TRIBUNBANYUMAS.COM, PURWOKERTO - Kondisi kabel-kabel yang membentang di udara di sejumlah ruas jalan di Kota Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, disorot dari warga.
Selain mengganggu estetika kota, kabel yang tak tertata dinilai membahayakan pengguna jalan, terutama saat cuaca buruk.
Aprilia (35), salah seorang pengguna jalan di Purwokerto, berharap, penataan segera dilakukan sebelum kondisi semakin semrawut.
"Semoga segera dirapikan karena kalo ndak, nanti makin semrawut kaya di Jakarta."
"Soalnya, mengganggu keindahan kota."
"Apalagi kalau mau motret cityscape, kabel yang tak tertata bikin fotonya tidak bagus," kata Aprilia kepada Tribunbanyumas.com, Selasa (27/1/2026).
Baca juga: Pastikan Layanan Kesehatan Tanpa Hambatan, Pemkab Banyumas Sediakan Rp 105 M untuk UHC Non Cut Off
Menurutnya, kabel yang melintang di atas jalan juga berpotensi membahayakan pengguna jalan.
"Kabel yang melintang juga berbahaya, takut kesangkut."
"Beberapa kali kalau cuaca buruk, kena angin, tiba-tiba kendur dan bisa kena pengguna jalan," ujarnya.
Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono mengaku menaruh perhatian terhadap kondisi kabel udara yang semrawut.
Sadewo pun telah mewacanakan kerja sama dengan pihak ketiga untuk penataa kabel udara menjadi kabel bawah tanah.
Dengan begitu, penataan tidak perlu menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Banyumas yang terbatas.
"Nah, saya ingin bekerja sama dengan pihak ketiga tanpa APBD."
"Kemudian, pengembaliannya dari mana?"
"Dengan efisiensi kita hitung, kan di samping kita membayar ke PLN, kita juga dapat pajak dari PLN," ujarnya.
Menurutnya, pendapatan dari Pajak Penerangan Jalan Umum (PPJU) dapat menjadi skema pengembalian investasi kepada investor.
"Pendapatan dari PPJU itu yang akan digunakan oleh investor itu."
"Mungkin bisa lima tahun atau 10 tahun," jelasnya.
Baca juga: Guru PKBM di Banyumas Kritik Wacana Pengangkatan Pegawai MBG Jadi PPPK: Itu Benar-benar Melukai
Ia menyebut, ada pihak yang telah berminat bekerja sama.
"Salah satu yang berminat adalah PT Bali apa apa itu, yang bawa Pak Prof Sony Sumarsono."
"Itu saya yakin, dengan dukungan teman-teman OPD bisa berjalan," kata Sadewo.
Sadewo mengakui, skema kerja sama investasi tersebut memiliki risiko namun menurutnya, pemimpin harus berani mengambil keputusan strategis.
"Ada risiko tidak? Ada pasti."
"Tapi, seorang pimpinan dalam tataran apa pun harus berani mengambil risiko," ujarnya. (*)