BANJARMASINPOST.CO.ID, PELAIHARI - Satu kejanggalan penemuan perahu di tengah laut milik Bahran (50), nelayan Desa Kuala Tambangan, Kecamatan Takisung, Kabupaten Tanah Laut (Tala), Kalimantan Selatan (Kalsel) terungkap.
Perahu kecil jenis lumbung milik Bahran (50), nelayan Desa Kuala Tambangan yang dilaporkan belum kembali dari laut, akhirnya ditemukan.
Namun saat ditemukan, nelayan yang berdomisili di lingkungan RT 1 Dusun 1 Kualatambangan ini tidak berada di atas perahu tersebut.
Kapolsek Takisung AKP Duki membenarkan temuan perahu nelayan yang sebelumnya dilaporkan hilang itu.
Baca juga: Duduk Persoalan SK Hasil Pemilihan Ketua RT 10 Kotabaru Hilir Kalsel Sampai Urung Diterbitkan
Baca juga: Pasca Penggeledahan Kantor Disperindag oleh Kejari Balangan, Jaksa Temukan Fakta Soal Pasar Uren
Perahu ditemukan mengapung di perairan laut sekitar Desa Kuala Tambangan.
“Kapalnya sudah ditemukan, tapi orangnya tidak ada,” ujar AKP Duki saat dikonfirmasi, Senin (2/2/2026).
Menurutnya, perahu lumbung milik Bahran tersebut selanjutnya ditarik ke pesisir daratan Kualatambangan. Sementara itu, upaya pencarian terhadap Bahran masih terus dilanjutkan.
AKP Duki menjelaskan, pencarian telah dilakukan sejak Minggu (1/2/2026) oleh nelayan setempat dari pagi hingga petang, namun belum membuahkan hasil. Pada hari ini, pencarian diperkuat dengan melibatkan Basarnas Banjarmasin.
“Pencarian hari ini melibatkan Basarnas untuk memperluas area dan memaksimalkan upaya,” katanya.
Terkait aktivitas melaut Bahran, Duki menyebut berdasarkan informasi dari nelayan Desa Kuala Tambangan, wilayah operasional Bahran cukup luas.
“Informasi dari nelayan setempat, aktivitas melautnya bisa sampai ke perbatasan perairan Kalimantan Tengah,” ujarnya.
Biasanya, ia sudah kembali ke darat pada malam hari sekitar Maghrib atau Isya. Namun hingga beberapa hari berikutnya, Bahran tak kunjung pulang.
Basarnas Banjarmasin Turun Tangan
Upaya pencarian terhadap Bahran (50), nelayan asal Desa Kuala Tambangan, Kecamatan Takisung, Kabupaten Tanahlaut (Tala), Kalimantan Selatan (Kalsel), yang belum kembali dari laut, hingga Hari Minggu malam tadi belum membuahkan hasil.
Pencarian intensif telah dilakukan nelayan setempat sepanjang hari menggunakan sejumlah kapal nelayan.
Kepala Desa Kuala Tambangan, H Zainuddin mengatakan para nelayan menyisir perairan laut setempat sejak pagi hingga sore hari, namun belum menemukan tanda-tanda keberadaan korban maupun perahunya.
“Pencarian sudah dilakukan seharian kemarin oleh nelayan setempat dengan kapal-kapal nelayan, tapi belum ada hasil,” ujar Zainuddin, Senin (2/2/2026).
Ia menyebutkan, untuk memperluas dan memaksimalkan pencarian, tim Basarnas dari Banjarmasin dijadwalkan tiba hari ini guna melakukan operasi pencarian dengan peralatan yang lebih memadai.
“Insyaallah hari ini Basarnas dari Banjarmasin akan turun membantu pencarian,” katanya.
