Kasus Sedikit, Dampak Bisa Fatal, Ini Mengapa Virus Nipah Perlu Waspada Tinggi
February 01, 2026 01:38 AM

 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Virus Nipah kembali menjadi perhatian setelah dua kasus terkonfirmasi muncul di India. 

Meski tidak mudah menular, virus ini tetap dipandang sebagai ancaman serius karena dampaknya yang dapat sangat fatal jika tidak terdeteksi sejak dini.

Epidemiolog Dicky Budiman menjelaskan, karakter virus Nipah berada dalam kategori low probability, high impact, sebuah kondisi yang membuat kewaspadaan ekstra menjadi sangat penting.

“Nipah ini tidak mudah menyebar. Tapi ketika dia lolos deteksi awal, kelabuhan risikonya adalah kematian yang tinggi atau case fatality rate yang sangat tinggi bahkan, sampai 75 persen,” kata Dicky pada keterangannya, Sabtu (31/1/2026). 

Risiko Besar Jika Masuk Fasilitas Kesehatan

Menurut Dicky, salah satu skenario paling berbahaya adalah ketika kasus Nipah tidak terdeteksi dan masuk ke fasilitas layanan kesehatan. 

Rumah sakit berpotensi menjadi amplifier penularan, terutama jika tenaga kesehatan terpapar.

Kondisi tersebut dapat memicu lockdown lokal di rumah sakit dan berdampak pada kepercayaan publik terhadap sistem kesehatan.

“Ketika ada kasus lokal tidak terdeteksi cepat, itu bisa menular di tenaga kesehatan setempat,” ujarnya.

Bukan Penyakit Airborne, Tapi Tetap Berbahaya

Dicky menegaskan, penting untuk membedakan Nipah dengan Covid-19. Virus Nipah bukan penyakit airborne dan tidak menyebar secepat Covid-19. 

Namun, tingginya tingkat kematian membuatnya tetap harus ditangani secara agresif sejak awal.

Sebagai informasi, penyakit zoonosis ini diklasifikasikan sebagai patogen prioritas oleh Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO karena memiliki tingkat kematian yang tinggi.

Diperkirakan antara 40 persen hingga 75 persen dan berpotensi menyebabkan epidemi.

Baca juga: Menkes Ungkap Alasan Indonesia Belum Tutup Pintu Perbatasan di Tengah Ancaman Virus Nipah

Ia juga mengingatkan agar publik tidak terjebak pada sensasionalisasi angka kematian tanpa memahami konteks epidemiologinya.

“Case fatality rate yang tinggi tidak serta-merta mengartikan bahwa penyakit ini ganas,” jelas Dicky.

Tingginya angka kematian, menurutnya, berkaitan dengan belum tersedianya vaksin dan terapi spesifik untuk virus Nipah.

Dicky menambahkan, ancaman terbesar bukan semata dari kasus impor, melainkan potensi kasus lokal. 

Indonesia memiliki faktor ekologis yang memungkinkan terjadinya spillover, termasuk keberadaan kelelawar buah.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa situasi saat ini belum mengarah pada eskalasi global.

“Kecenderungan kecil dia menjadi pandemi itu sangat kecil sebetulnya,” pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.