TRIBUNJATIM.COM - Inilah kisah perjuangan Ika, ibu di Kota Medan yang tiap hari memulung sampah demi bertahan hidup dan sekolahkan anak.
Tempat pembuangan akhir (TPA) sampah di Kelurahan Terjun, Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara menjadi tempat Ika mengais rezeki.
Saat ditemui, Ika sedang duduk di atas becak motor dilengkapi payung tenda bersama ibu-ibu, yang istirahat, menghindar dari panasnya cahaya matahari.
Cara kerja Ika adalah mengumpulkan sampah satu-satu, seperti kaleng, botol minuman mineral, plastik asoy, dan karung plastik.
"Habis itu dipilah-pilah, sesuai jenis. Nanti baru dibawa ke tengkulak untuk dijual. Kalau saya semua saya ambil, yang laku dijual," kata Ika, yang mengenakan hijab dan bertopi sebelum mulai memilah dan memilih sampah pada Sabtu (24/1/2026), melansir dari Kompas.com.
Baca juga: Sehari Cuma Dapat Rp20.000 dari Mulung, Ibu Masak Ayam Hasil Mungut di Tempat Sampah Sekitar TPA
Perempuan 42 tahun itu mengaku tidak setiap hari bisa mendapatkan sampah dalam jumlah besar, terkadang hanya 50 kilogram karena memilih yang bagus-bagus saja, seperti karung plastik.
Bila hanya mengumpulkan plastik asoy bisa dapat ratusan kilogram.
Harga plastik per kilogram Rp 1.000.
Dari hasil pengumpulan sampah, Ika yang bekerja bersama suaminya bisa memperoleh uang senilai Rp 80.000 sampai Rp 90.000 setiap hari.
Namun, jumlah itu tidak selamanya stabil, terkadang beda-beda, tergantung proses pencariannya juga.
"Itu kalau banyak nyari, tapi kalau banyak duduknya, enggak juga. Kalau malas-malas ya cuma Rp 50.000," kata Ika.
Ika mengakui penghasilannya dari memulung sampah sekitar dua juta rupiah setiap bulan.
Dari situ ia masih menyisihkan atau menyimpan sedikit untuk jaga-jaga mana tahu ada yang sakit.
"Enggak bisa menyimpan sampai banyak," ucap Ika.
Tanpa ragu, Ika mengatakan bahwa penghasilan itu sebenarnya pas-pasan, termasuk biaya untuk tiga anaknya yang saat ini duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah kejuruan (SMK).
Lokasi TPA dengan rumah Ika tak begitu jauh, atau sekitar 2 kilometer.
Masih bisa terlihat dari tumpukan sampah yang menjulang tinggi sekitar 50 meter.
Jadi, Ika tidak perlu lagi mengeluarkan biaya tambahan untuk pergi mencari sampah berkualitas untuk dijual.
Di satu sisi, jarak itu memang memiliki pengaruh bagi kesehatan, tetapi di sisi lain mempermudah Ika dan banyak warga Kelurahan Terjun lainnya memperoleh pekerjaan dengan mudah.
Karena itu, bagi Ika, itu tidak masalah, apalagi banyak juga orang luar Medan yang datang mencari nafkah di TPA ini.
"Kalau bagi kami keberadaan tempat ini bermanfaat karena dari sinilah aku bisa nyambung hidup, menyekolahkan anak. Bagi orang lain ini mungkin buruk," tutur Ika, sambil meracik es batu campur minuman berenergi yang dipesan pemulung, sopir, dan kernet truk sampah.
Lagian, kata Ika, mau kerja di tempat lain, seperti pabrik atau perusahaan, tidak mungkin lagi diterima karena umur sudah cukup tua.
"Ada yang dekat dan bisa menghasilkan, kenapa tidak, kan begitu," ucapnya.
Di tengah kesibukannya mencari sampah, Ika ternyata membuka usaha sampingan, yaitu menjual es batu, yang dibekukan di dalam botol minuman mineral dengan ukuran 1.500 mililiter.
Dia menjual minuman segar itu Rp 2.000 per botol yang diberi rasa, sedangkan minuman yang berasa seharga Rp 4.000 per botol.
"Satu hari tidak tentu dibawa berapa botol. Tapi, habis semua setiap hari. Kadang dibawa 25 botol. Kalau disusun bagus bisa sampai 30 botol," kata Ika, sambil mengambil es batunya dari dalam karung goni.
Ika mengatakan, anak-anaknyalah yang membuat dirinya tetap semangat dalam menjalankan pekerjaan tersebut.
