TRIBUNKALTIM.CO - Setiap tanggal 10 Februari, masyarakat Kota Balikpapan memperingati hari jadi daerahnya dengan berbagai rangkaian kegiatan dan refleksi sejarah.
Pada tahun 2026, Balikpapan akan memperingati hari jadinya yang ke-129 tahun.
Namun, tidak sedikit warga yang masih bertanya-tanya, mengapa tanggal 10 Februari dipilih sebagai hari lahir kota yang kini menjadi salah satu pusat ekonomi penting di Kalimantan Timur itu.
Di balik penetapan tanggal tersebut, tersimpan sebuah peristiwa bersejarah yang mengubah wajah Balikpapan selamanya.
Hari jadi ini bukan ditentukan secara sembarangan, melainkan berdasarkan momen penting yang berkaitan erat dengan awal mula berkembangnya kota, yakni peristiwa pengeboran minyak pertama di wilayah Balikpapan pada akhir abad ke-19.
Baca juga: Sterilisasi Kucing dan Vaksinasi Rabies Gratis Meriahkan HUT ke-129 Balikpapan, Ini Syarat Daftarnya
Keputusan itu kemudian disepakati melalui sebuah seminar sejarah pada tahun 1984, sebagai tonggak resmi penetapan hari jadi kota.
Dikutip dari laman web.balikpapan.go.id, sejarah Kota Balikpapan tidak bisa dipisahkan dengan Minyak yaitu lebih tepatnya dengan sumur minyak Mathilda, sumur pengeboran perdana pada tanggal 10 Februari 1897 di kaki gunung Komendur di sisi timur Teluk Balikpapan.
Penamaan sumur minyak ini berasal dari nama anak JH Menten dari JH Menten dan Firma Samuel & Co sebagai pemenang hak konsesi pengeboran di yang ditunjuk pemerintah Hindia Belanda yang telah mengontrak Balikpapan dari Kesultanan Kutai.
Di awal tahun 1900-an bertambahnya jumlah penemuan dan pengeboran minyak di Balikpapan telah membawa pendatang dalam jumlah besar ke Balikpapan.
Pendatang ini kebanyakan adalah orang Cina dan para pekerja pengeboran yang rata-rata berasal dari jawa dan berbagai daerah lainnya seperti India.
Pekerja dari Cina dan India inilah yang menjadi cikal bakal penghuni desa di Tukung (Klandasan) dan Jumpi (Kampung Baru) yang merupakan asal usul sebagian besar warga Balikpapan.
Selain itu keberadaan minyak, yaitu minyak tanah atau "lantung", juga mengundang semakin besarnya jumlah pedagang yang datang dari daerah Kerajaan Banjar di Banjarmasin dan Bone di Sulawesi Selatan untuk berdagang dan singgah di Balikpapan.
Seiring dengan berkembangnya waktu Balikpapan telah berkembang menjadi "Kota Minyak" dengan besarnya produksi minyak.
Perkembangan industri minyak inilah yang telah membangun Balikpapan menjadi kota industri.
Menilik dari susunannya, kata “Balikpapan” dapat dimasukkan ke dalam asal kata bahasa Melayu.
Menurut buku karya F. Valenijn pada tahun 1724, menyebut suatu daerah di hulu sebuah sungai yang berada di Teluk sekitar tiga mil dari pantai, desa itu bernama BILIPAPAN, dan nama tersebut dikaitkan dengan sebuah komunitas pedesaan di teluk yang sekarang dikenal dengan nama Teluk Balikpapan.
Ada beberapa versi mengenai asal usul nama Balikpapan, antara lain:
Versi Pertama ( Sumber : Buku 90 Tahun Kota Balikpapan yang mengutip buku karya F. Valenijn tahun 1724 )
Menurut legenda, asal nama Balikpapan adalah karena sebuah kejadian yang terjadi pada tahun 1739, sewaktu dibawah Pemerintahan Sultan Muhammad Idris dari Kerajaan Kutai, yang memerintahkan kepada pemukim-pemukim di sepanjang Teluk Balikpapan untuk menyumbang bahan bangunan guna pembangunan istana baru di Kutai lama.
Sumbangan tersebut ditentukan berupa penyerahan sebanyak 1000 lembar papan yang diikat menjadi sebuah rakit yang dibawa ke Kutai Lama melalui sepanjang pantai.
