Laporan wartawan TribunBanten.com, Ade Feri Anggriawan
TRIBUNBANTEN.COM, TANGERANG - Sentra Kuliner Laksa dulunya dikenal sebagai salah satu ikon khas Kota Tangerang sekaligus etalase kuliner tradisional di Kota Benteng.
Tempat yang berada di Jalan Mochammad Yamin dan hanya berjarak sekitar 2,5 kilometer dari Kantor Pusat Pemerintahan Kota Tangerang ini diresmikan pada tahun 2010 oleh Wali Kota Tangerang saat itu, Wahidin Halim, yang juga merupakan mantan Gubernur Banten.
Di lokasi yang memiliki total delapan lapak penjual laksa ini, para pengunjung dapat menikmati hidangan kuliner warisan budaya yang telah melekat dengan identitas kota.
Baca juga: Nikmatnya Laksa Tangerang, Kuliner Legendaris Kebanggaan Kota Benteng
Namun ironisnya, kawasan yang menjadi rumah bagi para pedagang laksa tersebut kini justru terlihat usang dan kian terabaikan.
Berdasarkan pantauan TribunBanten.com, atap bangunan yang berbentuk rumah tradisional khas Jawa atau joglo itu tampak banyak berlubang.
Selain itu, material bangunan lainnya yang mayoritas terbuat dari batang bambu juga sudah tampak lapuk dan jauh dari kata layak.
Bahkan, jika diperhatikan lebih detail, atap bangunan terlihat sudah miring dan nyaris roboh.
Kondisi tersebut tidak hanya mengganggu kenyamanan pengunjung, tetapi juga berdampak langsung pada para pedagang yang menggantungkan hidup dari warisan kuliner turun-temurun ini.
Salah seorang pedagang, Ismail Hasan, mengatakan sentra kuliner laksa terakhir kali mendapatkan perbaikan dari pemerintah pada tahun 2019.
"Dulu bangunannya pembatasnya pakai batu bata, tapi sekarang dibuat full pakai bambu. Terus dulu lantainya masih paving blok, lalu dibagusin jadi keramik," katanya kepada TribunBanten.com saat ditemui di lokasi, Selasa (3/2/2026).
"Tapi sejak saat itu, sudah enggak pernah lagi dibagusin sama pemerintah," sambungnya.
Sudah menempati lapak sejak 2011, Ismail mengaku pada awalnya para pedagang tidak dikenakan uang sewa.
Namun, lanjut dia, dalam kurun waktu tiga tahun terakhir para pedagang diminta membayar sewa sebesar Rp 4 juta per tahun.
"Dulu waktu awal gratis karena memang Pak Wahidin itu suka makan di sini. Terus sejak tahun 2023 mulai bayar yang ditransfer langsung ke rekening atas nama Kemenkumham," katanya.
"Selain sewa, ada juga uang kebersihan Rp 20 ribu per minggu," jelasnya.
Meski merasa keberatan dengan biaya sewa tersebut, Ismail mengatakan para pedagang tidak memiliki pilihan lain.
"Keberatannya karena kita sudah bayar, tapi fasilitasnya begini, kurang layak. Tapi mau gimana lagi, namanya cari rezeki," ucap Ismail.
Ia berharap Pemerintah Kota Tangerang dapat kembali memberikan perhatian kepada para pedagang laksa agar kuliner khas daerah tersebut tetap lestari.
"Mudah-mudahan bisa dibagusin lagi sama pemerintah, karena kalau begini terus, lama-lama pedagang juga nyerah dan berhenti jualan," katanya.