TRIBUNJAMBI.COM, MUARA BULIAN - Hingga kini, dalam lima tahun terakhir, setidaknya ada tiga kasus pembunuhan di Kabupaten Batang Hari, Provinsi Jambi, yang masih misteri.
Terkendala keterangan saksi, hingga jarak lokasi yang cukup jauh membuat minimnya petunjuk untuk petugas kepolisian mengungkap kasus tersebut.
Seorang warga berinisial H menemukan jasad seorang laki-laki di dalam parit gajah PT Delima Muda Perkasa (PT DMP) yang bergerak di perkebunan sawit pada Senin (27/3/2023) dini hari.
Mayat tanpa identitas (Mr X) ditemukan sekitar pukul 03.50 WIB di Desa Simpang Rantau Gedang, Kecamatan Mersam, Kabupaten Muaro Jambi.
Saat mengendap di parit, ia terkejut melihat ada mayat tak dikenal dalam posisi telungkup miring ke kiri.
Penemuan itu langsung ia laporkan ke petugas keamanan setempat. Sesaat kemudian, warga heboh.
Polisi datang. Kasus dibuka. Jenazah dievakuasi oleh Tim Inafis Polres Batanghari, dibawa ke RSUD Hamba, Muara Bulian, untuk divisum.
Kasat Reskrim Polres Batang Hari saat itu, AKP Piet Yardi memastikan jasad pria yang ditemukan di parit kebun itu merupakan korban pembunuhan.
Dugaan pembunuhan ini diperkuat kondisi mayat saat ditemukan dan hasil autopsi.
Jenazah pria itu ditemukan dengan posisi terbaring miring ke kiri di parit pembatas kebun. Ada darah pada bagian hidung dan mulutnya.
Konon, saat itu polisi sudah mengantongi identitas terduga pelaku pembunuhan.
"Kita sudah mengantongi identitas pelaku yang diduga sebagai pelaku pembunuhan," kata dia saat itu.
Kasus pun naik dari penyelidikan ke penyidikan. Namun, penelusuran Tribunjambi.com, hingga kini belum ada informasi lanjutan terkait identitas maupun pelaku pembunuhan pria di kawasan PT DMP tersebut.
Pada 27 Februari 2024, seorang perempuan ditemukan mengapung di kolam di lokasi tambang bekas galian batu bata di Jalan Baru Paal 6, Kampung Baru, Kecamatan Muara Tembesi, Kabupaten Batang Hari.
Tubuhnya penuh luka tusuk. Jasadnya juga mulai rusak, membuatnya tidak bisa langsung dikenali saat jenazah itu ditemukan.
Belakangan, dari hasil identifikasi diketahui wanita itu adalah Nasyifa (20).
Warga geger, mengutuk pelaku pembunuhan sadis itu. Apa lagi, beberapa waktu sebelum gadis itu ditemukan dalam kondisi mengenaskan, keluarga sempat melapor ke polisi.
Keluarga hanya minta keadilan. Mereka ingin pelaku ditangkap dan diadili.
Polisi bergerak. Mereka melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), memeriksa sejumlah saksi, dan mencari berbagai petunjuk.
Kapolda saat itu, Irjen Pol Rusdi Hartono, juga didesak untuk mengungkap kasus itu.
Kendati hampir dua tahun berlalu, kasus itu masih menyisakan tanda tanya.
Kapolres Batang Hari saat ini, AKBP Arya Tesa Brahmana tetap optimis kasus ini akan terang.
Beberapa waktu lalu, pihaknya menggelar ulang perkara ini dan akan melakukan pemeriksaan tambahan terhadap sejumlah saksi.
"Perkara ini sudah kami lakukan gelar kembali. Adapun hasil gelar tersebut akan dilakukan pemeriksaan tambahan terhadap beberapa saksi," ia mengonfirmasi, Kamis (29/1/2026).
Sampai saat ini polisi sudah memeriksa 27 orang saksi. Walakin, tersangka dalam kasus ini masih dalam tahap penyelidikan dan belum ditetapkan.
"Untuk tersangka masih dalam penyelidikan. Kasus ini akan terus kami kembangkan dan kami akan melengkapi apa saja yang masih kurang," jelasnya.
Dua tahun berlalu, barang bukti tambahan terkait perkara ini juga belum mereka temukan.
