Tetangga Penjual Es Gabus Viral Ungkap Kondisi Suderajat, Terindikasi Disabilitas Mental, Apa Itu?
February 02, 2026 01:11 PM

 

TRIBUNJAMBI.COM - Di balik riuhnya simpati publik terhadap Suderajat (49), penjual es gabus yang viral akibat intimidasi oknum aparat, tersimpan fakta medis dan sosial yang jarang diketahui.

Berdasarkan hasil asesmen lintas instansi, Camat Bojonggede, Tenny Ramdhani, mengungkapkan bahwa Suderajat beserta istrinya terindikasi mengalami disabilitas mental.

Kondisi ini merupakan keterbatasan fungsi psikologis yang memengaruhi cara berpikir dan berinteraksi.

Diduga, hal tersebut berakar dari gangguan pascatrauma yang menyebabkan kemampuan komunikasi verbal keduanya menjadi sangat terbatas dan tidak stabil.

Kesaksian Tetangga: Komunikasi yang Tidak Konsisten

Kondisi psikologis Suderajat dibenarkan oleh Makmur, tetangganya di Bogor.

Dalam sebuah pembicaraan dengan konten kreator Aminudin dari Yayasan Rumah Mans Indonesia, Makmur memberikan kesaksian mengenai keseharian sang penjual es.

“Dia ini orangnya enggak bisa dipegang omongannya, suka ngalor ngidul, sering berubah karena ada keterbatasan mental,” jelas Makmur dalam unggahan video di akun Instagram @aminudin.

Makmur juga meluruskan kesalahpahaman publik mengenai tempat tinggal Suderajat.

Selama ini, rumah yang didatangi banyak orang sebenarnya adalah kontrakan sementara, karena rumah pribadi Suderajat sedang dalam proses renovasi akibat kerusakan berat.

Baca juga: Nasib Oknum Polisi dan TNI yang Intimidasi Penjual Es Gabus Suderajat: Masuk Sel dan Diperiksa Propam

Baca juga: Rekam Jejak Suara PSI di Pileg 2019-2024, Jokowi Yakin 2029 Lolos ke Senayan: Targetnya Bukan Itu

Baca juga: Belajar dari Kasus Viral di Jambi, Simak Wadah Aman untuk BBM Agar Tak Ditolak SPBU

“Betul, aslinya punya rumah, cuma kan rumahnya hancur lagi direnovasi. Yang orang datengin itu sebetulnya rumah kontrakan,” tambahnya.

Amanah Donasi di Tengah Keterbatasan

Aminudin menegaskan bahwa pengungkapan kondisi mental ini bukan bertujuan untuk membela atau menyudutkan salah satu pihak, melainkan agar masyarakat memahami realita yang ada.

Ia memastikan bahwa aliran donasi yang masuk untuk Suderajat akan dikelola dengan sangat hati-hati agar tepat sasaran dan sesuai amanah para donatur, mengingat keterbatasan yang dimiliki oleh penerima manfaat.

Camat Bojonggede Beberkan Hasil Asesmen

Camat Bojonggede, Tenny Ramdhani, menyebut hasil asesmen menunjukkan indikasi disabilitas mental pada Suderajat dan istrinya. Dugaan gangguan mental pascatrauma membuat komunikasi keduanya terbatas.

“Jawaban Pak Suderajat sering berubah-ubah dan terkesan berbohong. Hasil asesmen kami menunjukkan indikasi disabilitas, baik pada Pak Suderajat maupun istrinya,” kata Tenny.

Menurut Tenny, kondisi psikologis Suderajat diperparah oleh tekanan setelah difitnah aparat dan banyaknya orang yang mendatangi rumahnya.

“Pak Suderajat memerlukan perhatian khusus. Dia tidak terbiasa bertemu orang banyak,” ujarnya.

Apa Itu Disabilitas Mental?

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016, disabilitas mental adalah terganggunya fungsi pikir, emosi, dan perilaku yang mengakibatkan keterbatasan dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari dan berinteraksi dalam masyarakat.

Penting bagi publik untuk memahami beberapa poin kunci terkait kondisi ini, terutama dalam kasus Suderajat:

Bukan Sekadar Masalah Sikap

Ketidakkonsistenan dalam berbicara atau perilaku yang berubah-ubah sering kali bukan disengaja, melainkan dampak dari hambatan pada fungsi kognitif atau kontrol emosi.

Baca juga: Tak Habis Pikir Dedi Mulyadi Dibohongi Suderajat Pedagang Es, Uang Modal Usaha Dipakai Nikahkan Anak

Baca juga: Tampang Dival, Sopir Pajero yang Tabrak Lari Beruntun di Jambi Jalani Tes Kejiwaan, Positif Narkoba

Dampak Trauma

Seperti yang diungkapkan pihak Kecamatan Bojonggede, gangguan pascatrauma dapat memicu disabilitas mental yang memengaruhi daya ingat dan kemampuan komunikasi verbal (sering disebut ngalor-ngidul oleh orang sekitar).

Hambatan yang Tak Terlihat

Berbeda dengan disabilitas fisik, disabilitas mental sering kali tidak tampak secara kasat mata, sehingga penyandangnya rentan mengalami stigma, dianggap berbohong, atau bahkan mendapatkan perlakuan kasar karena ketidaktahuan masyarakat.

Pentingnya Pendampingan

Penyandang disabilitas mental membutuhkan dukungan lingkungan dan pendampingan dalam mengambil keputusan penting, termasuk dalam pengelolaan keuangan atau urusan hukum.

Catatan Redaksi: Memahami kondisi mental Suderajat membantu kita untuk lebih objektif dalam menyikapi informasi yang beredar serta memastikan bahwa bantuan yang diberikan sampai melalui jalur pendampingan yang tepat.

Polemik Rumah Kontrakan

Sebelumnya, Suderajat sempat mengaku mengontrak rumah selama bertahun-tahun kepada mantan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Namun, Ketua RW setempat membantah pengakuan tersebut.

“Orang tuanya membelikan rumah tahun 2007. Setelah itu dia tinggal bersama istri dan anak-anaknya,” kata Ketua RW.

Mendengar penjelasan itu, Dedi menegur Suderajat karena dianggap tidak jujur. Suderajat kemudian mengakui kesalahannya dan meminta maaf.

Awal Mula Nama Suderajat Viral

Peristiwa bermula pada Sabtu (24/1/2026) ketika Suderajat, pedagang es gabus, didatangi aparat gabungan TNI dan Polri di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat.

Dalam video yang viral, aparat menuding es gabus yang dijualnya terbuat dari spons atau polyurethane foam. Mereka bahkan memotong, meremas, hingga membakar potongan es untuk menunjukkan dugaan tersebut.

Suderajat mengaku mengalami perlakuan fisik menyakitkan. Dagangannya diinjak, diremas, dan dilempar ke wajahnya.

Ia juga mengaku dipukul, ditendang, serta diintimidasi agar mengakui es gabusnya terbuat dari spons. 

Akibat insiden ini, ratusan es gabus rusak dan penghasilannya hilang. Suderajat serta keluarganya mengalami trauma dan ketakutan mendalam.

Baca juga: 1.583 RT di Kota Jambi Terima Dana Rp 100 Juta, Besarannya Disesuaikan Jumlah KK

Baca juga: Hari Ini Mulai Operasi Keselamatan Siginjai Jambi 2026, Razia Kendaraan hingga 15 Februari

Baca juga: Rekam Jejak Suara PSI di Pileg 2019-2024, Jokowi Yakin 2029 Lolos ke Senayan: Targetnya Bukan Itu

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.