TRIBUNJAMBI.COM – Kabar meninggalnya seorang siswa Sekolah Dasar berinisial YBR (10) di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang diduga mengakhiri hidupnya sendiri, menggugah rasa empati banyak orang.
Bocah tersebut disebut nekat mengakhiri hidup setelah keinginannya untuk memiliki buku dan pena tidak terpenuhi.
Peristiwa memilukan ini tidak hanya menjadi duka bagi masyarakat setempat, tetapi juga menjadi peringatan keras bahwa perlindungan terhadap anak dari keluarga miskin masih jauh dari kata kuat.
Kisah ini membuka kenyataan pahit bahwa masih ada anak-anak yang menjalani masa tumbuh kembang di tengah tekanan ekonomi berat tanpa perlindungan sosial yang memadai.
Di usia yang seharusnya dipenuhi canda, pendidikan, dan rasa aman, sebagian anak justru harus memikul beban hidup yang bahkan orang dewasa pun kesulitan memahaminya.
Di lingkungan sekolah, YBR dikenal sebagai murid yang cerdas dan berperilaku jujur. Ia juga dikenal aktif dan ceria saat bermain bersama teman-temannya.
Baca juga: Pembebasan Lahan Tol Jambi-Rengat Baru 4,83 Persen, Dedy Gunawan: Pendanaan
Baca juga: Cek Bansos PKH dan BPNT Cair Februari 2026, Ada 267 Warga Batang Hari Berhenti Terima Bansos
YBR tercatat sebagai siswa kelas IV Sekolah Dasar di salah satu sekolah di Kabupaten Ngada, NTT.
Jumlah murid di kelasnya hanya delapan orang, terdiri dari lima siswa laki-laki termasuk YBR, serta tiga siswa perempuan.
“Dalam kesehariannya di sekolah, anak ini selalu tampak ceria. Di kelas dia juga termasuk pintar, jujur, dan senang bermain dengan teman-temannya,” ujar wali kelas YBR, Bonivasius Snae, seperti dikutip dari tayangan YouTube tvOneNews, Rabu (4/2/2026).
Sejak berumur sekitar satu tahun tujuh bulan, YBR tinggal bersama neneknya di sebuah pondok sederhana yang berdinding anyaman bambu.
Sang ayah diketahui merantau ke Kalimantan sekitar 11 hingga 12 tahun lalu dan tidak pernah kembali lagi ke kampung halaman.
Sementara itu, ibunya yang berinisial MGT (47) tinggal terpisah dan bekerja sebagai petani sekaligus buruh serabutan demi menyambung hidup.
Selain bersekolah, YBR sehari-hari membantu neneknya dengan berjualan hasil kebun seperti sayuran, ubi, hingga kayu bakar.
Untuk kebutuhan makan, mereka hanya mengandalkan hasil kebun seadanya, dengan pisang dan ubi yang paling sering menjadi santapan.
Nenek korban, Welumina, menuturkan bahwa cucunya dikenal sebagai anak yang patuh dan tidak pernah memperlihatkan tingkah laku yang mencurigakan sebelumnya.
Keinginan YBR sebenarnya sangat sederhana, yakni memiliki buku tulis dan pena untuk keperluan sekolah, namun permintaan itu belum dapat dipenuhi karena keterbatasan ekonomi keluarga.
“Kami selalu berusaha memenuhi kebutuhannya semampu yang kami bisa,” ucap Welumina saat ditemui TribunFlores.com, Selasa (3/2/2026).
Diduga karena merasa putus asa, bocah tersebut kemudian memilih mengakhiri hidupnya.
YBR ditemukan dalam keadaan meninggal dunia di sebuah pohon cengkeh pada Kamis (29/1/2026) siang.
Ibu YBR Kaget
MGT mengaku kaget mendengar kabar putra bungsunya meninggal dunia tak wajar.
“Saya kaget ada kabar, dari tetangga, saya pikir ada pergi sekolah,” ungkap MGT, saat dijumpai di rumah duka, Selasa.
MGT mengatakan, pagi sebelum tragedi itu, anaknya mengeluh pusing dan tidak mau berangkat sekolah.
Namun, karena tak ingin anaknya tertinggal pelajaran, MGT tetap meminta sang putra masuk sekolah.
Siang harinya, ia justru mendapat kabar duka.
Pihak kepolisian menyatakan dugaan awal mengarah pada tindakan mengakhiri hidup. Namun, proses penyelidikan masih berlangsung.
Aparat telah memeriksa sejumlah saksi dan mengamankan barang bukti berupa pesan tertulis yang diduga dibuat korban sebelum kejadian.
Polisi menegaskan pendalaman dilakukan secara hati-hati dengan mempertimbangkan kondisi keluarga dan lingkungan sosial korban.
DISCLAIMER:
Pembaca yang merasa memerlukan layanan konsultasi masalah kejiwaan, terlebih pernah terbersit keinginan melakukan percobaan bunuh diri, jangan ragu bercerita, konsultasi atau memeriksakan diri ke psikiater di rumah sakit yang memiliki fasilitas layanan kesehatan jiwa.
Berbagai saluran telah tersedia bagi pembaca untuk menghindari tindakan tersebut.
Jika Anda memiliki permasalahan yang sama, jangan menyerah dan memutuskan mengakhiri hidup. Anda tidak sendiri.
Layanan konseling bisa menjadi pilihan Anda untuk meringankan keresahan yang ada.
Untuk mendapatkan layanan kesehatan jiwa atau untuk mendapatkan berbagai alternatif layanan konseling.
Pembaca bisa menghubungi Hotline Kesehatan Jiwa Kemenkes (021-500-454) atau LSM Jangan Bunuh Diri (021 9696 9293) atau melalui email janganbunuhdiri@yahoo.com.