...Kalau Pak Presiden bukan dari kalangan pendidikan tetapi konsentrasi tentang pendidikan
Jakarta (ANTARA) - Anggota Komisi X DPR RI Abdul Fikri Faqih memandang kehadiran Sekolah Rakyat dan Sekolah Garuda merupakan terobosan baru yang menjadi salah satu wujud keberpihakan Presiden Prabowo Subianto terhadap kemajuan pendidikan nasional.
Menurut Fikri, latar belakang militer Presiden tidak menyurutkan perhatiannya terhadap dunia akademis.
"Kalau Pak Presiden bukan dari kalangan pendidikan, tetapi konsentrasi tentang pendidikan, perhatian tentang pendidikan luar biasa, sekarang bahkan diprotes gara-gara dia bikin terobosan-terobosan baru,” kata dia dikutip di Jakarta, Senin.
Menurut Fikri, Presiden memiliki visi yang sangat spesifik untuk mengejar ketertinggalan bangsa.
Inisiatif program seperti Sekolah Rakyat dan Sekolah Garuda, kata dia menambahkan, menjadi bukti bahwa pengembangan sumber daya manusia (SDM) tetap menjadi agenda prioritas pemerintahan Presiden Prabowo, meskipun pendekatan yang dilakukan berbeda dari pemerintahan sebelumnya.
Lebih lanjut, dia menyampaikan bahwa Sekolah Rakyat dirancang khusus untuk masyarakat prasejahtera dan melibatkan koordinasi lintas kementerian dengan pendekatan bantuan sosial.
"Sekolah Rakyat leading sektornya bukan Kemendikdasmen, bahkan Kementerian Sosial, kenapa? Karena, pendekatannya miskin. Jadi dari desil 1, desil 2, pokoknya yang miskin-miskin bahkan miskin ekstrem,” kata Fikri menjelaskan.
Sementara itu, ucapnya melanjutkan, untuk menjaring bibit-bibit unggul bangsa, pemerintah menyiapkan Sekolah Garuda. Program tersebut disiapkan sebagai inkubator bagi siswa-siswa jenius untuk menembus perguruan tinggi kelas dunia, dengan fokus utama pada bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM).
"Beliau bikin skema baru namanya Sekolah Garuda. Sekolah Garuda itu sekolah SLTA, SMA, atau SMK, tapi yang terhubung dengan perguruan tinggi karena anak-anak pintar itu harus terhubung dengan perguruan tinggi, perguruan tingginya tidak hanya di dalam negeri, bahkan di luar negeri," ucapnya.
Legislator dari daerah pemilihan Jawa Tengah IX itu juga menyoroti visi Presiden yang ingin mengubah orientasi pendidikan Indonesia agar lebih fokus pada penguasaan teknologi terapan. Hal itu didasari oleh kekhawatiran bahwa Indonesia semakin tertinggal dari negara-negara maju, seperti Tiongkok, terutama dalam industri teknologi dan kendaraan listrik yang kini membanjiri jalanan Jakarta.
"Negara-negara lain sekarang Amerika atau China ya luar biasa. Ratusan ribu anak-anak China itu sekolahnya teknologi engineering. Jadi siap-siap makanya anak-anak nanti enggak bisa kemudian nge-game terus, begitu enggak bisa," kata Fikri.
Ia lalu mengajak segenap masyarakat Indonesia untuk mendukung pemerintah dan ikut memajukan pendidikan nasional.
Fikri menyampaikan salah satu contoh keikutsertaan masyarakat dalam memajukan pendidikan nasional adalah inisiatif inspiratif seorang bidan di perbatasan Sebatik yang mendirikan "Sekolah Tapal Batas" bagi anak-anak pekerja sawit yang tidak terjangkau layanan negara.
"Ada warga negara yang peduli, contoh anak-anak pekerja sawit itu. Kalau misalnya pemerintahnya belum menjangkau kemudian kita enggak peduli dengan pendidikan anak kita, bahaya tuh anak kita nanti," kata dia.
Fikri pun menekankan bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab kolektif yang membutuhkan peran aktif semua pihak.







