Tanah Air yang menjadi ujung tombak pembelajaran justru harus bertahan dengan gaji yang sangat rendah dan jauh dari kata layak.

Bahkan gajinya tidak cukup untuk membeli sepatu.

Gambaran itulah yang terjadi pada Mohamad Anang Arianto (26), guru agama di SDN 2 Pacekulon yang diperbantukan mengajar di SDN Gondang kurang dari sebulan terakhir ini.

Anang yang sudah menjadi guru agama sejak tujuh tahun terakhir ini hanya menerima honor sebesar Rp 400 ribu sebulan.

Angka itu jauh dari kata cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

Bahkan hanya untuk membeli sepatu, Anang pun tak mampu.

Terpaksa, sosok yang menjadi ujung tombak untuk mencerdaskan generasi penerus bangsa itu harus memakai sepatu rusak untuk mengajar para siswanya.

Tak ada pilihan lain bagi Anang karena sepatu rusak yang dipakainya mengajar itu adalah satu-satunya yang dimiliki.

Tak ada uang lagi yang bisa disisihkannya untuk membeli sepatu.

Sebab, honor Rp400 ribu yang diterimanya itu sudah habis digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, bahkan kurang. 

Untuk menyambung hidup, Anang pun memilih mencari pekerjaan sampingan sebagai ojek online.

Dikutip dari Kompas.com, meski honor yang diterimanya jauh dari kata cukup, Anang tetap menjalani profesinya sepenuh hati.

Jumat(23/1/2026) pagi, dengan penuh semangat, Anang yang mengenakan kopiah hitam mengajar agama di depan siswa kelas III SDN Gondang.

Mengenakan kemeja batik lengan panjang berwarna hitam kombinasi putih dan celana panjang gelap, penampilannya sekilas tak berbeda dari guru pada umumnya.

Baca juga: Warga Tiyasan Sleman Sukses Ubah Lahan Tidur Jadi Minimarket Pangan Mandiri

Rapi dan sederhana.

Namun, dari kejauhan, terlihat sangat jelas sol sepatunya sudah terlepas karena memang sudah rusak.

Anang mengaku kondisi ekonomi dengan honor yang sangat kecil membuatnya tak mampu untuk membeli sepatu baru

“Ya mau bagaimana lagi Pak, punyanya juga hanya (sepatu) ini aja,” katanya.

Anang mengaku sudah tujuh tahun mengabdikan diri sebagai guru honorer.

Meski sudah cukup lama mengabdikan diri sebagai tenaga pendidikan, dirinya belum tercatat ke dalam Data Pokok Pendidikan (Dapodik). 

“Kalau (mengajar) di pelajaran agama itu sudah jalan tujuh tahun ini,” ujar Anang saat ditemui wartawan usai mengajar.

Anang mengungkapkan bahwa dirinya belum masuk Dapodik sejak awal mengajar.

Dia menyebut persoalan itu bermula sekitar tahun 2019 atau 2020.

Saat itu, menurut Anang, dirinya tidak bisa masuk Dapodik karena belum memiliki ijazah sarjana.

Kini, dia telah menamatkan studi Strata Satu (S1), tapi juga tak kunjung tercatat di Dapodik.

 Anang mengaku telah berupaya mengurus persoalan tersebut dengan mendatangi Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Nganjuk sebanyak dua kali.

Namun, usahanya belum membuahkan hasil.

“Dulu pernah mencoba ke Dinas Pendidikan dua kali, tapi tidak tembus,” ujarnya.

Menurut Anang, alasan yang diterimanya adalah karena lembaga tempatnya mengabdi sudah tidak menerima tenaga honorer baru.

“Karena katanya itu sudah tidak menerima honorer lagi lembaga,” ucapnya.

Selama mengajar, Anang hanya menerima honor yang nilainya jauh dari kata cukup. Dia menyebut, honor pertamanya sebesar Rp 150.000, dan kini menjadi Rp 400.000 per bulan.

Honor tersebut, menurut dia, jelas tidak mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.

“Ya, kalau di zaman sekarang ya jelas tidak (cukup),” tuturnya.

Untuk menyambung hidup, Anang terpaksa mencari pekerjaan sampingan.

Di luar jam mengajar, dia memiliki kerja sampingan sebagai pengemudi ojek online.

Anang pun berharap ada perhatian dari pemerintah daerah terhadap nasib guru honorer seperti dirinya. 

“Harapannya, tentunya nanti ke depannya yang honorer seperti saya ini bisa diangkat menjadi pegawai negeri, dan untuk di Dinas Pendidikan ya utamanya yang honorer seperti saya itu lebih disejahterakan,” katanya.

Kepala SDN Gondang, Sukirno, membenarkan bahwa sekolahnya masih bergantung pada tenaga honorer untuk memastikan kegiatan belajar mengajar berjalan.

Saat ini, menurut Sukirno, di SDN Gondang terdapat dua tenaga honorer yakni seorang tenaga administrasi yang mengurus operasional sekolah dan seorang petugas kebersihan.

Sementara untuk Anang, dia mengatakan, merupakan tenaga honorer yang diperbantukan dari SDN 2 Pacekulon karena di SDN Gondang sempat tidak memiliki guru agama.

“Di sini (SDN Gondang) tidak ada guru agama, karena guru agama sebelumnya mutasi ke Lengkong, sehingga tidak ada yang mengajar di kelas,” ujarnya.

Terkait honor Anang, Sukirno menyebut bahwa dana tersebut bukan berasal dari anggaran sekolah.

Melainkan dari guru agama SDN Gondang yang lama.

“Dari lembaga tidak ada (honor) sama sekali,” katanya.

Sebagai kepala sekolah, Sukirno berharap ada jalan keluar bagi nasib para tenaga honorer.

Termasuk Anang yang saat ini belum masuk Dapodik dan statusnya hanya diperbantukan di SDN Gondang.

“Kami sangat mengharapkan (ada jalan keluar) dengan nasib-nasib saudara-saudara ini. Ke mana kami harus mengadu, ke mana kami harus menyampaikan,” pungkas Sukirno.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.