Menurut informasi yang dihimpun dari kalangan nelayan setempat, Bahran selama ini dikenal hanya melaut di sekitar perairan Kuala Tambangan, beberapa mil dari garis pantai. Ia menggunakan perahu kecil jenis lumbung untuk mencari ikan.
Pada Sabtu (31/1/2026) dua hari lalu, Bahran berangkat melaut seperti biasa pada siang hari. Umumnya, ia sudah kembali ke darat pada malam hari sekitar waktu Maghrib atau Isya. Namun hingga Minggu malam, Bahran tak kunjung pulang.
Seiring belum ditemukannya warga RT 1 Dusun 1 ini, muncul kekhawatiran di kalangan nelayan bahwa Bahran mengalami masalah di laut. Dugaan tersebut menguat karena kondisi perairan yang belum sepenuhnya bersahabat.
Sekretaris Desa Kuala Tambangan, Mulyadi, menuturkan saat pencarian siang kemarin, nelayan sempat menghadapi gelombang besar di laut.
“Waktu pencarian siang kemarin, gelombang ribut,” ujarnya.
Ia menambahkan, biasanya Bahran hanya beroperasi di sekitar perairan Kuala Tambangan dan tidak melaut terlalu jauh dari daratan atau hanya beberapa mil dari daratan.
Gelombang Laut Sempat Ribut
Kondisi di perairan laut saat ini masih belum sepenuhnya bersahabat meski mulai cenderung teduh. Bahkan seorang nelayan di Kabupaten Tanahlaut (Tala), Kalimantan Selatan (Kalsel), dilaporkan tak kunjung pulang.
Nelayan tersebut yaitu Bahrani, warga RT 1 Dusun 1 Desa Kualatambangan, Kecamatan Takisung.
Penuturan kalangan nelayan setempat, Minggu (1/2/2026), lelaki berusia sekitar 50 tahun ini berangkat melaut pada Sabtu siang.
Bahrani melaut menaiki kapal kecil jenis Lumbung. Namun hingga malam tak kunjung pulang sehingga membuat keluarga khawatir.
Sejumlah nelayan Kualatambangan pun bergerak cepat melakukan pencarian sejak Minggu pagi. Pencarian berlanjut dilakukan lagi pada sore.
Upaya pencarian tersebut dilakukan secara swadaya menggunakan beberapa kapal nelayan setempat.
Sekretaris Desa Kualatambangan, Mulyadi, mengatakan begitu diketahui Bahran tak kunjung pulang, para nelayan setempat langsung berinisiatif melakukan pencarian di sekitar perairan pesisir.
“Pagi tadi sudah dilakukan pencarian oleh nelayan menggunakan beberapa kapal. Sore ini dilanjutkan lagi,” ujar Mulyadi saat dikonfirmasi.
Menurutnya, kondisi laut sempat menyulitkan upaya pencarian. Gelombang di perairan Takisung dilaporkan sempat cukup tinggi pada siang hari.
“Siang tadi gelombang laut sempat ribut,” tambahnya.
Bahran dikenal sebagai nelayan yang rutin pulang ke darat menjelang malam usai melaut. Ketika kebiasaan itu berubah, keluarga dan sesama nelayan mulai khawatir terhadap keselamatannya.
Selain pencarian mandiri oleh nelayan, pihak desa juga telah melaporkan kejadian tersebut kepada camat dan pihak terkait untuk mendapatkan dukungan pencarian lebih lanjut.
Terpisah, Kapolsek Takisung AKP Duki membenarkan adanya laporan nelayan yang belum kembali dari laut tersebut.
Ia menyebut kekhawatiran keluarga muncul karena biasanya nelayan tersebut sudah kembali sebelum tengah hari.
“Biasanya sebelum tengah hari sudah datang, jadi keluarga khawatir,” ujarnya singkat.
Kebiasaan Nelayan dalam Memprediksi Cuaca Ketika Melaut
Nelayan adalah orang yang mata pencahariannya melakukan penangkapan ikan atau secara aktif melakukan operasi penangkapan ikan di perairan.
