TRIBUNTRENDS.COM - File Epstein atau Epstein File sedang menjadi pembicaraan hangat di media sosial.
Banyak akun-akun yang mengutarakan kengeriannya saat mengulas isi File Epstein.
Karena File Epstein dikatakan mencatut nama-nama tokoh besar dunia serta keterkaitannya dengan kasus yang menyeret Epstein.
Berikut ini penjelasan tentang File Epstein dan mengapa dokumen ini kembali menjadi sorotan?
Dikutip dari Britannica, Jumat, file Epstein merujuk pada kumpulan dokumen setebal ribuan halaman yang berkaitan dengan dua penyelidikan kriminal atas kasus perdagangan seks yang melibatkan pemodal asal AS, Jeffrey Epstein, serta kaki tangannya, Ghislaine Maxwell.
Berkas-berkas ini mencakup berbagai jenis dokumen, mulai dari catatan perjalanan, rekaman komunikasi, hingga email yang mengungkap jejaring sosial Epstein dengan tokoh-tokoh berpengaruh.
Dokumen tersebut telah lama menjadi sorotan publik, terutama sejak Epstein ditemukan meninggal dunia di dalam tahanan pada Agustus 2019, saat ia menghadapi dakwaan dalam kasus perdagangan seks berskala luas.
Perhatian publik kembali meningkat pada November 2025, ketika tersebar tiga email dinilai mengindikasikan Presiden AS Donald Trump mengetahui praktik perdagangan seks yang dilakukan Epstein.
Namun, Trump sejak lama membantah mengetahui atau terlibat dalam kejahatan tersebut.
Tak lama berselang, pada 18 November 2025, Dewan Perwakilan Rakyat AS memberikan suara telak 427-1 untuk meloloskan Undang-Undang Transparansi Berkas Epstein.
Undang-undang ini kemudian disahkan oleh Senat dan ditandatangani oleh Presiden Trump, dengan tujuan membuka akses publik terhadap seluruh dokumen yang berkaitan dengan kasus Epstein.
Sebagai tindak lanjut, pada 19 Desember 2025, Departemen Kehakiman AS merilis ratusan ribu halaman dokumen sesuai amanat undang-undang tersebut.
Rilis awal ini mencakup sejumlah foto mantan Presiden AS Bill Clinton dan beberapa selebriti lain yang sebelumnya belum pernah dipublikasikan.
Namun, sebagian besar dokumen telah disensor, sehingga menuai kritik dari anggota parlemen lintas partai serta para korban Epstein.
Tahap berikutnya mencakup sekitar 30.000 halaman tambahan yang di dalamnya terdapat penyebutan nama Donald Trump, termasuk klaim bahwa ia pernah terbang menggunakan pesawat Epstein pada era 1990-an.
Pada Jumat (30/1/2026), Departemen Kehakiman AS kembali merilis jutaan berkas baru terkait Epstein.
Total dokumen yang dipublikasikan mencakup sekitar tiga juta halaman, 180.000 gambar, serta 2.000 video.
Pengungkapan ini dilakukan enam minggu setelah tenggat waktu yang ditetapkan undang-undang terlewati.
“Rilis hari ini menandai berakhirnya proses identifikasi dan peninjauan dokumen yang sangat komprehensif untuk memastikan transparansi kepada rakyat Amerika dan kepatuhan terhadap hukum,” ujar Wakil Jaksa Agung AS, Todd Blanche.
Berkas-berkas tersebut memuat berbagai informasi, termasuk detail masa Epstein di penjara, laporan psikologis, catatan terkait kematiannya, serta dokumen investigasi terhadap Ghislaine Maxwell, yang telah divonis bersalah karena membantu Epstein memperdagangkan gadis-gadis di bawah umur.
Selain itu, dokumen-dokumen ini juga mencakup korespondensi email antara Epstein dan sejumlah tokoh penting dunia.
Nama Presiden Donald Trump, pendiri Microsoft Bill Gates, Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick, hingga miliarder Inggris Richard Branson tercantum dalam berkas tersebut.
Sebagian besar dokumen berasal dari lebih dari satu dekade lalu dan menunjukkan luasnya jaringan Epstein di tengah berbagai masalah hukum yang menjeratnya.
Epstein sendiri pernah dijatuhi hukuman pada 2008 di Florida setelah mengaku bersalah atas tuduhan meminta hubungan seksual dari seorang gadis berusia 14 tahun melalui kesepakatan hukum yang menuai kontroversi.
Ia meninggal dunia pada 2019 saat ditahan atas tuduhan perdagangan seks.
Dilansir dari BBC, Senin (2/1/2026), berikut beberapa poin penting dan tokoh-tokoh yang disebutkan dalam file Epstein:
Donald Trump
Presiden AS Donald Trump disebutkan ratusan kali dalam berkas yang dirilis pada Jumat (30/1/2026).
Trump diketahui pernah memiliki hubungan pertemanan dengan Epstein, tapi ia menyatakan bahwa hubungan tersebut telah memburuk bertahun-tahun sebelum kasus Epstein mencuat ke publik.
