Danantara Waspada IHSG Jadi Setara Bangladesh-Togo, Minta Regulator Bertindak
kumparanBISNIS January 29, 2026 04:19 PM
Danantara Indonesia mewanti-wanti regulator untuk mengantisipasi potensi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun kasta dari status emerging market menjadi frontier market.
IHSG anjlok lebih dari 8 persen dan mengalami trading halt dua kali dalam dua hari berturut-turut usai Morgan Stanley Capital International (MSCI) membekukan sementara rebalancing indeks di pasar saham Indonesia, hingga otoritas terkait menemukan menjamin mekanisme free float.
Chief of Investment (CIO) Danantara Indonesia, Pandu Sjahrir, mengatakan jika tidak ada perubahan dari regulator Indonesia terkait peringatan MSCI tersebut dalam 4 bulan mendatang, maka IHSG akan jatuh.
"At the end regulator harus bisa bertindak. Saya lagi baca list frontier market, karena, kan, persiapannya ke frontier market sekarang. Ada negara seperti Bangladesh, Burkina Faso, Niger, Pakistan, Senegal, Togo, Tunisia. Mungkin ini cita-cita dari regulasi, saya enggak tahu," tegasnya saat Prasasti Economic Outlook 2026, Kamis (29/1).
Pandu menegaskan, Danantara sebagai salah satu investor pasar modal Indonesia hanya bisa menyerahkan segala keputusan kepada regulator, baik itu Bursa Efek Indonesia (BEI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).
"Buat kami di Danantara, fokus kami berinvestasi. Tentu salah satunya di public market. Ya, kami ingin capital market yang lebih dalam. Ini sudah kami sampaikan secara eksplisit. Kami ingin pasar modal yang lebih sehat dan lebih baik," katanya.
Perbesar
Pengunjung memotret layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (29/1/2026). Foto: Asprilla Dwi Adha/ANTARA FOTO
Dia juga menilai, segala gejolak yang terjadi di bursa saham saat ini adalah masalah investor yang menggoreng saham, melainkan kembali kepada sistem dan regulator yang membuatnya.
"Saya mungkin agak kenceng karena urusan-urusan bahasanya goreng-menggoreng. Bahasa saya never hate the player, hate the game. Saya enggak pernah nyalahin, kok, misalnya ada beberapa grup bisnis bilang oh sahamnya jadi naik. They're just playing the rule of the engagement," jelasnya.
"If you don't like the rule of engagement, change the rule of engagement. Ini balik ke regulator," tegas Pandu.
Pandu juga memprediksi jika akhirnya IHSG menjadi frontier market, maka akan terjadi aliran modal asing yang keluar alias capital outflow. Hal ini seiring dengan pandangan para analis bahwa skenario paling ekstrem adalah MSCI menurunkan status IHSG menjadi frontier market.
"Kalau untuk perubahan dari market sekarang ke frontier market, kurang lebih USD 25-50 billion outflow," ungkapnya.
Adapun Goldman Sachs Group Inc., menurunkan peringkat saham Indonesia menjadi underweight karena kekhawatiran MSCI terkait aspek kelayakan investasi (investability) yang berpotensi memicu arus keluar lebih dari USD 13 miliar.
Para analis mencatat dalam skenario ekstrem, apabila Indonesia diklasifikasikan ulang dari pasar berkembang menjadi pasar frontier, dana pasif yang mengikuti indeks MSCI berpotensi melepas saham hingga USD 7,8 miliar. Selain itu, arus keluar dana senilai USD 5,6 miliar juga dapat terjadi apabila FTSE Russell meninjau ulang metodologi free float dan status pasar Indonesia.