Perhitungan yang tepat terkait kondisi iklim dan cuaca lokal sangat penting bagi nelayan karena berkaitan langsung dengan aktivitas melaut dan keselamatan.
Meski dengan kecanggihan teknologi yang telah berkembang, namun masih banyak nelayan tradisional yang memprediksi cuaca dengan faktor alam.
Dalam hal pembacaan iklim dan cuaca lokal, nelayan tradisional memiliki cara-cara tersendiri yang mereka dapatkan dari proses berinteraksi dengan alam sekitar.
Untuk melaut pada malam hari, umumnya nelayan melakukan pembacaan iklim melalui bulan. Namun, bagaimana nelayan mengetahui posisi dan arah di laut ketika pada siang hari?
Pada siang hari, indikator yang digunakan dalam membaca iklim dan cuaca lokal yaitu tanda-tanda alam yang ada di laut, seperti gelombang, arah angin, dan arus air.
Adapun tanda-tanda yang diperhatikan nelayan sebelum turun melaut di antaranya:
Faktor angin musim
Secara umum nelayan menggunakan indikasi pembentukan awan dari arah tertentu untuk memprediksi peluang terjadi angin kencang dari arah-arah tersebut.
Bentuk awan yang tebal berwarna abu-abu dan kehitaman, dan terlihat menggantung di atas laut seperti sebuah garis pada arah tertentu dipercaya nelayan sebagai tanda terjadinya cuaca buruk.
Tanda di daratan seperti daun pohon kelapa yang terkena tiupan angin ke arah tertentu juga diperhitungkan untuk memastikan arah datang angin yang bertiup.
Bila kejadian angin kencang terjadi saat nelayan berada di laut pada malam hari, beberapa tanda seperti bunyi gemuruh gelombang dari arah tertentu, dan gerakan gelombang yang dirasakan di atas perahu menjadi tanda akan terjadinya cuaca buruk.
Ada nelayan yang menggunakan jarinya yang diberi air liur terlebih dahulu untuk mendeteksi arah datang angin.
Faktor awan
Bagi para nelayan, keberadaan awan di langit juga dapat dijadikan pedoman atau petunjuk ketika akan melakukan aktifitas penangkapan ikan di laut.
Nelayan tradisional menggunakan awan sebagai tanda untuk memprediksi cuaca di laut. Arah dan kecepatan pergerakan awan diamati nelayan untuk memprediksi arah datang dan kecepatan angin yang akan terjadi.
Nelayan juga dapat membedakan jenis awan yang hanya akan berubah menjadi hujan bukan badai angin yang dapat menimbulkan gelombang tinggi di laut.
Faktor ombak
Tanda-tanda alam di laut berupa ombak, sangat terkait dengan angin, arus, dan keberadaan karang di laut. Setiap daerah memiliki ciri ombak masing-masing yang dapat menjadi indikator prediksi cuaca.
Munculnya ombak dalam ukuran-ukuran tertentu juga sangat dipengaruhi oleh kencangnya angin yang berhembus
Jika angin kencang searah dengan arus, maka ombaknya agak lebih rendah dan panjang. Tetapi jika angin berlawanan dengan arus, maka ombaknya agak tinggi dan tidak panjang.
Pembacaan umur bulan
Pembacaan umur bulan merupakan pengetahuan yang sangat mendasar bagi nelayan baik di daratan utama maupun di pulau.
Pembacaan umur bulan dilakukan karena posisi umur bulan sangat berpengaruh terhadap kondisi di laut dan waktu penangkapan ikan.
Selain itu, pembacaan umur bulan dan fenomena alam terkait dengannya dimanfaatkan nelayan untuk beberapa kepentingan seperti keputusan melakukan perjalanan laut termasuk berlayar.
(banjarmasinpost.co.id/banyu langit roynalendra nareswara/kompas.com)