SURYAMALAN.COM | MALANG - Kota Malang tak pernah kehabisan cerita soal kuliner.
Dari jajanan legendaris hingga kafe modern, semuanya tumbuh subur di kota berhawa sejuk ini.
Namun, di antara ragam kuliner tersebut, kopi tetap menjadi denyut yang tak pernah padam.
Tak heran, saat ini semakin banyak ditemui coffee shop berjejeran di sepanjang jalan.
Total ada 1.153 tempat ngopi yang tersebar di seluruh penjuru Kota Malang.
Jumlah tersebut meliputi coffee shop, kafe, warung kopi hingga penjual kopi eceran di pinggir jalanan.
Data tersebut diperoleh dari hasil pemetaan yang dilakukan oleh Ngalam Ngopi, sebuah wadah bagi para pegiat kopi di Malang yang berdiri sejak 2019 lalu.
"Karena dari dulu saya suka kopi, dan semakin banyak orang jualan kopi, akhirnya saya mencoba untuk menghitung satu per satu warkop di Malang," ujar Dana Helmi Anggara, pegiat kopi di Malang kepada SURYAMALANG.COM, Sabtu (31/1/2026).
"Akhirnya ketemu sekitar 1.153. Dan caranya kami petakan berdasarkan kelurahan. Jadi satu kelurahan kami hitung satu per satu," katanya.
Menariknya, pemetaan ini berawal dari kebutuhan akademik.
Salah satu mahasiswa yang tengah menyusun skripsi membutuhkan data sebaran warung kopi di Malang.
Dari situlah Dana dan rekan-rekannya ikut membantu hingga akhirnya berkembang menjadi basis data komunitas.
Selain pegiat kopi, Dana juga merupakan founder dari Ngalam Ngopi.
Ngalam Ngopi dibentuk dari kecintaannya terhadap kopi, sehingga ia rela menghabiskan waktu sehari-harinya dengan kopi.
Dana pun tak sendiri.
Ia dibantu oleh enam temannya yang juga bergerak di industri kopi.
Bagi Dana, Ngalam Ngopi tak hanya sebagai wadah bagi para penikmat kopi di Malang.
Tapi juga sebagai tempat bagi komunitas, media, dan event yang berhubungan dengan kopi.
Sejak September 2025 kemarin, ia membuka tempat ngopi yang dinamai Niskala dan berlokasi di Jalan Soekarno Hatta Kota Malang.
"Kopi ini hanya sebagai hobi. Karena saya cinta dengan kopi sejak dulu. Makanya saya punya ide untuk membentuk Ngalam Ngopi ini. Tak hanya sebagai media. Tapi juga sebagai wadah bagi para penikmat kopi di Malang," ujarnya.
Baca juga: ‘Kopi Sontoloyo’ Konsep Klasik Dipadukan Dengan Barang Antik dan Harum Kopi yang Menggoda
Menurut Dana, Malang sejatinya memiliki sejarah panjang komunitas kopi.
Setidaknya ada lima komunitas yang pernah aktif, seperti Nyangkruk Kopi, Taman Bermain, Sekolah Minum Kopi, hingga Vosco.
Akan tetapi, komunitas kopi tersebut sudah banyak yang vakum, seiring berjalannya waktu.
Meskipun vakum, namun para pentolan dari komunitas kopi di Malang ini masih bergerak di industri kopi sampai sekarang.
Bahkan ada yang sampai menjalani bisnis kopi dengan membuka coffee shop.
"Satu lagi saya lupa namanya. Saya juga termasuk bagian dari komunitasnya juga. Meskipun vakum, tapi kami masih sering berkomunikasi dengan mereka," jelasnya.
Dari tahun ke tahun industri kopi mengalami perubahan tren seiring dengan berjalannya waktu.
Seperti di Malang, Ngalam Ngopi sempat mendorong para pelaku industri kopi menggiatkan kopi emperan, atau ngopi di pinggir jalan dengan menggunakan kursi kecil atau dengklek dalam bahasa Jawanya.
Kopi dengklek ini sempat menjadi trend di Kota Malang utamanya pada malam hari.
Cukup banyak warung kopi yang menyediakan dengklek kecil sebagai tempat duduk untuk menyeduh kopi.
Tren ini sempat ramai di wilayah Pasar Besar, Comboran, Jalan Soekarno Hatta, Blimbing, Sukun, hingga berbagai wilayah lainnya dalam kurun waktu setahun belakangan ini.
Namun, tren kopi dengklek ini juga tak bertahan lama.
Meskipun masih kerap ditemui di pinggir jalan, tapi perlahan-lahan mulai memudar.
Justru saat ini yang menjadi tren ialah ngopag atau singkatan dari ngopi pagi.
Tren ngopi di pagi hari ini ternyata cukup mendapatkan antusias dari masyarakat, utamanya dari para gen Z.
Ngopag diprediksi akan masih menjadi tren ngopi hingga 2026 ini.
Terbukti dengan banyaknya coffee shop atau warkop yang buka mulai pagi.
"Saya rasa ngopag akan tetap menjadi tren di 2026 ini. Kami juga memiliki program untuk terus menyuarakan ngopag, agar industri kopi di Kota Malang dan Malang Raya ini terus berkembang," tandasnya.
Baca juga: ‘Kopi Sontoloyo’ Konsep Klasik Dipadukan Dengan Barang Antik dan Harum Kopi yang Menggoda