Jakarta (ANTARA) - Menteri Kebudayaan Fadli Zon terus berkomitmen dalam memperkuat bidang kebudayaan, film, arsip, dan pengelolaan warisan budaya bersama dengan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, dan Ilmu Pengetahuan Kerajaan Belanda, Gouke Moes.

“Pentingnya kerja sama di bidang arsip sejarah dan budaya, khususnya pemanfaatan arsip Belanda yang berkaitan dengan sejarah dan kebudayaan Indonesia,” kata Fadli Zon melalui keterangan resminya, Sabtu.

Pertemuan yang berlangsung dalam kegiatan International Film Festival Rotterdam (IFFR) itu, disambut baik oleh pemerintah Belanda, karena diyakini dapat menjunjung pendekatan yang etis, inklusif, dan saling menghormati. Kerja sama ini diharapkan dapat melibatkan institusi seperti Eye Film Museum dan KITLV.

Menteri Fadli Zon juga menyampaikan apresiasi atas ruang dan perhatian yang diberikan IFFR terhadap perfilman Indonesia, sekaligus mengusulkan kemungkinan penyelenggaraan “Indonesia Focus” atau “Indonesia Spotlight” pada edisi IFFR mendatang sebagai platform untuk memperdalam pertukaran budaya melalui sinema.

Dalam bidang perfilman dan audiovisual, kedua pihak juga menegaskan komitmen untuk menindaklanjuti Perjanjian Kerja Sama Ko-produksi Audiovisual Indonesia–Belanda yang telah ditandatangani pada 4 Desember 2024. Saat ini, proses ratifikasi tengah berjalan melalui koordinasi lintas kementerian terkait.

Lebih lanjut dia juga menjelaskan bahwa jalinan kerja sama pengembangan talenta turut diperkuat melalui SAMASAMA Lab, sebuah inisiatif ko-kreasi yang melibatkan Netherlands Film Fund (NFF), Manajemen Talenta Nasional Kementerian Kebudayaan RI, dan Asosiasi Produser Film Indonesia (APROFI).

“Program ini dirancang untuk membangun ekosistem kreatif lintas negara yang berkelanjutan melalui pengembangan proyek, pertukaran pengetahuan, dan jejaring profesional,” ujar dia.

Dalam kesempatan itu pula, Fadli Zon mengusulkan kepada pemerintah Belanda untuk mempercepat repatriasi terhadap 37 objek Warisan Budaya Bersifat Kebendaan (WBBK) yang telah memperoleh rekomendasi pengembalian dari Collonial Collection Committee (CCC).

“Kami mengusulkan repatriasi koleksi karya dan peninggalan Raden Saleh yang saat ini berada di Museum Naturalis, Belanda, sebagai bagian dari upaya pemulihan sejarah seni dan identitas budaya Indonesia. Siaran Berita Kementerian Kebudayaan Nomor: 53/Sipers/A4/HM.00.05/2026,” usul dia.

Selain mengusulkan untuk mempercepat repatriasi terhadap 37 objek Warisan Budaya Bersifat Kebendaan (WBBK) yang telah memperoleh rekomendasi pengembalian dari Collonial Collection Committee (CCC), Fadli Zon juga meminta dukungan Kerajaan Belanda terhadap pencalonan Indonesia sebagai Anggota Komite Antar-Pemerintah UNESCO di Juni mendatang.

Pertemuan ini menegaskan komitmen kedua negara untuk terus membangun hubungan budaya yang setara, kolaboratif, dan berorientasi ke masa depan, dengan kebudayaan sebagai jembatan dialog, keadilan sejarah, dan kerja sama internasional yang berkelanjutan.