SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Peluncuran program Health Tourism 2026 menjadi langkah strategis Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan untuk mengubah wajah pelayanan medis menjadi sebuah ekosistem wisata kesehatan yang kompetitif.
Melibatkan 89 rumah sakit unggulan dan kolaborasi dengan agen perjalanan, program ini menawarkan integrasi layanan medis canggih dengan wisata kuliner dan budaya guna memposisikan Sumsel sebagai pusat tujuan pengobatan nasional yang mampu bersaing dengan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.
Gubernur Sumsel Herman Deru mengatakan bahwa peluncuran Health Tourism merupakan langkah besar yang telah lama menjadi cita-cita Pemerintah Provinsi Sumsel.
"Sejak awal menjabat, saya sudah melihat potensi besar Sumsel, terutama pada dua hal utama, yakni infrastruktur kesehatan dan sumber daya manusia,” kata Deru, Jumat (30/1/2026)
Ia menegaskan bahwa keberanian Sumsel memasuki sektor wisata kesehatan harus dibarengi dengan kesiapan mental dan kepercayaan diri seluruh tenaga kesehatan dan pemangku kepentingan.
“Kunci dari layanan kesehatan adalah trust. Masyarakat harus yakin siapa yang melayani, rumah sakitnya apa, dan tenaga kesehatannya siapa. Selain kompetensi, keramahan layanan juga menjadi faktor penting dalam proses penyembuhan,” katanya.
Deru juga menyinggung persaingan global dengan negara-negara seperti Singapura dan Malaysia yang selama ini menjadi tujuan masyarakat Indonesia berobat ke luar negeri.
“Kita punya SDM kesehatan yang tidak kalah hebat. Banyak perawat dan tenaga medis kita bekerja di luar negeri. Artinya, kita pantas dan mampu memberikan layanan kesehatan berstandar dunia di daerah sendiri,” tegasnya.
Menurutnya di Sumsel banyak rumah sakit yang memiliki berbagai keunggulan masing-masing, seperti RSUD Siti Fatimah punya keunggulan jantung dan ortopedi, RS Siloam Sriwijaya dengan layanan bayi tabung, RS Pelabuhan keunggulannya pemecah batu ginjal, RS Hermina sudah terkenal untuk ibu dan anak, RS Permata dengan laktasinya RS Siti Khadijah dengan layanan khusus manula serta rumah sakit lainnya.
"Untuk itu dari sisi pariwisata diharapkan travel agent atau yang bergerak di pariwisata turut menghadirkan paket wisata yang dipadukan dengan wisata kesehatan," katanya.
Sementara itu, Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Pemprov Sumsel, Apriyadi, mengatakan bahwa pengembangan Health Tourism merupakan bagian dari strategi pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, memperkuat ekonomi berbasis potensi lokal, serta mengembangkan sektor pariwisata unggulan.
"Selama ini banyak masyarakat yang berobat ke luar negeri. Oleh karena itu, diperlukan penguatan layanan kesehatan daerah yang terintegrasi dengan sektor pariwisata agar Sumsel mampu menjadi alternatif tujuan wisata kesehatan yang aman, berkualitas, dan terjangkau,” katanya.
Ia menambahkan, pengembangan Health Tourism dilakukan secara terintegrasi dan berkelanjutan dengan tujuan membangun komitmen lintas sektor dan lintas daerah, meningkatkan mutu layanan kesehatan dan kesiapan rumah sakit, mengoptimalkan potensi pariwisata budaya, kuliner, olahraga, dan kesehatan tradisional berbasis kearifan lokal, serta mendorong daya saing dan pertumbuhan ekonomi masyarakat Sumsel.
Rangkaian kegiatan launching juga ditandai dengan penandatanganan komitmen bersama lintas sektor dan lintas daerah, sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan wisata kesehatan di Sumsel.
Launching Health Tourism 2026 ini menjadi tonggak awal sinergi seluruh pemangku kepentingan. Dengan kolaborasi yang kuat, Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan optimistis mampu menjadikan Sumsel sebagai destinasi unggulan wisata kesehatan nasional dan regional mulai tahun 2026 dan seterusnya.
Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan Sumsel, Trisnawarman mengatakan, Provinsi Sumsel telah menyiapkan 89 rumah sakit sebagai langkah awal peluncuran program Health Tourism.
"Saat ini, sebanyak 89 rumah sakit di Sumsel baik milik pemerintah maupun swasta disiapkan untuk mendukung program ini. Untuk itu peralatan medis dan sarana rumah sakit di Sumsel terus ditingkatkan," katanya.
Ia menjelaskan, bahwa konsep wisata kesehatan tidak hanya mencakup layanan medis, tetapi juga layanan berbasis budaya lokal. Penggabungan layanan medis dan tradisi lokal diharapkan mampu menarik wisatawan domestik dan mancanegara.
Sementara itu sebagai contoh Mega Wisata menghadirkan paket medical tourism dengan berbagai paket. Seperti paket satu hari, tiba di Palembang akan dijemput driver dan guide. Kemudian diantarkan ke RSUD Siti Fatimah untuk bertemu dengan team medis dan melakukan MCU. Setelah MCU pasien diantar ke hotel untuk istirahat, lalu makan siang dan makan malam di tempat makan khas Palembang.