TRIBUNBANYUMAS.COM, BANYUMAS – Di balik kesederhanaan Kantor Kecamatan Banyumas saat ini, tersimpan jejak sejarah kebesaran masa lalu.
Kawasan yang kini dikenal sebagai "Kota Lama Banyumas" ini dulunya adalah pusat pemerintahan Kadipaten Banyumas sebelum akhirnya diboyong ke Purwokerto.
Camat Banyumas, Jakarta Tisam atau akrab disapa Jek, menuturkan bahwa kantor yang ia tempati adalah Kantor Bupati Banyumas yang kedua.
Baca juga: Daftar 13 Gapoktan Banyumas Penerima Bantuan Alsintan, Sartim: Terima Kasih Pak Prabowo!
Dalam Babad Banyumasan, Bupati pertama Joko Kahiman (Adipati Mrapat) awalnya mendirikan pemerintahan di Desa Kalisube (1582-1583).
"Joko Kahiman mendirikan pusat pemerintahan di Desa Kalisube. Persis dekat dengan pohon tembaga, saat ini pohonnya masih ada," kisah Jek kepada Tribunbanyumas.com, Selasa (27/1/2026).
Barulah pada era Raden Tumenggung (RT) Yudanegara II (Bupati ke-7, periode 1707-1745), pusat pemerintahan dipindahkan ke lokasi yang sekarang menjadi kawasan Alun-alun Banyumas.
Alasan pemindahan tersebut berbau spiritual dan strategis.
"Beliau melihat ada Sumur Mas di sini, beliau memindahkan pusat pemerintahan ke sini. Di sini, beliau mendirikan kantor dan pendopo," ungkap Jek.
Menariknya, RT Yudanegara II memiliki garis keturunan langsung dengan tokoh nasional saat ini.
Ia disebut sebagai kakek moyang dari Presiden ke-8 Republik Indonesia, Prabowo Subianto.
RT Yudanegara II wafat di pendopo yang ia bangun, sehingga mendapat julukan Adipati Seda Pandapa (Adipati yang meninggal di Pendopo).
Secara tata ruang, kawasan Kota Lama Banyumas memiliki konsep yang agung, mirip dengan Keraton Yogyakarta.
Jek menjelaskan adanya garis imajiner yang kuat.
"Memang di sini sedikit menyerupai Kraton Jogja. Secara peta, ada pendopo, lalu selatannya ada Alun-alun, selatannya lagi rumah residen.
Lalu jika ditarik ke utara lurus dengan Gunung Slamet dan ditarik ke selatan lurus dengan Pantai Selatan," paparnya.
Namun, pada tahun 1937 atau era Kolonial Belanda, pusat pemerintahan beserta Pendopo Si Panji yang asli dipindahkan (diboyong) ke Purwokerto karena alasan strategis ekonomi (pabrik gula).
Bangunan pendopo yang ada di Kecamatan Banyumas saat ini adalah duplikat yang dibangun kembali tahun 1970-an dan kini diberi nama "Balai Adi Mrapat".
Kini, kawasan ini terus dijaga sebagai pusat budaya (Heritage) dengan berbagai event tahunan seperti Pekan Banyumasan untuk melestarikan tradisi bagi generasi muda. (fba)