TRIBUNJATIM.COM - Seorang siswa kelas IV SD di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), YBR (10), ditemukan meninggal dunia, Kamis (29/1/2026).
YBR diduga meninggal karena ia tidak memiliki buku dan pena untuk pergi ke sekolah karena kondisi keluarganya.
Tragedi ini bak mempertanyakan, sejauh mana negara hadir ketika kebutuhan belajar paling sederhana saja belum terjamin.
Baca juga: Sosok Pengusaha Kasur Perbaiki Jalan Rusak Pakai Uang Pribadi, 15 Tahun Tak Dijamah Pemerintah
Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Ngada, Gerardus Reo, turun langsung meninjau rumah korban dan bertemu keluarganya, Selasa (3/2/2026).
Ia juga menemukan persoalan administrasi kependudukan yang membuat keluarga ini luput dari sistem bantuan.
"Ibu korban masih ber-KTP Nagekeo, meski sudah 11 tahun tinggal di Desa Naruwolo," jelas Gerardus Reo.
"Saat itu juga kami langsung mendata dan memproses pindah penduduk. Besok, seluruh dokumen kependudukan sudah selesai," tuturnya.
Berdasarkan pantauan, YBR bersama neneknya tinggal di sebuah gubuk bambu berukuran tak lebih dari 2 x 3 meter di Desa Naruwolo, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur.
Di tempat sederhana itulah, YBR ditemukan meninggal dunia pada Kamis (29/1/2026), sekitar pukul 12.30 WITA.
Saat kejadian, nenek korban tengah mandi di kali yang jaraknya tak jauh dari pondok.
Tak ada tanda-tanda mencurigakan sebelumnya, tak ada pertengkaran, tak ada riwayat perilaku menyimpang.
YBR merupakan anak bungsu dari lima bersaudara.
Sejak berusia 1 tahun 7 bulan, ia tak lagi tinggal bersama ibu kandungnya dan diasuh oleh neneknya di pondok sederhana berdinding bambu.
Ayahnya telah merantau ke Kalimantan sejak 11–12 tahun lalu dan tak pernah kembali.
Sehari-hari, selain bersekolah, YBR kerap membantu neneknya menjual sayur, ubi dan kayu bakar.
Untuk makan, mereka mengandalkan hasil kebun seadanya, pisang dan ubi menjadi menu paling sering.
Menurut keterangan nenek, YBR dikenal sebagai anak pendiam dan penurut.
Ia tak pernah menunjukkan perilaku aneh.
Keluhannya hanya sederhana, buku tulis dan pulpen untuk sekolah.
"Kami selalu berusaha penuhi, semampu kami," tutur sang nenek lirih.
Baca juga: Sudah Periksa Penyidik, Polsek Bantah Tudingan Rekayasa BAP Ubah Kasus Penganiayaan Jadi Narkoba
Ibu kandung YBR, MGT (47), menceritakan pagi terakhir sebelum tragedi tersebut.
YBR mengeluh pusing dan enggan berangkat ke sekolah.
Namun, karena khawatir ia tertinggal pelajaran, sang ibu tetap mendorongnya masuk sekolah dan mengantar dengan ojek.
Siang harinya, kabar duka tersebut datang, menghantam keluarga tanpa peringatan.
"Saya kaget ada kabar, dari tetangga, saya pikir anak saya ada pergi sekolah," ungkap Maria.
YBR meninggalkan sepucuk surat untuk ibundanya.
Dalam surat itu, sebagaimana telah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia, korban menuliskan:
Surat buat Mama
Mama saya pergi dulu
Mama relakan saya pergi
Jangan menangis ya Mama
Tidak perlu Mama menangis dan mencari, atau mencari saya
Selamat tinggal Mama
Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian mengatakan, insiden ini merupakan alarm keras bagi negara.
Hetifah menegaskan, peristiwa ini bukanlah sekadar kabar duka.
"Masya Allah, tragedi ini bukan sekadar kabar duka, melainkan alarm keras bagi negara dan masyarakat," kata Hetifah kepada Kompas.com, Selasa (3/2/2026).
Hetifah mengatakan, peristiwa ini sangat menyayat hati dan tidak bisa diterima di negara manapun.
Menurut dia, anak usia 10 tahun seharusnya dilindungi dan dibantu, bukan sampai merasa putus asa hanya karena buku dan pena.
"Kasus ini menunjukkan, bahwa sangat penting bagi kita, untuk mengoreksi sistem pendidikan, perlindungan sosial, dan kepedulian lingkungan sekitar," ujar dia.
Hetifah menyebut, pendidikan dasar seharusnya benar-benar gratis dan inklusif, tanpa membebani anak dari keluarga miskin.
Ke depannya, kata dia, sistem pendidikan harus benar-benar menjamin sekolah dasar gratis termasuk perlengkapan belajar.
"Perlindungan sosial harus aktif dan tepat sasaran bagi keluarga rentan tanpa menunggu tragedi terjadi," kata Hetifah.
"Kepedulian sosial juga wajib dibangun kuat di sekolah dan masyarakat agar setiap anak yang kesulitan segera dibantu dan tidak pernah merasa sendirian menghadapi kemiskinan," imbuh dia.
Menteri Sosial, Saifullah Yusuf, prihatin terhadap insiden tragis seorang siswa SD yang meninggal karena tak mampu membeli buku dan pena seharga Rp10.000.
Gus Ipul, sapaan akrab Saifullah Yusuf, menegaskan, insiden yang dialami anak tersebut menjadi perhatian pemerintah, khususnya Kementerian Sosial.
"Kami prihatin, turut berduka. Tentu, ini menjadi perhatian, menjadi atensi kita bersama, tentu bersama pemerintah daerah," kata Gus Ipul, Selasa (3/2/2026).
"Kita harus memperkuat pendampingan, kita harus memperkuat data kita. Ya kita harapkan tidak ada (keluarga miskin dan miskin ekstrem) yang tidak terdata," imbuhnya.
Ia menekankan pentingnya membangun basis data Kementerian Sosial agar menjangkau seluruh keluarga di Indonesia.
Termasuk keluarga-keluarga yang berada di kategori miskin ekstrem (desil-1), dan kategori miskin (desil-2).
"Ini hal yang sangat penting. Saya kira kembali kepada data. Bagaimana data ini kita saksikan sebaik mungkin. Sehingga kita bisa menjangkau seluruh keluarga-keluarga yang memang memerlukan perlindungan, memerlukan rehabilitasi, dan memerlukan pemberdayaan," ujar dia.
"(Insiden) Ini sungguh-sungguh menjadi keprihatinan kita bersama," kata dia.
*) Kontak bantuan
Tindakan membahayakan diri bisa terjadi di saat seseorang mengalami depresi dan tak ada orang yang membantu.
Jika Anda memiliki permasalahan yang sama, jangan menyerah dan segera cari bantuan profesional atau layanan kesehatan terdekat
Anda tidak sendiri.
Layanan konseling bisa menjadi pilihan Anda untuk meringankan keresahan yang ada.
Untuk mendapatkan layanan kesehatan jiwa atau untuk mendapatkan berbagai alternatif layanan konseling,
Anda bisa simak website Into the Light Indonesia di bawah ini:
https://www.intothelightid.org/tentang-bunuh-diri/hotline-dan-konseling/