Kendalanya, posisi dari beberapa saksi sudah tidak berada di tempat, sehingga menyulitkan proses pendalaman keterangan.
"Untuk kendala memang ada, yaitu posisi dari beberapa saksi sudah tidak berada di tempat lagi. Kendati demikian, kami terus berupaya untuk mencari saksi-saksi tersebut," ujarnya.
Pagi hari, 25 September 2025, sekitar pukul 07.30 WIB, Mangatur Sitohang yang hendak bekerja di kebun milik Erlances Pakpahan (42) dan Eva Sibatuara (31), pasangan suami istri yang tinggal di RT 45, Simpur 1, Dusun Tanjung Mandiri, Desa Bungku, Kecamatan Bajubang, Kabupaten Batang Hari.
Ia curiga karena pintu rumah tampak terbuka, namun ia Sitohang tetap memanggil.
Tak ada jawaban, ia masuk dan menemukan Eva sudah tak bernyawa.
Sitohang lari mencari bantuan dan kembali bersama seorang warga lain bernama Ari Nainggolan dan seorang pendeta.
Mereka memeriksa ke belakang rumah dan, di sana, Erlances juga terkapar, mengenaskan.
Warga setempat gempar. Keduanya dikenal sebagai pasangan yang ramah dan pekerja keras.
Sehari-hari, Pakpahan dan Boru Sibatuara mengurus kebun di sekitar rumah.
Polisi baru bisa sampai lokasi siang harinya, sekitar pukul 13.30 WIB, mengingat jarak pusat kota Muara Bulian ke lokasi sekitar 117 kilometer dan tidak semua jalan beraspal. Banyak jalur yang sulit ditempuh.
Jasad keduanya dievakuasi. Polisi memasang garis, melakukan olah TKP, dan mengamankan sejumlah barang bukti, seperti dua KTP, handphone, tiga dompet, dan karung berisi pakaian.
Jenazah keduanya dibawa RSUD Hamba Muara Bulian untuk divisum, sebelum dimakamkan di kampung halaman mereka di Sumatra Utara.
Tim gabungan dari Satreskrim, Satintelkam, dan intelijen diturunkan.
Polisi sempat menduga, motif pembunuhan adalah perselisihan dengan keluarga.
Namun, Kasi Humas Polres Batang Hari, Iptu Simbang Tatap bilang, dugaan itu masih perlu didalami.
Informasi terakhir, Kasat Reskrim Polres Batang Hari, AKP Fachri Rizky, menjelaskan pihaknya telah mengumpulkan keterangan dari belasan orang.
Mereka yang diperiksa adalah yang memiliki keterkaitan dengan korban, baik dari pihak keluarga maupun kerabat.
"Sesuai arahan Kapolres, kami telah melakukan pemeriksaan terhadap 17 saksi," katanya, Kamis (1/1/2026).
Polisi juga memperkuat penyidikan dengan melibatkan instansi ahli, berkoordinasi dengan Laboratorium Forensik Mabes Polri untuk meneliti temuan bercak darah di TKP.
Bukan itu saja, perangkat komunikasi yang ditemukan di lokasi juga sedang diperiksa.
"Terkait barang bukti yang kami amankan, kami juga berkoordinasi dengan Direktorat Siber Bareskrim Polri, khususnya mengenai gawai yang ditemukan," jelasnya.
Namun, belum ada temuan baru, baik tersangka maupun barang bukti selain yang mereka dapatkan pada penyelidikan awal.
Petunjuk di lapangan minim, mengingat lokasi penemuan jenazah pasutri itu terletak di perkebunan sawit terpencil dan jauh dari permukiman warga.
"Apabila ada perkembangan terbaru, akan kami sampaikan kembali melalui rilis resmi," jelasnya.
(Tribunjambi.com/Khusnul Khotimah, Mareza Sutan AJ)
Baca juga: Belum Ada Tersangka Kasus Rajapati Pasutri di Bungku meski Tiga Bulan Telah Berlalu
Baca juga: Terungkap Broker Alat Praktik SMK di Jambi Empat Kali Transfer Uang Makan
Baca juga: Profil Nuzran Joher, Putra Jambi Terpilih sebagai Anggota Ombudsman RI 2026-2031