Setibanya di Kutai lama, ternyata ada 10 keping papan yang kurang (terlepas selama dalam perjalanan) dan hasil dari pencarian menemukan bahwa 10 keping papan tersebut terhanyut dan timbul disuatu tempat yang sekarang bernama "Jenebora".
Dari peristiwa inilah nama Balikpapan itu diberikan (dalam istilah bahasa Kutai "Baliklah - papan itu" atau papan yang kembali yang tidak mau ikut disumbangkan).
Versi Kedua ( Sumber : Legenda rakyat yang dimuat dalam buku 90 Tahun Kota Balikpapan )
Menurut legenda dari orang-orang suku Pasir Balik atau lazim disebut Suku Pasir Kuleng, maka secara turun menurun telah dihikayatkan tentang asal mula nama "Negeri Balikpapan".
Orang-orang suku Pasir Balik yang bermukim di sepanjang pantai teluk Balikpapan adalah berasal dari keturunan kakek dan nenek yang bernama " KAYUN KULENG dan PAPAN AYUN ".
Oleh keturunannya kampung nelayan yang terletak di Teluk Balikpapan itu diberi nama "KULENG - PAPAN" atau artinya "BALIK - PAPAN" (Dalam bahasa Pasir, Kuleng artinya Balik dan Papan artinya Papan) dan diperkirakan nama negeri Balikpapan itu adalah sekitar tahun 1527.
Sebagai bagian dari peringatan resmi, Pemerintah Kota Balikpapan juga telah merilis logo dan tema HUT ke-129 Balikpapan yang dapat digunakan oleh seluruh instansi, organisasi, hingga masyarakat umum.
Peringatan HUT ke-129 Kota Balikpapan tahun 2026 mengusung tema “Harmoni Menuju Kota Global”, sebuah refleksi atas visi besar Balikpapan sebagai kota modern yang berdaya saing nasional dan internasional, namun tetap menjaga keseimbangan antara pembangunan, lingkungan, serta nilai-nilai sosial dan budaya masyarakat.
Logo resmi HUT ke-129 Balikpapan beserta pedoman penggunaannya kini dapat diunduh oleh masyarakat, instansi pemerintah, BUMN, BUMD, organisasi, maupun pihak swasta melalui tautan resmi yang telah disediakan oleh Pemerintah Kota Balikpapan.
Baca juga: HUT ke-129 Balikpapan, Ini Daftar Wali Kota dan Fotonya dari Masa ke Masa
Dikutip dari Instagram @pemkot_balikpapan, logo HUT ke-129 Balikpapan dirancang dengan konsep Keselarasan Modern, yang menggambarkan perjalanan kota dari masa ke masa.
Elemen angka “129” divisualisasikan secara dinamis dengan perpaduan warna.
Konsep keselarasan modern mencerminkan Balikpapan sebagai kota yang terus berkembang secara inovatif dan rapi, namun tetap nyaman, inklusif, dan berakar pada jati diri masyarakat.
Logo tersebut juga menjadi simbol harmonisasi antara pembangunan fisik, pelayanan publik, kehidupan sosial, dan pelestarian lingkungan.
Wajah Balikpapan hari ini digambarkan sebagai kota global yang maju dan berdaya saing, namun tidak kehilangan nilai-nilai lokal yang menjadi fondasi kekuatannya.
Tagline
“Harmoni Menuju Kota Global”
Harmoni
Keseimbangan hidup yang nyaman dan damai, di mana pembangunan fisik berjalan selaras dengan pelestarian lingkungan dan nilai-nilai spiritual masyarakat (Madinatul Iman).
Menuju
Menandakan perjalanan bersama. Setiap langkah pembangunan mengikuti rencana yang terarah dalam RPJMD secara bertahap, berkelanjutan, dan melibatkan semua pihak.
Kota Global
Cita-cita Balikpapan menjadi kota yang maju, modern, dan tangguh, yang memiliki standar pelayanan dan inovasi setara dengan kota-kota besar di dunia.
