BANGKAPOS.COM, CISARUA -- Hujan rintik sesekali turun di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Senin (26/1). Udara dingin menyelimuti teras sebuah masjid kecil yang berdiri tak jauh dari Posko Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Barat. Di tempat itu, keluarga korban longsor duduk dalam penantian panjang—menunggu kabar orang-orang terkasih yang hingga kini belum ditemukan.
Mereka duduk melingkar. Ada yang bersandar pada pilar masjid, ada pula yang memeluk lutut sambil menunduk. Tatapan mata mereka hampir selalu mengarah ke pintu posko DVI. Setiap kali suara ambulans terdengar mendekat, tubuh-tubuh yang letih itu refleks berdiri. Harapan kembali tumbuh, meski sering kali dibarengi kecemasan.
Beberapa warga bergegas menghampiri petugas yang turun dari ambulans. Pertanyaan terlontar nyaris bersamaan.
“Siapa itu, Pak? Laki-laki atau perempuan? Bagaimana kondisinya?” tanya Adria (30), suaranya bergetar.
Adria telah berada di Posko DVI sejak hari pertama longsor terjadi, Sabtu (24/1). Tiga hari bertahan dalam ketidakpastian membuat wajahnya tampak sembab.
Sesekali ayah dua anak itu menarik napas panjang, mencoba meredam lelah yang bercampur cemas.
“Total keluarga saya ada 13 orang. Baru tiga yang ditemukan. Sepuluh lainnya belum,” ujarnya lirih.
Mereka yang belum ditemukan adalah keluarga inti sepupu, istri sepupu, dan keponakan—yang rumahnya berada tepat di jalur
longsoran.
Di teras masjid itu, waktu terasa berjalan lebih lambat. Azan yang berkumandang bukan sekadar panggilan salat, melainkan penanda bahwa kehidupan di luar duka tetap berjalan.
Bagi keluarga korban, dunia seolah berhenti sejak longsor merenggut rumah dan orang-orang tercinta.
Adria dan warga lain menaruh harapan besar kepada tim gabungan yang masih melakukan pencarian. “Semoga yang belum ditemukan segera ditemukan. Dan yang ditinggalkan diberi ketabahan,” katanya.
Ia mengaku keluarganya termasuk yang selamat.
Rumah keluarga besarnya berada tepat di tengah jalur longsor dan hancur tak bersisa. Sementara rumahnya yang berada di sisi lereng luput dari terjangan langsung. “Rumah keluarga habis semua. Kalau rumah saya di samping, jadi tidak kena langsung,” ucapnya.
Kenangan serupa masih membekas di benak Wawa (40). Pada Sabtu dini hari itu, dalam kondisi gelap dan penuh kepanikan, ia bersama puluhan warga berusaha menyelamatkan diri dari longsor di Kampung Pasir Kuda.
Rumah Wawa berada dekat titik awal longsoran. Ia mengingat, tanah bergerak dua kali. Pada longsoran pertama, warga mulai berhamburan keluar rumah.
Sekitar 30 menit kemudian, longsoran kedua datang dengan suara gemuruh yang lebih mengerikan.
“Bunyinya seperti ada yang runtuh besar. Banyak yang menjerit ketakutan,” tuturnya, Minggu (25/1).
Minimnya penerangan membuat situasi semakin kacau. Warga berteriak memanggil anggota keluarga yang terpencar, sebagian terjatuh di jalan licin. Dalam kondisi itu, warga berusaha saling menolong.
Wawa baru bisa mengungsi ke Kantor Desa Pasirlangu sekitar pukul 05.00 WIB bersama sekitar 100 warga lainnya.
Ia meninggalkan seluruh barang miliknya.
“Tidak bawa apa-apa. Cuma pakaian yang dipakai. Alhamdulillah keluarga inti saya aman,” katanya.
Namun hingga kini, sejumlah kerabatnya—paman, bibi, dan keponakan—masih belum ditemukan.
“Semoga ada yang sempat mengungsi ke tempat lain dan selamat,” ujarnya berharap.
Wawa menyebut kebutuhan mendesak di pengungsian adalah perlengkapan bayi, seperti pakaian dan susu. Sementara untuk orang dewasa, kebutuhan utama meliputi makanan, alat mandi, serta perlengkapan penghangat tubuh.
Warga Kampung Pasir Kuda dan Pasir Kuning masih mengingat jelas dahsyatnya longsor tersebut. Meski terjadi saat sebagian warga terlelap, suara gemuruh dan getaran kuat dari arah Gunung Burangrang membangunkan mereka.
“Setelah hujan dan angin, terdengar suara gemuruh seperti gempa. Kaca sampai bergetar,” ujar Neng Evi (40), korban selamat.
Pagi harinya, puluhan rumah tampak rata dengan tanah. Penghuninya menghilang. Warga pun histeris mencari sanak saudara di tengah puing dan lumpur.
Kini, lokasi longsor berubah menjadi hamparan tanah memanjang seperti sungai kering. Sisa kayu, bambu, dan material rumah berserakan. Dari kejauhan, mahkota longsor di Gunung Burangrang tampak jelas—lereng hijau yang terbelah oleh tanah cokelat.
“Saya dan warga langsung lari ke atas. Sampai sekarang belum berani kembali karena khawatir longsor susulan,” kata Evi.
Hal serupa dirasakan Ella Rohmatika (34). Tujuh anggota keluarganya dinyatakan hilang. Rumah mereka berada tepat di lokasi yang kini rata dengan tanah. (Tribun Jabar)