Histeris Menjelang Maghrib, Marsel 6 Tahun Nyaris Dimangsa Buaya di Nunukan, Lepas dari Rahang Buaya
February 02, 2026 08:03 AM

 

BANGKAPOS.COM--Suasana jelang waktu maghrib di Desa Tanjung Harapan, Kecamatan Nunukan Selatan, Kalimantan Utara, mendadak berubah mencekam.

Teriakan histeris seorang bocah laki-laki bernama Marsel (6) memecah ketenangan warga yang tengah beristirahat usai melaut dan menjemur rumput laut di bantaran Sungai Mamolo, Sabtu (31/1/2026).

Warga yang mendengar jeritan tersebut sontak berhamburan menuju sumber suara.

Di bawah area penjemuran rumput laut, mereka mendapati pemandangan mengerikan: seekor buaya tengah menggigit kaki Marsel, yang sudah sebagian masuk ke dalam rahang predator tersebut.

Bocah itu terus berteriak kesakitan sambil berusaha melepaskan diri.

“Peristiwa serangan buaya terjadi sekitar pukul 18.00 Wita,” ujar Kasi Humas Polres Nunukan, Ipda Sunarwan, dalam keterangan tertulis, Minggu (1/2/2026).

Melihat kondisi tersebut, sejumlah warga tanpa ragu langsung turun tangan.

Dengan peralatan seadanya, mereka berusaha menghalau buaya dan menarik tubuh Marsel agar terlepas dari gigitan. 

Aksi penyelamatan berlangsung dramatis, diwarnai tarik-menarik antara warga dan buaya yang sempat bertahan beberapa menit.

Sekitar lima menit kemudian, buaya akhirnya melepaskan gigitannya dan bergerak menjauh ke perairan yang lebih dalam.

Marsel yang mengalami luka parah langsung dievakuasi menggunakan sepeda motor menuju Puskesmas Sedadap sebelum dirujuk ke RSUD Nunukan untuk mendapatkan penanganan medis lanjutan.

Dari dokumentasi yang diterima kepolisian, luka yang dialami Marsel tergolong serius.

Daging di bagian betis hingga paha tampak terkoyak, bahkan tulang kakinya terlihat menonjol akibat cedera hebat yang dialaminya.

Ipda Sunarwan menjelaskan, sebelum kejadian, Marsel diduga sedang berjongkok di teras salah satu rumah warga yang berdiri di atas air.

Bocah tersebut diduga terjatuh saat ingin melihat keberadaan buaya di kolong rumah.

“Korban jatuh ke bawah penjemuran rumput laut milik warga bernama Arbaing, lalu tiba-tiba diserang buaya,” jelas Sunarwan.

Peristiwa ini kembali menyoroti tingginya ancaman serangan buaya di wilayah Sungai Mamolo. Ketua RT setempat, Habir, mengungkapkan bahwa keberadaan buaya sudah lama menjadi momok menakutkan bagi warga yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan dan pekerja rumput laut.

“Buaya di sini sudah sangat meresahkan. Tapi warga juga takut bertindak karena buaya adalah satwa dilindungi. Kalau membunuh bisa dipenjara,” kata Habir dengan nada prihatin.

Menurutnya, serangan buaya di kawasan tersebut bukanlah kejadian baru. Sepanjang Januari 2025 saja, tercatat sedikitnya lima kali serangan buaya terhadap warga, termasuk anak-anak.

Bahkan, salah satu buaya yang kerap muncul disebut memiliki ukuran besar dengan lebar punggung sekitar 60 sentimeter.

“Tahun lalu juga sering terjadi serangan. Ini jelas ancaman serius bagi keselamatan warga,” tegasnya.

Beruntung, dalam beberapa kejadian terakhir, korban masih dapat diselamatkan meski mengalami luka berat.

Namun warga berharap ada langkah konkret dari pemerintah dan aparat terkait agar tragedi serupa tidak terus berulang.

Habir menyebutkan, dalam waktu dekat akan digelar rapat lintas pihak yang melibatkan pemerintah desa, kecamatan, aparat keamanan, serta anggota DPRD untuk membahas solusi penanganan ancaman buaya di wilayah Sungai Mamolo.

“Ini sudah lama menjadi keresahan. Kami berharap ada solusi terbaik agar warga bisa beraktivitas dengan aman,” pungkasnya.

Sumber : Kompas.com

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.