TRIBUNNEWS.COM - Insiden mengerikan menimpa kiper Cremonese, Emil Audero saat menghadapi Inter Milan pada giornata ke-23 Liga Italia, Senin (2/2/2026) dini hari WIB.
Kiper Timnas Indonesia tersebut terkena lemparan flare dari suporter Inter Milan.
Namun rupnya, insiden tersebut berbalik menjadi bumerang bagi pelakukan sendiri.
Seorang suporter Inter Milan yang melempar flare ke arah Audero dikabarkan justru mengalami cedera parah.
Bahkan, sang pelaku disebut kehilangan tiga jarinya akibat ledakan kembang api yang ia pegang.
Pertandingan antara Cremonese dan Inter Milan berjalan sengit, dengan Inter menang 2-0 berkat gol Lautaro Martinez dan Piotr Zielinski.
Namun, di menit ke-49 babak kedua, suasana berubah mencekam ketika sebuah flare dilempar dari sektor suporter tamu Inter Milan.
Flare tersebut jatuh tepat di dekat kaki Audero, meledak dengan keras, membuat kiper kelahiran Mataram, Nusa Tenggara Barat tersebut terjatuh dan sempat linglung.
Audero dikabarkan hanya mengalami luka bakar ringan di kaki, tapi setelah mendapat perawatan medis, ia memilih melanjutkan pertandingan dengan profesionalisme tinggi.
Insiden tidak berhenti di situ. Menurut laporan Football Italia, pelaku yang sama mencoba melempar kembang api kedua tak lama kemudian.
Sayangnya, flare tersebut meledak di tangannya sendiri, menyebabkan tiga jarinya putus.
Baca juga: Rincian Denda atas Insiden Emil Audero Korban Flare: Inter Milan Minimal Sediakan Rp1 M
Ledakan kedua terjadi di dalam sektor suporter Inter, memicu kemarahan sesama pendukung Nerazzurri yang menyebut pelaku membahayakan semua pihak, termasuk risiko penghentian pertandingan atau sanksi berat bagi klub.
Laporan tersebut mengatakan bahwa sang pelaku langsung diidentifikasi setelah ia mendatangi rumah sakit di Cremona untuk perawatan cedera tangan.
Polisi setempat kini menangkapnya, dan ia akan menghadapi larangan masuk stadion seumur hidup serta berpotensi mendapatkan sanksi yang lebih berat lagi.
Selain itu, Otoritas Sepak Bola Italia juga sedang mempertimbangkan sanksi tambahan, termasuk pembatasan suporter Inter Milan di laga tandang mendatang.
Presiden Inter Milan, Beppe Marotta, langsung mengutuk keras aksi tersebut dan menyampaikan permintaan maaf resmi kepada Cremonese serta Emil Audero.
Marotta menegaskan bahwa perilaku seperti ini tidak mewakili nilai klub dan harus dihentikan demi keselamatan semua pihak.
"Olahraga memiliki nilai-nilai yang jauh dari apa yang kita lihat. Pihak berwenang sedang menyelidiki tindakan ini, dan apa yang saya pikir juga dirasakan semua fans Inter," ujar Marotta.
"Sepakbola harus benar-benar menjauhkan diri dari insiden-insiden seperti ini."
"Kami mengutuk ini dengan sekeras-kerasnya. Pihak berwenang akan menangkap orang yang bertanggung jawab, dan seluruh klub Inter menyatakan kecaman tegas dan menyeluruh atas apa yang terjadi."
"Kami juga berterima kasih kepada Audero atas profesionalismenya," ujarnya.
Insiden ini menjadi contoh nyata "senjata makan tuan", di mana aksi nekat suporter justru merugikan dirinya sendiri dan berpotensi mencoreng nama baik klub.
Emil Audero, yang pernah memperkuat Inter Milan secara pinjaman dan berkontribusi meraih Scudetto, mendapat pujian luas atas ketenangan dan keberaniannya.
Meski begitu, hingga saat ini belum ada pernyataan resmi dari pihak Serie A atau Inter Milan mengenai sanksi dari insiden flare tersebut.
(Tribunnews.com/Hafidh Rizky Pratama)