Dalam dokumen terbaru, terdapat daftar yang disusun FBI mengenai berbagai tuduhan yang masuk ke saluran informasi Pusat Operasi Ancaman Nasional.
Tuduhan-tuduhan ini dilaporkan berasal dari informasi yang belum diverifikasi dan tidak disertai bukti pendukung.
Daftar tersebut mencakup tuduhan pelecehan seksual yang ditujukan kepada Trump, Epstein, dan sejumlah tokoh terkenal lainnya.
Namun, Trump secara konsisten membantah seluruh tuduhan tersebut dan belum pernah didakwa dalam kasus apa pun terkait Epstein.
Departemen Kehakiman AS menegaskan bahwa sebagian dokumen memuat klaim yang “tidak benar dan sensasional” terhadap Trump, yang diserahkan ke FBI menjelang pemilihan presiden 2020. DOJ menekankan bahwa klaim tersebut tidak berdasar dan salah.
Elon Musk
File Epstein juga memuat korespondensi email antara Epstein dan miliarder teknologi Elon Musk.
Musk, yang tidak dituduh melakukan kesalahan apa pun dalam kasus ini, sebelumnya mengatakan bahwa Epstein telah mengundangnya ke pulaunya tetapi dia menolak.
Adapun email yang terungkap menunjukkan bahwa Musk sempat membahas rencana perjalanan ke pulau tersebut lebih dari satu kali pada 2012 dan 2013.
Meski demikian, tidak ada bukti bahwa Musk benar-benar mengunjungi pulau Epstein.
Dalam pernyataannya di X, Musk mengakui bahwa email-email tersebut berpotensi disalahartikan, tetapi menegaskan bahwa fokus utamanya adalah memastikan para pelaku kejahatan serius yang terlibat dengan Epstein diadili.
"Saya tidak peduli tentang itu, tetapi yang saya pedulikan adalah setidaknya kita berupaya untuk menuntut mereka yang melakukan kejahatan serius bersama Epstein, terutama terkait eksploitasi keji terhadap gadis-gadis di bawah umur," tulis Musk dalam cuitannya.
Bill Gates
Nama pendiri Microsoft, Bill Gates, juga muncul dalam File Epstein.
Juru bicara Bill Gates pun menanggapi berbagai tuduhan serius yang tercantum dalam berkas Epstein terbaru.
Tuduhan tersebut, termasuk klaim bahwa Gates tertular penyakit menular seksual, ditegaskan sebagai tidak benar.
Menurut juru bicara Gates, sejumlah email yang dikaitkan dengan nama Gates dalam berkas tersebut patut dipertanyakan keabsahannya.
Dua email bertanggal 18 Juli 2013 disebut-sebut disusun oleh Jeffrey Epstein, tapi tidak jelas apakah email tersebut pernah benar-benar dikirim kepada Gates.
Kedua email itu tercatat dikirim dari akun email Epstein dan kembali ke akun yang sama.
Selain itu, tidak ditemukan alamat email yang terhubung dengan Bill Gates, dan kedua pesan tersebut juga tidak dilengkapi tanda tangan resmi.
Salah satu email ditulis seolah-olah merupakan surat pengunduran diri dari Yayasan Bill dan Melinda Gates, yang di dalamnya terdapat keluhan mengenai keharusan menyediakan obat bagi Gates “untuk mengatasi konsekuensi dari hubungan seks dengan gadis-gadis Rusia”.
Sementara itu, email lainnya, yang diawali dengan sapaan “Bill yang terhormat”, memuat klaim bahwa Gates telah mengakhiri hubungan pertemanan serta tuduhan upaya menutupi infeksi menular seksual, termasuk dari istrinya saat itu, Melinda.
Menanggapi hal tersebut, juru bicara Gates menegaskan bahwa seluruh tuduhan itu tidak berdasar.
“Klaim-klaim ini berasal dari seorang pembohong yang telah terbukti dan bersifat tidak puas. Tuduhan tersebut benar-benar tidak masuk akal dan sepenuhnya salah,” kata juru bicara Bill Gates kepada BBC.
Ia menambahkan, isi dokumen tersebut justru menunjukkan kekecewaan Epstein karena tidak memiliki hubungan berkelanjutan dengan Gates.
“Satu-satunya hal yang ditunjukkan oleh dokumen-dokumen ini adalah rasa frustrasi Epstein atas putusnya hubungan dengan Gates, serta sejauh mana ia bersedia berusaha untuk menjebak dan mencemarkan nama baik Bill Gates,” ujarnya.
Andrew Mountbatten-Windsor
Dokumen-dokumen dalam File Epstein turut mengungkap kedekatan mendiang pemodal tersebut dengan kalangan elit Inggris, termasuk Andrew Mountbatten-Windsor, yang sebelumnya dikenal sebagai Duke of York.
Dalam berkas tersebut terdapat korespondensi email antara Epstein dan seseorang yang disebut sebagai “The Duke”, yang diyakini merujuk pada Andrew Mountbatten-Windsor.
Salah satu email membahas rencana makan malam di Istana Buckingham dengan penekanan bahwa acara tersebut akan berlangsung dengan “banyak privasi”.
