Longsor Hantam Sentra Paprika Jabar, Pengamat Ekonomi: Kawasan Pertanian Harus Dimitigasi
January 25, 2026 12:11 AM

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), yang selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung pertanian tersubur di Jawa Barat, kini dilanda duka akibat bencana longsor.

Material longsoran menimbun lahan pertanian warga dan mengancam roda ekonomi desa yang selama ini bertumpu pada sektor agraris.

Berdasarkan data situs resmi Open Data Bandung Barat, jumlah penduduk Desa Pasirlangu pada 2022 tercatat sebanyak 10.926 jiwa.

Sebagian besar warga menggantungkan hidup dari pertanian, memanfaatkan tanah vulkanik dataran tinggi yang subur.

Pasirlangu bukan desa pertanian biasa. Wilayah ini dikenal sebagai sentra utama penghasil paprika di Jawa Barat.

Baca juga: Banjir dan Longsor Terjang Sukabumi, Puluhan Rumah dan Lahan Pertanian Warga Rusak

Ditinjau dari data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan Kabupaten Bandung Barat menjadi produsen paprika terbesar di Jabar pada 2024 dengan produksi mencapai 1.596 ton dari total produksi provinsi sebesar 2.281 ton.

Bahkan, produksi tersebut mengantarkan  Desa Pasirlangu menempati posisi kedua  Kabupaten Bandung dengan produksi 492 ton.
Selain paprika, warga Pasirlangu juga mengandalkan komoditas bunga potong, sayur-mayur, dan waluh sebagai sumber penghasilan.

 Seluruh komoditas tersebut kini terancam lumpuh akibat lahan yang tertimbun longsor.

Pengamat Ekonomi Universitas Pasundan (Unpas), Acuviarta Kartabi, menilai dampak bencana ini tidak hanya dirasakan petani, tetapi berpotensi memengaruhi harga komoditas di wilayah Bandung Raya.

“Eskalasinya cukup besar, lahannya luas. Itu pasti berdampak terhadap harga komoditas, baik karena gangguan produksi maupun faktor spekulasi,” ujar Acuviarta, kepada Tribunjabar.id, Sabtu (24/1/2026).

Ia menjelaskan, di lapangan kerap muncul narasi pasokan berkurang akibat bencana, yang kemudian dimanfaatkan untuk menaikkan harga.

Baca juga: Dari Jerami Jadi Energi, Terobosan Riset untuk Energi Ramah Lingkungan dan Pertanian Berkelanjutan

Dikatakan Acuviarta, meski secara teori pasokan bisa dialihkan dari daerah lain, gangguan tetap akan terasa.

“Ini menjadi perhatian penting. Kawasan pertanian harus ditata dengan mitigasi risiko yang lebih serius agar kejadian serupa tidak terulang,” katanya.

Menurut Acuviarta, dampak langsung longsor berkaitan dengan kondisi ekonomi masyarakat setempat.

Sementara dampak tidak langsungnya menyentuh stabilitas harga dan pasokan bahan pangan, terutama komoditas paprika.

“Ini bisa berdampak langsung ke pasokan dan memicu spekulasi harga, apalagi menjelang bulan puasa yang tinggal kurang dari sebulan,” ujarnya.

Ia menilai peristiwa ini menjadi pengingat penting bagi upaya ketahanan pangan. Sentra-sentra pertanian, termasuk di Kabupaten Bandung Barat, perlu terus diperkuat dengan perencanaan mitigasi risiko.

“Produksi pangan itu tidak lepas dari risiko perubahan cuaca ekstrem dan bencana. Ke depan, pengembangan kawasan pertanian harus dibarengi dengan perhatian serius terhadap potensi risiko tersebut,” kata Acuviarta.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.