Ibu-ibu Curiga, Kisah di Balik 145 Siswa Keracunan Massal Soto Menu MBG di Muaro Jambi
February 02, 2026 10:11 PM

"Anak itu ndak mau makan MBG-nya, sayo yang makan. Perasaan sayang dibuang" 
RI
Orang Tua Murid yang Keracunan

TRIBUNJAMBI.COM, SENGETI - "Anak itu ndak mau makan MBG-nya, sayo yang makan. Perasaan sayang dibuang," ujar RI, satu di antara ibu dari 145 murid di Kabupaten Muaro Jambi yang keracunan soto menu Makan Bergizi Gratis (MBG).

Ratusan orang keracunan makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Termasuk di antaranya orangtua murid SD Negeri 118 Desa Pematang Pulai, Kecamatan Sekernan, Kabupaten Muaro Jambi.

RI, seorang orangtua murid, mengaku turut mengalami gejala keracunan seusai mengonsumsi makanan MBG yang seharusnya diperuntukkan bagi anaknya. 

Peristiwa itu terjadi pada Jumat lalu. Saat itu, anak RI tidak masuk sekolah. Namun, karena ia menjemput keponakannya yang bersekolah di SD tersebut, makanan MBG jatah untuk anaknya dibawa pulang ke rumah.

"Anak itu ndak mau makan MBG-nya, sayo yang makan. Perasaan sayang dibuang," ujar RI saat ditemui Tribun Jambi.

RI menuturkan, sejak awal sudah merasa ada kejanggalan pada makanan tersebut. 

Kuahnya terasa berbeda dari masakan rumahan, tahu goreng tampak seperti digoreng ulang, dan ayam memiliki rasa yang tidak biasa.

"Kuahnya tuh memang agak beda samo soto-soto yang biasa. Tahunya kayak tahu yang sudah lama, ayamnya pun rasanya lain," katanya.

KERACUNAN MASSAL - Puluhan siswa di Kecamatan Sekernan, Kabupaten Muaro Jambi, diduga keracunan massal setelah mengonsumsi soto menu MBG dari SPPG Yayasan Aziz Rukiyah Amanah, Jumat (30/1) sore.
KERACUNAN MASSAL - Puluhan siswa di Kecamatan Sekernan, Kabupaten Muaro Jambi, diduga keracunan massal setelah mengonsumsi soto menu MBG dari SPPG Yayasan Aziz Rukiyah Amanah, Jumat (30/1) sore. (Tribunjambi.com/Muzakkir)

Ia mengaku mulai khawatir setelah mendengar kabar sejumlah siswa mengalami keracunan. 

Sebagai antisipasi, RI sempat minum air asam jawa. Namun, sekitar pukul 22.45 WIB, RI mulai merasakan gejala serius. 

Perutnya mulas, badan terasa pusing dan lemas, hingga akhirnya muntah-muntah.

"Perut mulas, pusing, badan ndak bas. Dikerik pun ndak terasa. Setelah itu muntah-muntah, badan lemah sampai besok siangnya,” ungkapnya.

Meski kondisinya cukup berat, RI tidak sempat dibawa ke rumah sakit. 

RI hanya membeli obat sendiri dan minum susu untuk meredakan keluhan. Hingga kini kondisinya berangsur membaik.

Pernah Ada Lauk Basi

RI juga mengungkapkan, sebelumnya sudah beberapa kali anak-anak mengeluhkan makanan MBG yang diduga tidak layak konsumsi. Bahkan ada lauk yang terpaksa dibuang karena bau.

"Pernah juga sebelumnya lauk busuk. Anak-anak ndak dimakan, dibawa balik. Bau ayamnya memang mencurigakan,” katanya.

Sebagian siswa mengalami keluhan serupa. Ada yang muntah, diare, hingga masih lemas sehingga belum kembali ke sekolah.

"Yang kena itu ndak masuk sekolah. Masih lemas. Ada yang muntah-muntah, ada yang diare,” ujarnya.

Bahkan, RI mengaku mendapat informasi ada anak yang kondisinya cukup parah hingga mulutnya berbusa dan harus dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah Jambi.

“Anak sekolah semua. Balita ndak ada dengar,” jelasnya.

Soal Lauk Bersantan

Menurut RI, makanan berkuah seperti soto atau lauk bersantan lebih rentan cepat basi. Ia menilai jenis makanan semur atau menu kering lebih aman untuk anak-anak.

“Kalau berkuah itu cepat basi. Ndak tahu pengolahannya jam berapo. Kalau semur mungkin lebih aman,” katanya.

Selain itu, ia juga pernah menemukan sayur dalam kondisi tidak layak, bahkan terdapat ulat. Keluhan tersebut, kata dia, sudah disampaikan ke pihak sekolah melalui catatan pada ompreng makanan.