Pesan lain dari Epstein juga berisi tawaran untuk memperkenalkan “Sang Duke” kepada seorang perempuan Rusia berusia 26 tahun.
Email-email tersebut ditandatangani dengan inisial “A”, disertai tanda tangan yang tampak berbunyi “HRH Duke of York KG”.
Korespondensi tersebut dipertukarkan pada Agustus 2010, atau dua tahun setelah Epstein mengaku bersalah atas tuduhan melakukan pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur.
Dalam rilis berkas terbaru, turut dimuat sebuah foto yang tampaknya memperlihatkan mantan pangeran itu berlutut dengan keempat anggota tubuhnya di atas seorang perempuan yang terbaring di tanah.
Selain itu, terdapat pula email antara Epstein dan Mountbatten-Windsor tertanggal Februari 2011.
Email tersebut dinilai semakin melemahkan pernyataan Andrew sebelumnya yang menyebut bahwa ia telah memutus seluruh kontak dengan Epstein sejak tahun 2010.
Meski demikian, dokumen-dokumen tersebut tidak menunjukkan adanya bukti pelanggaran hukum.
Ia juga berulang kali membantah melakukan kesalahan apa pun dalam hubungannya dengan mendiang pemodal tersebut.
Sarah Ferguson dan Richard Branson
Berkas-berkas tersebut juga memuat sejumlah email antara Epstein dan Sarah Ferguson, mantan istri Andrew Mountbatten-Windsor.
Salah satu email tertanggal 4 April 2009 ditandatangani dengan kalimat, “Salam sayang, Sarah, Si Rambut Merah.!!”
Dalam email itu, Ferguson menyebut akan berada di Palm Beach dan ingin minum teh, sebelum membahas ide-ide untuk perusahaan miliknya, Mother’s Army.
Ia bahkan menyebut Epstein sebagai “Sahabatku yang terkasih, spektakuler, dan istimewa, Jeffrey”, serta menyebutnya sebagai “legenda” dan mengatakan, “Aku sangat bangga padamu”.
Email tersebut dikirim ketika Epstein masih menjalani tahanan rumah terkait vonisnya pada 2008.
Selain itu, nama pendiri Virgin Group, Richard Branson, juga muncul ratusan kali dalam berkas Epstein.
Menanggapi hal itu, Virgin Group memberikan klarifikasi bahwa istilah “harem” merujuk pada tiga anggota dewasa dari tim Epstein.
Perusahaan tersebut menegaskan bahwa kontak antara Richard dan Joan Branson dengan Epstein hanya terjadi beberapa kali lebih dari 12 tahun lalu dan terbatas pada konteks kelompok atau kegiatan bisnis, seperti acara tenis amal.
Miroslav Lajcak
Tokoh internasional lain yang disebut dalam berkas tersebut adalah Miroslav Lajcak, penasihat keamanan nasional Perdana Menteri Slovakia.
Namanya mencuat setelah pesan teks antara dirinya dan Epstein terungkap, termasuk percakapan pada 2018 yang membahas wanita serta rencana pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov.
Meski demikian, penyebutan nama dalam berkas tersebut tidak serta-merta menunjukkan adanya pelanggaran hukum.
Menurut media Slovakia, Lajcak awalnya membantah membahas topik perempuan dengan Epstein.
Namun, ia kemudian memutuskan mengundurkan diri agar tidak menimbulkan dampak politik bagi Perdana Menteri Robert Fico.
Lord Mandelson
Nama Lord Mandelson juga tercantum dalam File Epstein, terutama terkait catatan transaksi keuangan.
Berdasarkan laporan rekening bank yang dirilis, Epstein disebut melakukan pembayaran senilai total 75.000 dollar AS kepada rekening yang terhubung dengan Mandelson, melalui tiga transaksi terpisah masing-masing sebesar 25.000 dollar AS pada periode 2003–2004.
Menanggapi hal tersebut, Mandelson menyatakan bahwa ia tidak memiliki catatan maupun ingatan pernah menerima dana tersebut dan meragukan keaslian dokumen-dokumen tersebut.
Dalam rangkaian email lain, Mandelson juga terlihat meminta izin untuk menginap di salah satu properti milik Epstein.
Email itu berasal dari 16 Juni 2009, saat Epstein menjalani hukuman penjara atas kasus meminta jasa prostitusi dari individu di bawah usia 18 tahun, meski pada saat itu ia diizinkan bekerja dari kantor pada siang hari.
Pada Desember 2024, Mandelson sempat diangkat sebagai Duta Besar Inggris untuk Amerika Serikat.
Namun, ia diberhentikan kurang dari setahun kemudian setelah terungkap bahwa ia pernah mengirim pesan dukungan kepada Epstein pascavonis tersebut.
Lord Mandelson berulang kali menyatakan penyesalannya atas persahabatan di masa lalu dengan Epstein.
Ia menegaskan bahwa dirinya tidak pernah melihat tanda-tanda kejahatan dan mengaku telah “tertipu oleh kebohongan Epstein”.
***
(Kompas.com/TribunTrends.com)