TRIBUN-MEDAN.com – Kisah pilu seorang anak laki-laki menjadi perbincangan hangat setelah videonya di pesta pernikahan viral di media sosial.
Dalam video tersebut, tampak seorang anak laki-laki berlari naik ke atas panggung dan memeluk kaki pengantin pria.
Ternyata anak laki-laki itu adalah putra kadung mempelai wanita.
Sambil menangis , anak laki-laki tersebut memohon agar pengantin pria menerima dan mengizinkannya ikut bersama ibunya.
Permintaan itu justru ditolak dengan sikap dingin di hadapan para tamu undangan.
Adegan tersebut langsung memicu keharuan sekaligus kesedihan para tamu yang hadir. Banyak di antara mereka tidak kuasa menahan emosi saat melihat anak kecil itu menangis tersedu-sedu di tengah momen yang seharusnya penuh kebahagiaan.
Dikutip dari Sanook.com Minggu (1/2/2026), pengantin wanita diketahui merupakan seorang ibu tunggal yang telah bercerai dari suami sebelumnya.
Dari pernikahan terdahulu, ia memiliki seorang putra.
Namun setelah perceraian, mantan suaminya menolak untuk membesarkan anak mereka.
Di sisi lain, keluarga wanita tersebut juga tidak mampu memberikan banyak bantuan.
Dalam kondisi sulit itu, ia terpaksa bekerja keras di luar rumah sambil tetap mengurus dan membesarkan putranya seorang diri.
Melihat beratnya beban yang harus ditanggung, keluarga wanita tersebut menyarankan agar ia membuka lembaran baru dan mencari kebahagiaan lain, mengingat usianya yang masih muda.
Ia pun mulai memikirkan kemungkinan untuk menikah lagi demi mendapatkan pasangan yang bisa berbagi tanggung jawab hidup.
Namun upayanya tidak mudah. Ketika para pria mengetahui bahwa ia pernah menikah dan memiliki anak, banyak yang memilih mundur dan menolak untuk melanjutkan hubungan.
Hingga akhirnya, ia bertemu dengan seorang pria yang bersedia mengenalnya lebih jauh. Hubungan mereka berkembang dengan cepat hingga keduanya saling jatuh cinta dalam waktu singkat.
Pria tersebut kemudian melamarnya. Karena usianya yang tidak lagi muda, pihak pria dan keluarganya ingin agar pernikahan segera dilangsungkan dan berharap bisa memiliki anak secepatnya.
Ia tidak mempermasalahkan masa lalu kekasihnya yang pernah menikah dan memiliki anak. Namun, ia dengan tegas menyatakan tidak bersedia membesarkan anak dari hubungan sebelumnya.
Alasannya, ia merasa tekanan dalam membesarkan anak terlalu besar. Ia berharap anak tersebut bisa dikirim kembali kepada ayah kandungnya atau diasuh oleh neneknya.
Ia berjanji akan tetap memberikan biaya hidup setiap bulan sebagai bentuk tanggung jawab finansial.
Setelah melalui pertimbangan, wanita itu akhirnya menyetujui permintaan tersebut. Menjelang pernikahan barunya, dan karena calon suami telah sejak awal menolak untuk mengasuh anaknya, ia pun menitipkan putranya kepada sang ibu.
Meski mengasuh anak kecil bukan perkara mudah bagi seorang nenek yang sudah lanjut usia, sang ibu tetap bersedia demi kebahagiaan putrinya.
Namun situasi tak terduga terjadi pada hari pernikahan. Putra kecil itu ikut hadir dalam acara tersebut. Diliputi rasa takut akan ditinggalkan, ia tiba-tiba berlari ke atas panggung, memeluk kaki calon ayah tirinya dan menangis tanpa henti.
Ia memohon agar diizinkan ikut tinggal bersama ibunya.
Sikap pengantin pria terlihat jelas tidak menyukai kejadian tersebut. Ia menganggap tindakan itu sebagai upaya untuk memaksanya menerima dan membesarkan anak tersebut.
Di hadapan seluruh tamu undangan, ia menunjukkan penolakan secara dingin, mengabaikan tangisan dan permohonan sang anak.
Sementara itu, pengantin wanita yang menyaksikan kejadian tersebut hanya bisa berdiri terpaku. Meski hatinya terluka dan ia sangat mencintai putranya, ia tampak tidak tahu harus berbuat apa selain meneteskan air mata dalam diam.
Para tamu yang menyaksikan peristiwa itu saling berpandangan dengan ekspresi terkejut. Banyak yang merasa bahwa dalam situasi seperti ini, anaklah yang menjadi pihak paling menderita karena harus berpisah dari kedua orang tuanya.
Reaksi warganet pun bermunculan. Sebagian besar menunjukkan simpati kepada sang anak.
“Kalau aku, aku tidak akan menikah dengan pria seperti itu. Jika menikah lagi, seharusnya memilih seseorang yang memperlakukan anak kita dengan baik. Kalau tidak, lebih baik membesarkan anak sendiri,” tulis seorang warganet.
“Anaknya sangat kasihan. Menurutku ibu ini terlalu mementingkan kebahagiaannya sendiri,” tulis warganet lainnya.
Namun tidak sedikit pula yang membela sikap pengantin pria.
“Membesarkan anak tiri itu sangat rumit. Jika dia merasa tidak mampu dan sudah menjelaskan sejak awal, maka itu adalah pilihan si pengantin wanita. Jadi menurutku pengantin pria tidak salah,” ungkap warganet lainnya.
(cr31/tribun-medan.com)