Pemkab Bantul Kembangkan Budidaya Ketela Singkong untuk Ekonomi Masyarakat
February 01, 2026 02:00 PM

 

 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul berupaya mendukung budidaya tanaman ketela, termasuk ketela singkong menjadi bahan olahan makanan, sehingga dapat meningkatkan perekonomian masyarakat.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Bantul, Joko Waluyo, mengatakan, sampai saat ini pihaknya sudah memberikan berbagai edukasi maupun pembinaan dari proses penanaman hingga pasca panen kepada para petani.

"Kita sudah memberikan edukasi melakukan budidaya tanaman singkong itu dan sudah ada pembinaan pasca penennya, pengolahannya," katanya, Minggu (1/2/2026).

Akan tetapi, untuk budidaya tanaman singkong, kata Joko, dilakukan dengan pemberdayaan kelompok tani yang cenderung didominasi oleh kaum laki-laki. 

Lain halnya dengan pasca panen tanaman singkong. Kegiatan tersebut lebih difokuskan lewat pemberdayaan para kelompok wanita tani (KWT). Sebab, KWT biasanya memiliki ide cepat untuk mengolah hasil pertanian menjadi produk makanan.

"Jadi kalau bapak biasanya cenderung bekerja di budidayanya, kalau ibu di pengolahan hasil panennya," ujar Joko.

Sebagai langkah lebih lanjut, kata Joko, pemerintah juga sudah memberikan dukungan transfer tanaman. Hanya saja, dukungan itu diberikan untuk mereka yang melakukan budidaya tanaman ketela rambat.

"Kalau ketela singkong belum (ada transfer tanaman), tapi kita membina dalam budidaya termasuk membantu pengolahannya," terang dia. 

Lebih lanjut, ia menyampaikan untuk pengolahan hasil pertanian atau pasca panen singkong saat ini tersentra di Kapanewon Dlingo. Beberapa produk pertanian itu diolah menjadi makanan tiwul hingga gatot.

"Kita setiap hari Selasa-Rabu, ada Pasar Tani di halaman kantor kami. Dalam Pasar Tani itu yang diperjualbelikan berupa produk-produk KWT, ada tiwul oven, tiwul basah," terangnya.

Upaya itu disebut-sebut mendapat respon positif dari masyarakat. Pasalnya, di daerah Kapanewon Dlingo ada lahan pertanian yang tidak bisa digunakan selain menanam ketela.

"Kalau padi kan di sana enggak bisa, karena butuh aliran irigasi. Daerah sana kan daerah perbukitan, sehingga lahan pertaniannya dimanfaatkan untuk melakukan budidaya jagung maupun ketela itu sendiri," tandas dia. (nei)

• Ganti Rugi JJLS Garongan–Congot Kulon Progo Dibayar Bertahap Mulai 2027

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.