Ia bertekad, kelak ketiga anaknya bisa menjadi orang yang memiliki keahlian di bidangnya dan lebih baik dari pekerjaan orangtuanya.
"Yang bikin saya semangat tetap bekerja di sini, ya anak-anak juga. Karena merekalah saya harus berusaha supaya mereka berhasil. Kan enggak mungkin mamaknya ambil butut, anaknya ambil butut juga. Kalau bisa anaknya jangan," ucap Ika, mulai memasang sarung tangan dan mengasah ganju untuk mulai kerja.
Ika dan suaminya sudah menggeluti pekerjaan ini selama delapan tahun terakhir.
Mereka mulai bekerja pukul 10.00 WIB pagi setelah mempersiapkan keperluan anak-anaknya sekaligus mengantar ke sekolah.
Ika baru pulang kerja pukul 17.00 WIB dan sampai di rumah jam enam sore sebelum maghrib tiba.
Di tengah bau sampah dan terik yang tak pernah benar-benar ramah, Ika menanam harapan sederhana: agar kelak anak-anaknya tidak perlu mengais hidup dari tumpukan yang sama, melainkan berdiri di tempat yang lebih baik daripada orangtuanya.
Kondisi memprihatinkan warga masih ditemukan di sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.
Hal itu diketahui dari sebuah video yang diunggah Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dalam kunjungannya pada Minggu (13/7/2025) sore.
Ia menyusuri permukiman kumuh yang berdiri di sekitar kawasan sampah.
Kemudian Dedi menemui langsung warga yang hidup dalam kondisi serba kekurangan.
"Sore ini saya coba jalan-jalan ke area TPA Sarimukti," kata Dedi dalam video yang diunggah melalui akun media sosial dan dikonfirmasi ulang oleh Kompas.com.
"Menyusuri rumah-rumah yang kumuh, yang penuh dengan lalat," imbuhnya.
Baca juga: Tiap Hari Bayi 9 Bulan Tidur di Dalam Gerobak Sampah, Ibu Terpaksa Ajak Mulung hingga Malam
Dalam video tersebut, Dedi berbincang dengan seorang ibu berkerudung yang tengah bersama anak kecil perempuan serta suaminya yang berada di belakang.
Rumah keluarga kecil tersebut tampak sempit dan memprihatinkan.
Kepada Dedi, ibu tersebut mengaku belum memiliki beras untuk dimasak karena tidak memiliki uang.
Dari hasil memilah sampah, ia hanya bisa memperoleh pendapatan antara Rp20.000 hingga Rp30.000 per hari.
"Ibu ini belum punya beras. Kenapa?" tanya Dedi.
"Karena belum punya uang," jawabnya dengan lirih.
"Sehari ibu cuma dapat Rp20.000, paling gede Rp30.000, ya," ujar Dedi yang diiyakan oleh ibu tersebut.
Yang mengejutkan, saat ditanya dari mana daging ayam di dalam panci, ia menjawab hasil pungut dari tempat sampah oleh suaminya.
"Ayamnya dari mana, Bu?" tanya Dedi sambil mengangkat panci berisi potongan daging ayam yang baru beres direbus.
"Dari tempat sampah," jawabnya.
"Dipungut oleh suami, terus dimasak?" tanya Dedi sambil menatap penuh keprihatinan.
Ibu tersebut cuma mengangguk.
Baca juga: Tak Mau Bebani Anak Kandung, Nenek Wa Ade & Cucu Tinggal di Bekas Pos Ronda, Makan dari Mulung
Menanggapi kondisi tersebut, Dedi menegaskan akan segera melakukan penataan di kawasan tersebut.
Ia berjanji akan merapikan permukiman kumuh.
Dedi juga akan mencarikan tempat tinggal yang lebih layak bagi warga yang selama ini menggantungkan hidup dari aktivitas memilah sampah.
"Nanti dalam waktu tidak terlalu lama, ini semuanya akan saya rapikan, bereskan. Rumah-rumah kumuhnya akan ditata."
"Karena mereka kerjanya di sini, saya carikan tempat. Selama ini ditata, mereka pulang dulu, cari kontrakan di sekitar sini," ujarnya.
Kondisi lingkungan yang kotor dan tidak layak huni, menurut Dedi, tidak bisa dibiarkan terus berlangsung.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat, lanjutnya, akan segera mengambil langkah nyata demi memastikan masyarakat di sekitar TPA Sarimukti hidup lebih layak.
"Ya, ini keadaannya. Kotornya luar biasa. Nanti kita rapikan," pungkas Dedi.