Surat Edaran Wali Kota Balikpapan tentang Pedoman Peringatan HUT ke-129
Sebagai dasar pelaksanaan peringatan HUT ke-129, Wali Kota Balikpapan menerbitkan Surat Edaran Nomor 100.2.1/19/E/SETDA tentang Pedoman Peringatan Hari Jadi ke-129 Kota Balikpapan Tahun 2026.
Surat edaran ini ditetapkan di Balikpapan pada 6 Januari 2026 dan ditujukan kepada pimpinan instansi pemerintah, BUMN, BUMD, organisasi, swasta, serta seluruh masyarakat Kota Balikpapan.
Dalam surat edaran tersebut ditegaskan bahwa logo dan tema HUT ke-129 Balikpapan dapat diunduh melalui situs web resmi Pemerintah Kota Balikpapan dan agar diperbanyak serta disosialisasikan secara luas kepada masyarakat sebagai identitas visual peringatan hari jadi kota.
Penyelenggaraan kegiatan peringatan HUT ke-129 Balikpapan diminta berlandaskan pada logo dan tema yang telah ditetapkan.
Seluruh rangkaian kegiatan diharapkan dapat dilaksanakan secara sederhana namun tetap meriah, dengan pembiayaan yang efisien serta menyesuaikan situasi dan kondisi setempat.
Imbauan Pengibaran Bendera dan Publikasi Peringatan
Melalui surat edaran tersebut, Wali Kota Balikpapan juga mengimbau seluruh instansi pemerintah, BUMN, BUMD, organisasi, swasta, dan masyarakat untuk mengibarkan Bendera Merah Putih selama tiga hari berturut-turut, yakni pada 9 hingga 11 Februari 2026, sebagai bentuk penghormatan dan kecintaan terhadap Kota Balikpapan.
Selain itu, seluruh pihak diharapkan turut mempublikasikan peringatan HUT Kota Balikpapan melalui pemasangan spanduk, baliho, umbul-umbul, lampu hias, dan dekorasi lainnya di kantor maupun lokasi strategis.
Publikasi dan dekorasi peringatan ini dilaksanakan pada rentang waktu 25 Januari hingga 28 Februari 2026.
Kegiatan Masyarakat dan Kerja Bakti Massal
Peringatan HUT ke-129 Balikpapan juga diarahkan sebagai momentum pendidikan dan hiburan bagi masyarakat.
Pemerintah Kota mendorong partisipasi aktif warga dalam berbagai kegiatan, lomba, dan acara hiburan yang digelar, sehingga peringatan hari jadi benar-benar menjadi perayaan dari masyarakat, oleh masyarakat, dan untuk masyarakat.
Kreativitas serta swadaya masyarakat, baik secara moril maupun materil, sangat diharapkan dalam menyemarakkan peringatan HUT.
Kegiatan yang menampilkan hiburan khas daerah dan tradisional juga didorong agar nilai budaya lokal tetap terjaga.
Dalam rangka mendukung terwujudnya Balikpapan Bersih dan Balikpapan Nyaman, camat dan lurah diminta mengoordinir Kerja Bakti Massal secara serentak di seluruh RT se-Kota Balikpapan yang akan dilaksanakan pada Minggu, 8 Februari 2026.
Koordinasi dan Informasi Panitia
Penyelenggara kegiatan, lomba, maupun acara hiburan diimbau untuk berkoordinasi dengan aparat keamanan guna memastikan seluruh rangkaian acara berlangsung tertib, aman, dan lancar. Panitia juga bertanggung jawab menjaga kebersihan lingkungan lokasi kegiatan.
Koordinasi dan pelaporan kegiatan dapat disampaikan kepada Panitia Pelaksana HUT ke-129 Kota Balikpapan melalui Sekretariat Panitia di Bagian Kerja Sama dan Perkotaan Sekretariat Daerah Kota Balikpapan, Jalan Jenderal Sudirman Nomor 1, Kelurahan Klandasan Ulu, Kecamatan Balikpapan Kota.
Link Download Logo HUT ke-129 Balikpapan
Logo dan materi resmi HUT ke-129 Kota Balikpapan Tahun 2026 dapat diunduh melalui tautan berikut:
s.id/hut129bpn
s.id/hut129bpn2
Logo ini dapat digunakan sebagai identitas visual resmi dalam seluruh rangkaian kegiatan peringatan Hari Jadi Kota Balikpapan Tahun 2026.