KERACUNAN MASSAL - Orang tua siswa menunggu anak mereka yang masuk IGD Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ahmad Ripin Sengeti, Kabupaten Muaro Jambi,Jumat (30/1/2026) sore. Sseluruh tempat tidur pasien yang ada di IGD penuh karena puluhan siswa keracunan.
KERACUNAN MASSAL - Orang tua siswa menunggu anak mereka yang masuk IGD Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ahmad Ripin Sengeti, Kabupaten Muaro Jambi,Jumat (30/1/2026) sore. Sseluruh tempat tidur pasien yang ada di IGD penuh karena puluhan siswa keracunan. (Tribunjambi.com/Muzakkir)

“Sudah pernah dikasih tahu sekolah. Disuruh ditulis di ompreng. Tapi yo kami mak-mak ni jugo takut,” ujarnya.

Meski demikian, RI menegaskan bahwa program MBG pada dasarnya baik. Namun ia berharap ke depan kualitas dan keamanan makanan benar-benar diperhatikan agar kejadian serupa tidak terulang.

“Programnya bagus. Cuma jangan sampai kejadian kemarin terulang lagi. Kesehatan anak itu yang paling utama,” tegasnya.

Ia juga memastikan, ke depan tidak akan lagi mengonsumsi makanan MBG jika dibawa pulang anaknya.

“Ndak lagi. Kalau bisa anak jangan lagi dikasih MBG dulu. Takut,” pungkasnya.

RI menambahkan, dua bulan ke depan MBG di sejumlah sekolah yang terdampak sakit, tidak lagi menerima makanan hingga dua bulan ke depan.
"Sejak hari ini tidak ada, anak-anak bawa bekal. Sampai dua bulan kedepan setop dulu," tuturnya. 

MBG di Muaro Jambi Dievaluasi, SPPG Yayasan Aziz Ruqyah Amanah Disetop Sementara

Kasus keracunan ratusan siswa di Kabupaten Muaro Jambi, berbuntut sanksi terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sengeti di bawah naungan Yayasan Aziz Ruqyah Amanah. Badan Gizi Nasional (BGN) menjatuhkan sanksi penghentian sementara operasional SPPG tersebut.

Penghentian dilakukan hingga hasil pemeriksaan sampel makanan keluar dan sesuai instruksi BGN pusat.

Sekretaris Daerah Kabupaten Muaro Jambi, Budhi Hartono, mengatakan BGN telah membeRIn teguran keras kepada SPPG Sengeti.

"Saat ini baru penghentian sementara. Jika terjadi kasus serupa, maka akan dihentikan selamanya," kata Budhi usai rapat bersama seluruh SPPG se-Kabupaten Muaro Jambi.

Terkait hasil uji laboratorium, Budhi menyebut pemeriksaan masih berlangsung.

“Sampai sekarang hasilnya belum keluar dari BPOM,” ujarnya.

Operasional SPPG Dihentikan Sementara

Merespons kejadian itu, Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi menghentikan sementara operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sengeti.

Sekda Budhi Hartono mengatakan penghentian dilakukan sambil menunggu hasil investigasi dan uji laboratorium terhadap sampel makanan.

“Kami sudah berkoordinasi dengan koordinator SPPG. Sampai hasil investigasi keluar, SPPG Sengeti ditutup sementara,” ujar Budhi.

Menurut Budhi, proses pemeriksaan melibatkan Badan Gizi Nasional (BGN) bersama pemerintah daerah dan instansi terkait. Hasil investigasi akan dilaporkan ke BGN Pusat yang memiliki kewenangan menentukan sanksi dan kelanjutan operasional SPPG.

Budhi mengindikasikan adanya dugaan kelalaian dalam penerapan standar operasional prosedur (SOP). Ia menegaskan insiden ini seharusnya dapat dicegah apabila SOP dijalankan secara konsisten, mulai dari kebersihan, kualitas bahan makanan, hingga standar gizi.

“Kalau SOP dijalankan dengan baik, kejadian seperti ini tidak akan terjadi,” katanya.

Sebagai langkah pencegahan, pemerintah daerah akan mengumpulkan seluruh kepala SPPG se-Kabupaten Muaro Jambi pada Senin (2/2) guna memperketat pengawasan dan memastikan kepatuhan terhadap prosedur.

Kasus ini disebut sebagai insiden pertama dugaan keracunan MBG di Muaro Jambi sejak program tersebut berjalan. Meski demikian, Budhi menegaskan pengawasan ke depan akan diperketat.

“Program ini tidak boleh membahayakan masyarakat,” ujarnya.

Pemkab Evaluasi Total Program MBG

Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi bergerak cepat merespons insiden tersebut. Bertempat di Ruang Ridan Kantor Bupati, Pemkab Muaro Jambi bersama unsur forkopimda mengumpulkan seluruh kepala SPPG se-Kabupaten Muaro Jambi untuk melakukan evaluasi total program MBG.

Rapat koordinasi dipimpin langsung oleh Sekda Budhi Hartono. Dalam arahannya, ia menegaskan standar operasional prosedur (SOP) penyediaan makanan harus diperketat tanpa toleransi terhadap kelalaian.

