TRIBUNBANYUMAS.COM, PURWOKERTO - Pagi di dermaga ternak Pelabuhan Tanjung Intan, suara sapi terdengar bersahut-sahutan.
Satu per satu, ternak perah impor diturunkan dari kapal pengangkut.
Bukan sekadar bongkar muat biasa, momen ini menjadi penanda Banyumas dan sekitarnya bersiap menjadi lumbung susu segar regional.
Sebanyak 1.383 ekor sapi perah unggulan asal Australia tiba di Cilacap, Minggu (1/2/2026).
Ribuan sapi tersebut terdiri dari 1.094 ekor Friesian Holstein (FH) dan 289 ekor Jersey, dua rumpun yang dikenal produktif menghasilkan susu berkualitas tinggi.
Kedatangan ini merupakan bagian dari program investasi penguatan protein hewani nasional sekaligus strategi pemerintah menekan ketergantungan impor susu.
Baca juga: Telan Rp 15 Miliar, Kota Lama Banyumas Kini Secantik Malioboro
Direktur Kesehatan Hewan pada Kementerian Pertanian, drh. Hendra Wibawa, menegaskan aspek kesehatan menjadi prioritas utama.
"Seluruh sapi wajib menjalani observasi di Instalasi Karantina Hewan memastikan tidak ada penyakit hewan menular strategis yang masuk ke Indonesia," ujarnya kepada Tribunbanyumas.com sebagaimana keterangan rilis.
Dampak paling terasa diproyeksikan terjadi di wilayah Banyumas dan sekitarnya.
Sebanyak 250 ekor sapi akan ditempatkan di Balai Besar Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak Baturraden (BBPTU-HPT) melalui kerja sama investasi PT Suri Nusantara Jaya atau PT Estika.
Aset Genetika
Kepala BBPTU-HPT Baturraden, Dani Kusworo, menyebut tambahan populasi sapi impor ini sebagai 'aset genetika' mendongkrak produksi.
Saat ini, produksi susu balai mencapai sekitar 7.000 liter per hari.
Dengan kapasitas tersebut, potensi pengemasan bisa mencapai 60.000 botol atau cup per hari.
"Kalau 3.000 botol untuk satu SPPG, berarti bisa melayani sampai 20 SPPG.
Artinya kebutuhan bisa kita penuhi," jelas Dani.
Namun, realisasi belum maksimal.
Baca juga: Disambar Petir, Satu Buruh Tani Tewas dan Lima Kritis saat Berteduh di Gandatapa Banyumas
Mesin pengemasan yang terbatas membuat produksi baru menyentuh 17.000 cup per hari.
"Mesinnya masih kurang, sedang kita datangkan," tambahnya.
Produksi susu di Baturraden sejatinya sudah menunjukkan tren naik.
Sebelumnya, hanya sekitar 4.000 liter per hari.
Setelah perbaikan manajemen pakan, kesehatan, serta kualitas genetik, produktivitas sapi meningkat dari 10 liter menjadi 15 liter per ekor per hari.
"Dengan jumlah sapi tetap, tapi produksinya naik. Target kami bisa tembus 10.000 liter per hari," kata Dani.
Distribusi susu nantinya juga diperkuat dengan mobil pendingin, menyasar wilayah Purwokerto, Banyumas, hingga daerah penyangga.
Pemerintah berharap masuknya ribuan sapi ini mampu meningkatkan produksi susu segar dalam negeri, memperkuat ketahanan protein hewani, sekaligus mengurangi ketergantungan impor susu bubuk.
Bagi peternak lokal, suntikan genetik FH dan Jersey juga diharapkan memperbaiki kualitas ternak rakyat dalam jangka panjang. (jti)