TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA - Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Badung mencatat, hingga awal Februari 2026, sedikitnya sudah 3.000 ton sampah laut telah ditangani di kawasan Kuta, Kedonganan, dan Jimbaran.
Jumlah sampah itu pun dinilai meningkat signifikan, karena diperkirakan sampah kiriman akan terus menepi sampai bulan Maret 2026 mendatang.
Kepala Bidang Pengelolaan Kebersihan dan Limbah B3 DLHK Kabupaten Badung, Anak Agung Dalem mengatakan lonjakan sampah laut merupakan fenomena tahunan yang terjadi pada periode September hingga Maret.
Arus laut dari wilayah barat Indonesia, seperti Jawa dan Sumatera, membawa sampah dari daerah berpenduduk padat dan kemudian terdampar di pesisir Bali.
Baca juga: 2 JENAZAH Tanpa Identitas Diberangkatkan ke RSUD Blambangan, Identifikasi Lanjut DVI Polda Jatim!
Baca juga: SOSOK Dwi Arbani Kadis LHK Pengganti Made Rentin, Koster Minta Tancap Gas Tangani Sampah di Bali!
“Setiap tahun rata-rata kita menerima sampah laut antara 4.000 sampai 7.000 ton. Tahun 2021 menjadi yang tertinggi, mencapai 7.000 ton. Saat ini saja sudah sekitar 3.000 ton yang kita tangani, dan jumlah itu masih berpotensi bertambah sampai Maret," ujarnya pada Rabu 4 Februari 2026.
Untuk menghadapi peningkatan tersebut, DLHK Badung mengerahkan 12 unit alat berat di pantai-pantai strategis guna mempercepat proses pengumpulan dan pengangkutan sampah.
Selain itu, sekitar 300–350 tenaga penyapuan dikerahkan secara rutin, dan dapat ditambah hingga 800 personel apabila kondisi semakin berat.
"Begitu sampah terdampar, langsung kita kumpulkan dan angkut keluar dari pantai. Fokus kami agar timbunan tidak menumpuk dan mengganggu aktivitas pariwisata," kata Anak Agung Dalem.
Birokrat asal Klungkung itu mengaku, komposisi sampah pantai saat ini didominasi material organik berupa kayu sekitar 70 persen, sedangkan 30 persen lainnya merupakan sampah plastik.
Sampah plastik bernilai dipilah dan disalurkan ke mitra pengolah, sementara plastik campuran dibawa ke TPA. Kayu gelondongan dipotong dan digerus menggunakan mesin wood chipper untuk dijadikan serbuk yang dapat dimanfaatkan sebagai kompos atau urugan.
DLHK Badung juga menggandeng berbagai pihak, dalam penanganan sampah pantai, mulai dari NGO lingkungan, pelaku usaha pariwisata, hingga TNI dan Polri melalui kerja sama resmi dengan Pemerintah Kabupaten Badung.
“Kami berharap kolaborasi ini terus diperkuat, sekaligus mendorong percepatan pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi (PSEL). Dengan begitu, peningkatan volume sampah laut bisa ditangani lebih optimal dan berkelanjutan," imbuhnya. (*)