Menurut Budhi, kejadian ini merupakan peristiwa luar biasa dan tidak terduga. Namun, ia menekankan pentingnya pengawasan berlapis.

"Kalau pengawasan dilakukan sesuai tahapan dan dilaksanakan dengan baik, seharusnya tidak ada celah kejadian seperti ini. Mungkin ada kelalaian dari pegawai SPPG sehingga makanan tercemar bakteri dan sebagainya,” katanya.

Ke depan, satuan tugas akan meningkatkan intensitas pengawasan terhadap 15 SPPG yang saat ini telah beroperasi.

"Jangan sampai terulang lagi. Kita berharap ini kejadian pertama dan terakhir," tegas Budhi.

Rapat tersebut dihadiri Kepala BPOM Provinsi Jambi, Kepala BGN Regional Jambi, perwakilan TNI dan Polri, serta kepala OPD di lingkungan Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi. 

Aktivitas Sekolah Mulai Normal

Aktivitas belajar mengajar di SD Negeri 118 Desa Pematang Pulai, Kecamatan Sekernan, Kabupaten Muaro Jambi, kembali berjalan normal, Senin (2/2), setelah sejumlah siswa sempat mengalami dugaan keracunan makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Pantauan Tribun Jambi, sekira pukul 11.00 WIB, siswa kelas IV, V, dan VI masih mengikuti pelajaran di kelas. Sementara siswa kelas I, II, dan III telah pulang lebih dulu.

Sekolah yang berada di tepi Jalan Lintas Timur itu memiliki bangunan bertiang setinggi sekitar satu meter dengan tangga bercat merah putih menuju ruang kelas. Di halaman sekolah tampak lapangan luas berwarna hijau.

Di salah satu ruang kelas, puluhan siswa terlihat belajar seperti biasa. Seorang guru perempuan yang ditemui Tribun Jambi mengatakan proses belajar mengajar tetap berjalan normal meski sebagian siswa masih dalam pemulihan.

"Sebagian anak sudah keluar dari rumah sakit, masih ada yang di rumah, dan beberapa sudah mulai sekolah hari ini,” ujarnya.

Namun, ia enggan menjelaskan lebih rinci kondisi para siswa dan menyarankan agar konfirmasi dilakukan langsung kepada Kepala Sekolah yang saat itu tengah berada di Dinas Pendidikan Kabupaten Muaro Jambi.

Guru tersebut kemudian memanggil salah satu siswa, Ahmad Arifin, yang sebelumnya sempat dirawat di rumah sakit.

"Ini salah satu anak yang sudah masuk sekolah. Sudah aman, tidak ada keluhan. Tapi masih ada temannya yang di rumah,” katanya. 

Sebagian Besar Siswa Sudah Pulang

Direktur RSUD Ahmad Ripin Sengeti, Agus Subekti, mengatakan sebagian besar pasien yang diduga mengalami keracunan telah diperbolehkan pulang.

"Pasien yang masih dirawat saat ini berjumlah 12 orang,” kata Agus saat dikonfirmasi, Minggu (1/2).

Ia merinci, sebelumnya sebanyak 145 orang sempat mendapatkan penanganan medis di RSUD Ahmad Ripin. 

Dari jumlah tersebut, 99 orang menjalani rawat inap dan 44 orang rawat jalan. Selain itu, dua pasien dirujuk ke RSUD Raden Mattaher Jambi.
“Data ini per 1 Februari 2026 pukul 14.30 WIB,” ujarnya.

Ratusan korban tersebut berasal dari berbagai kelompok usia, mulai dari murid taman kanak-kanak (TK), sekolah dasar (SD), madrasah tsanawiyah (MTs) atau sederajat, hingga guru dan balita. Dugaan sementara, mereka mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap makanan MBG yang disalurkan pada Jumat (30/1).

SPPG Bantah Daur Ulang Makanan

Kepala SPPG Sengeti, Akbar Amrullah, mengatakan penyebab pasti dugaan keracunan masih dalam proses pemeriksaan. Ia membantah adanya praktik daur ulang makanan.

“Tidak ada makanan yang didaur ulang. Semua bahan yang datang diolah dan disajikan pada hari yang sama,” ujarnya. (Tribunjambi.com/Rifani Halim/Muzakkir)

Siswa Keracunan Soto MBG

  • Diduga karena menu soto yang basi
  • Ada 145 anak perlu penanganan medis di RSUD Ahmad Ripin
  • 99 orang rawat inap, 44 orang rawat jalan, 2 pasien dirujuk ke RSUD Raden Mattaher Jambi, lainnya kondisi aman
  • Korban mulai murid TK, SD, MTs atau sederajat, hingga guru dan balita

Baca juga: Bengawan Kamto Hadapi Dakwaan Korupsi Rp 105 Miliar di PN Tipikor Jambi

Baca juga: Salah Satu Orang Kaya di Jambi Duduk di Kursi Terdakwa Pengadilan Tipikor

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.