TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, Depok - Hasil laboratorium akhirnya mematahkan tuduhan aparat terkait dagangan es gabus berbahan spons yang sempat viral di media sosial beberapa waktu belakangan.
Viralnya tudingan dari dua pria berseragam TNI dan Polri itu spontan memicu keresahan publik.
Dalam video yang viral, keduanya menuding seorang pedagang es gabus di Kemayoran, Jakarta Pusat, menjual produk berbahan spons.
Es gabus adalah jajanan tradisional khas Indonesia yang terbuat dari tepung hunkwe atau tepung kanji, gula, santan/susu, dan pewarna, lalu dibekukan sehingga teksturnya lembut dan ringan seperti gabus.
Dikutip Tribunlampung.co.id dari TribunJatim.com, Polres Metro Jakarta Pusat sampai turun tangan melakukan klarifikasi.
Dalam video tersebut, seorang pria berkaos dengan tulisan 'POLISI' di punggungnya menjelaskan dugaan bahan kue dari spons.
Ia tampak memegang makanan tersebut di depan pedagang yang sudah lanjut usia.
"Penjual es kue jadul, yang dulu pernah kita makan," kata pria berpakaian polisi dalam video yang diunggah di akun media sosial, melansir Tribunnews.com.
"Nah, sekarang harap hati-hati bagi orang tua ya, karena ini sudah rekayasa, bukan bahan kue lagi, tapi bahan spons," imbuhnya.
"Ini bisa kita lihat bahan spons dibakar dia meleleh ya," lanjut dia.
Penjual es gabus tersebut tampak terdiam ketika mendengar dagangan yang biasa dibeli anak-anak itu dituding berbahan spons.
Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Pusat, AKBP Roby Heri Saputra menjelaskan, pihaknya menerima laporan kejadian itu melalui Call Center 110 pada Sabtu (24/1/2026).
Laporan menyebutkan, es kue atau es gabus diduga berbahan Polyurethane Foam.
"Begitu informasi diterima, kami langsung bergerak cepat melakukan pengecekan ke lokasi," kata Roby, dalam keterangan ke wartawan, Minggu (25/1/2026).
"Barang dagangan milik pedagang kami amankan untuk diuji lebih lanjut, karena keselamatan masyarakat adalah prioritas," lanjut dia.
Baca juga: Kasus Suami yang Jadi Tersangka Usai Bantu Istri Kena Jambret Berakhir via RJ
Tim Keamanan Pangan Dokpol Polda Metro Jaya melakukan pemeriksaan awal terhadap es kue, es gabus, agar-agar, hingga coklat meses.
Hasilnya, produk es kue yang dijajakan bapak pedagang tersebut dipastikan tidak mengandung bahan berbahaya.
"Tim DOKKES telah melakukan pemeriksaan menyeluruh dan hasilnya jelas: produk tersebut layak dikonsumsi atau tidak mengandung zat berbahaya."
"Untuk menjamin ketenangan publik, kami juga mengirim sampel ke Dinas Kesehatan dan Laboratorium Forensik Polri," jelas Roby.
Polisi juga mendatangi tempat pembuatan es gabus tersebut di Depok, Jawa Barat.
Hasilnya tetap sama, jajanan anak-anak yang dijual pedangan tersebut tidak ditemukan penggunaan bahan spons.
Karena dari penyelidikan sementara tidak ditemukan adanya dugaan pidana, pedagang es kue bernama Suderajat (49) tersebut kemudian dipulangkan ke rumahnya.
"Kami memahami pedagang kecil sangat bergantung pada hasil jualan hariannya. Karena itu, sebagai wujud empati, kami mengganti kerugian atas barang dagangan yang harus diuji," ujar Roby.
Roby menegaskan, masyarakat diminta tidak mudah percaya isu viral yang belum jelas kebenarannya.
"Isu seperti ini cepat sekali viral di media sosial, padahal belum tentu benar. Kami minta masyarakat lebih bijak, cek faktanya terlebih dahulu."
"Bila menemukan dugaan pelanggaran, segera laporkan melalui Call Center 110 agar dapat ditangani dengan benar," tutupnya.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa isu viral bisa menimbulkan keresahan, namun klarifikasi faktual tetap penting.
Pedagang kecil terlindungi, masyarakat pun mendapat kepastian produk aman.
Es kue atau es gabus merupakan jajanan tradisional berbasis tepung dan santan yang dibekukan, lalu dipotong-potong kecil sebelum dijual.
Nama gabus tidak merujuk pada bahan baku pembuatannya, melainkan pada teksturnya yang ringan, berpori, dan empuk saat digigit.
Tekstur inilah yang dianggap seolah menyerupai gabus atau spons, sehingga es ini dikenal dengan nama es gabus.
Secara visual, es gabus umumnya berbentuk balok panjang yang dipotong kecil-kecil.
Warnanya cenderung cerah atau pastel, seperti merah muda, hijau, atau cokelat, bergantung pada pewarna makanan yang digunakan.
Es ini biasanya dibungkus plastik kecil tanpa tusuk dan dijajakan secara keliling atau di lingkungan permukiman.
Secara umum, es gabus dibuat dari bahan-bahan sederhana, antara lain tepung (seperti tepung hunkwe, sagu, atau tapioka) yang dicampur dengan santan, gula, dan air.
Beberapa penjual menambahkan vanili atau perisa sederhana untuk memperkuat aroma.
Adonan tersebut dimasak hingga mengental, kemudian dituangkan ke dalam loyang atau cetakan dan didinginkan hingga membeku.
Setelah beku, adonan dipotong-potong sesuai ukuran jual.
Proses inilah yang menghasilkan tekstur khas es gabus, seperti kenyal, ringan, dan berpori.
Tekstur tersebut kerap disalahpahami karena berbeda dengan es krim berbahan susu atau es lilin yang lebih padat.
Padahal, pori-pori pada es gabus terbentuk secara alami dari komposisi tepung dan proses pembekuan.
Dari segi rasa, es gabus cenderung manis ringan dengan sentuhan gurih dari santan.
Teksturnya cepat meleleh di mulut dan tidak creamy.
Tidak ada catatan pasti tentang darimana daerah asal-usul es gabus ini.
Namun, es gabus mulai populer sejak era 1980–1990-an, seiring maraknya jajanan es rumahan seperti es lilin, es mambo, dan es potong pada masa itu.
Jajanan-jajanan ini banyak dijumpai di lingkungan sekolah dan permukiman yang dijajakan oleh pedagang keliling.
Es gabus dikenal sebagai jajanan dengan harga sangat terjangkau.
Secara umum, satu potong es gabus dijual dengan harga sekitar Rp1.000 hingga Rp3.000.
Meski dugaan penggunaan bahan berbahaya dalam kasus es gabus di kawasan Kemayoran tersebut terbukti keliru, namun peristiwa ini menjadi pengingat bagi orang tua untuk tetap memperhatikan jajanan yang dikonsumsi anak-anak.
Orang tua harus tetap melakukan pengawasan agar anak terhindar dari jajanan yang berpotensi mengandung pemanis atau pewarna buatan berlebihan, serta memastikan makanan yang dikonsumsi aman dan layak.