Ending Rohendi, Saksi Hidup Denyut Pedagang Onderdil Bekas di Jalan Cibeunying
January 25, 2026 12:11 AM

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Melintasi Jalan Cibeunying, Kota Bandung, mata akan disuguhi pemandangan khas yang kontras dengan kafe-kafe kekinian di sekitarnya. 

Deretan lapak semi permanen berjajar rapat di sepanjang trotoar, dipenuhi berbagai suku cadang sepeda motor, mulai dari shockbreaker, velg, cakram, knalpot, body motor hingga roda dan komponen bekas lainnya. 

Onderdil-onderdil tersebut digantung di dinding kios atau ditata menumpuk di depan lapak, sebagian bahkan meluber hingga ke bahu jalan. 

Di sinilah Ending Rohendi (70), Ketua Penjual Onderdil dan Alat Mesin di Cibeuying Utara menghabiskan separuh hidupnya menjaga denyut nadi perdagangan kaki lima tersebut.

Ending adalah saksi hidup bagaimana kawasan ini berubah. Ia sudah berjualan sejak tahun 1974, bermula dari memikul barang keliling hingga akhirnya menetap di Cibeunying pada tahun 2000. 

Gempuran zaman dan alih fungsi lahan perlahan menggerus jumlah pedagang di deretan jalan ini.

"Kalau di sini sampainya ya sekitar 30 (pedagang). Sekarang cuman paling-paling ada 20-an. Karena ini udah dipakai kafe kopi kan," ujar Ending, saat berbincang dengan Tribunjabar.id, Sabtu (24/1/2026).

Meski jumlah pedagang menyusut, Cibeunying tetap punya magnet tersendiri bagi para pemburu onderdil. 

Berbeda dengan pasar daring yang dingin, transaksi di sini hangat dan terbuka. Menurut Ending, para pengunjung sering kali datang bukan sekadar membeli, tetapi "nangkring" sembari berdiskusi soal mesin. 

Ending menyebut, kunci bertahan puluhan tahun di jalanan ini adalah kepercayaan.

 Ia menjamin tidak ada praktik percaloan yang merugikan pembeli di wilayahnya.

"Di sini, enggak ada calo. Jadi kalau barang enggak jelek, bisa kembali. Kalau bagus, bagus. Jadi itu anak-anak (pedagang lain). Kalau di sini kebanyakannya cari sambil jalan-jalan, karena enak di sini cuacanya."

Barang yang dijual di sepanjang jalan ini pun beragam. Mulai dari alat teknik pertukangan hingga komponen motor lawas yang kini menjadi buruan kolektor. 

Bagi Ending, tantangan terbesar saat ini adalah perubahan teknologi mesin. 

Ia mengaku lebih akrab dengan motor-motor tua seperti tipe bebek atau GL ketimbang motor matic atau listrik yang kini merajai jalanan.

Namun, justru ketidaktahuan itu yang membuat lapaknya menjadi spesialis barang-barang jadul yang sulit dicari di bengkel modern.

"Apalagi sekarang kan ada motor listrik, jadi belum ada barangnya," ucapnya. 

Di balik kerasnya besi dan oli, para pedagang di Cibeunying, perihal toleransi bukan sekadar jargon, melainkan aturan tak tertulis yang dipatuhi bersama. Pasalnya, lokasi berjualan berdampingan dengan gereja. 

Ending dan rekan-rekannya sepakat untuk memundurkan jam buka lapak setiap hari Minggu demi menghormati ibadah jemaat.

"Minggu di sini mulai jam 11.00 karena ini gereja, saling menghargai. Kalau hari biasa jam 8.00 WIB," kata Ending.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.